Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 114


Mata Pangeran Arka melotot melihat ke arah Kania. Bukan lantaran belahan dada gadis itu yang terlihat jelas kelihatan, tetapi makhluk tinggi besar di belakang Kania.


Itu fix adalah Genderowo.....


Genderowo yang berwujud tinggi besar itu berdiri tepat di belakang Kania yang sedang asyik bermain air laut.


Menatap Kania yang bertubuh kecil dan langsing dengan tatapan berbinar. Seperti seorang yang menemukan sebuah mainan yang menarik.


Pandangan mata makhluk itu tak mau lepas dari Kania. Dia tidak menghiraukan keberadaan Pangeran Arkana yang sejak tadi melotot memperhatikan dirinya. Dia terus saja melihat kepada Kania.


"Arka,... ayolah.... apakah kau takut terhadap air..!!" ejek Kania pads Arka.


"Kania, ayo kemari..!" panggil Pangeran Arkana. "Di sana berbahaya ombaknya agak besar, nanti terseret ombak..!" ucap Pemuda itu.


Namun Kania tidak menggubris ucapan Pangeran Arkana. Gadis itu malahan asyik bermain pasir.


Tiba - tiba, Kania merasa seseorang menarik tubuhnya ke dalam air. Tentu saja Kania gelagapan karena Kania yang tidak siap, merasakan banyak air yang masuk melalui mulut dan hidungnya.


Sebenarnya, genderuwo itulah yang menarik tubuh Kania ke dalam air.


Melihat hal itu, Pangeran Arkana tak tinggal diam. Dia menyerang Genderuwo itu dengan pukulan ilmu Halilintar miliknya, sehingga membuat Genderuwo itu terlempar jauh ke laut dan tarikannya pun terlepas dari Kania.


Pangeran Arkana segera menangkap tubuh Kania yang tenggelam dan membawa tubuh Kania naik ke atas permukaan air. Terbang ke atas air dan kemudian mendarat kembali di pinggir pantai.


Tubuh Kania basah kuyup, karena habis tenggelam. Gadis itu masih berusaha untuk menahan nafas.


Kania terhenyak dan tersadar bahwa dia bukan lagi di dalam air, ketika Pangeran Arkana menyentuhnya. Gadis itu langsung menarik nafas sebanyak - banyaknya lalu menghembuskannya. Lega rasanya..


"Uhuk...uhuk....uhuk...., Terima kasih, Arka.." ucap Kania. Gadis itu berjongkok kemudian memuntahkan seluruh air laut yang tadi tak sengaja terminum olehnya.


"Arka, rasa - rasanya tadi ada yang menarik tubuhku masuk ke dalam air. Aku tak tahu itu apa, tapi rasanya aku takut sekali... " ucap Kania dengan wajah sangat ketakutan. Tubuhnya sampai gemetaran.


Mendengar itu, Pangeran Arkana langsung memeluk Kania. "Tenanglah, kamu sudah aman sekarang." ucapnya bermaksud untuk memenangkan gadis itu.


Sejenak Kania merasakan kenyamanan dan juga kehangatan berada dalam pelukan Pangeran Arkana. Rasa aman dan terlindungi, itulah yang dia rasakan saat ini. Sehingga, dia pun menjadi tenang.


"Arka, apakah kau tahu, makhluk apakah yang menyeretku ke dalam air tadi..?" tanya Kania setelah hilang rasa takutnya.


Pangeran Arkana kemudian melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu.


Kania menutup mulutnya karena kaget mendengar pemberitahuan dari pangeran Arkana. Genderuwo...? Dia di seret ke dalam air oleh mahkluk seram berbulu itu...? Hiiiii..... bulu kuduk Kania langsung berdiri.


"APA..?! Tidak... tidak lucu bercandanya, Arka. Mana ada siang hari begini genderuwo hadir. Mana di pinggir pantai lagi... " Sungut Kania tak percaya.


"Habisnya apa, dong. Terserah kamu aja, deh. Percaya, syukur, Nggak percaya juga aku nggak rugi." kata Pangeran Arkana lagi.


"Maaf, tapi aneh saja rasanya. Setahuku, genderuwo itu suka muncul pada waktu senja hari. Atau pun pada malam hari. Dan biasanya suka tinggal di pohon - pohon besar atau rumpun bambu yang rimbun." ucap Kania.


"Iya, itu kata kamu. Tapi kan, kamu tidak pernah melihat atau berhadapan dengan makhluk itu secara langsung, kan. Tapi yang kulihat tadi, adalah memang genderuwo. Masalah waktu, sekarang sudah senja, Kania. Dan untuk masalah pohon besar, di daerah ini banyak sekali pohon besar, seperti bakau atau pohon beringin pantai. Itu sudah bisa di jadikan tempat tinggal makhluk itu selain rumpun bambu." jelas Pangeran Arkana.


Kania pun diam mendengar penjelasan Pangeran Arkana. Dia baru menyadari bahwa sekarang sudah senja.


"Arka, kenapa kau tak bilang jika sekarang sudah masuk waktu senja..? Lagian, apa benar kau bisa melihat semua makhluk ghaib.?"


"Tentu saja, karena aku juga termasuk makhluk ghaib. Hanya kamu seorang yang bisa melihat kehadiranku, tapi orang lain tidak, Mereka bisa melihat kehadiranku hanya jika aku memang menginginkan .


"Kau...?" Telunjuk Kania mengarah kepada Pangeran Arkana. "Benarkah kau juga makhluk ghaib...? Lalu makhluk apa dirimu, Arka...?"


"Kalau aku bilang ke kamu sekarang, bahwa aku juga makhluk sebangsa jin, kamu percaya, nggak...?" urang vv Pangera Atkana.


Kania melongo terdiam mendengar ucapan Pangeran Arkana yang terakhir.


Jadi Arka bukan manusia tetapi golongan makhluk Allah yang lain yaitu sebangsa jin...?


Tapi tunggu dulu, bukankah makhluk jin itu wujudnya mirip Alien dengan ekor panjang dan mata merah seperti sering dia lihat dalam gambar - gambar ilustrasi dari penampakan jin di majalah atau internet.


"Aku tahu, pasti kamu heran karena membayangkan bahwa penampakan jin itu seperti alien, dengan ekor panjang, bukan..?" tanya Pangeran Arkana.


Kania melongo, Bagaimana Arka bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya.


"Tak usah heran, aku bisa membaca apa yang ada dalam pikiran orang lain. Dan aku tahu, apa yang ada dalam pikiran kamu..." ucap Pangeran Arkana.


"Aku memang berasal dari bangsa jin. Ayahku terlahir dari perpaduan manusia dan jin. Karena kakekku adalah seorang jin. Nenekku berasal dari golongan manusia. Dan ibuku juga manusia yang besar dan tumbuh di negeri jin. Tapi walaupun nenek dan ibuku berasal dari golongan manusia, darah jin yang mengalir dalam tubuhku sangatlah kental. Sehingga aku dan adikku, Haizzar, lebih banyak mewarisi sifat - sifat dari kakekku." jelas Pangeran Arkana.


Andai saja mulut Kania terbuat dari karet, sudah sejak tadi akan panjang dan lebar menganga, saking takjubnya gadis itu mendengar cerita Pangeran Arkana tentang dirinya.


"Jadi Arka, apakah memang benar kamu ini berasal dari bangsa Jin...?" Tanya Kania ingin memastikan.