Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 116 Janji Pangeran Arkana


"Kania,...! ucap ke dua roh tersebut dengan tatapan kosong.


"Kania, ...? Kenapa dengan Kania..?' tanya Pangeran Arkana.


"Tolong, tolong jaga Kania...!' ucap keduanya sambil menangis sedih.


"Nyawa Kania dalam bahaya. Kami tak bisa lagi melindunginya lagi." ucap ayah Kania.


Pangeran Arkana terhenyak. Dia bingung harus berkata apa. Lagi pula, dia tak tahu, melindungi Kania dari apa ?


"Tunggu, dulu. Apa maksudnya dengan melindungi. Maksud kalian melindungi dari apa..?" tanya Pangeran Arkana.


"Genderuwo.... Genderuwo itu.....!" jawab ayah Kania.


Pangeran Arkana ingat bahwa tadi dia melihat sesosok genderuwo yang menyeret Kania ke air. Apakah genderuwo itu yang di maksud oleh kedua orang tuanya Kania.


Tangan ayah Kania kemudian memegang tangan Pangeran Arkana. Kemudian melalui tatapan mata, Pangeran Arkana dapat melihat semua peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Dalam penglihatan Pangeran Arkana, ayah dan ibu Kania terlibat perjanjian dengan sesosok genderuwo yang mendiami Hutan Tarik.


Perjanjian antara kedua orang tua Kania dengan genderuwo itu terjadi demi untuk mendapatkan keturunan. Karena di usia pernikahan mereka yang hampir menginjak dua belas tahun, belum juga di karuniai seorang momongan.


Di sebutkan, dalam Perjanjian tersebut, bahwa jika anak yang lahir kelak seorang anak laki-laki, maka kedua orang tua Kania wajib menyediakan tumbal untuk sang Genderuwo.


Akan tetapi jika kelak yang lahir adalah anak perempuan, maka kelak sudah dewasa, anak perempuan tersebut akan menjadi istri dari genderuwo tersebut.


Demikianlah isi perjanjian tersebut. Ternyata setelah dewasa, kedua orang tua Kania mengingkari perjanjian tersebut. Sehingga genderuwo tersebut menjadi marah dan menyerang kedua orang tua Kania. Sehingga, terjadilah kecelakaan tersebut yang mengakibatkan tewasnya kedua orang tua Kania.


Pangeran Arkana mangut - manggut tanda mengerti akan situasinya. Jadi, ternyata genderuwo yang dilihat Pangeran Arkana itu adalah genderuwo yang sama yang menyerang kedua orang tua Kania.


Wahhh.... kalau begini, saingan berat Pangeran Arkana adalah sesosok genderuwo. Genderuwo yang berasal dari Hutan Tarik.


Genderuwo itu ngebet ingin menjadikan Kania sebagai istrinya karena memang sudah tercantum dalam Perjanjian. Dia merasa bahwa Kania adalah istrinya.


Setelah menceritakan semuanya kepada Pangeran Arkana, kedua orang tua Kania pun berlalu pergi. Mereka mempercayakan nasib putri mereka semata wayang kepada Pangeran Arkana, putra Pangeran Alyan yang notabenenya adalah keturunan jin.


"Arka, kamu bicara sama siapa...?" tanya Kania ketika melihat Pangeran Arkana terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang.


"Aku sedang berbicara dengan ayah dan ibumu... " jawab Pangeran Arkana.


Mendengar Pangeran Arkana menyebut ayah dan ibunya, Kania langsung shock.


Dia lupa, bahwa Arka seorang jin. Tentu saja dia bisa melihat makhluk halus dan juga roh. Dan tadi, Arka telah berbicara dengan ayah ibunya. Mereka bisa berkomunikasi dengan Arka tapi tidak denganku, Kania merasa sedih.


Rasa penasaran membuat Kania kembali bertanya. " Arka, ayah ibuku ngomong apa...?"


"Kania, kamu bicara dengan siapa, Nduk..?" tanya Bude Kasmi.


Bude Kania itu merasa heran ketika melihat Kania berbisik ke samping seperti sedang berbicara dengan seseorang akan tetapi, tak ada seorangpun yang berada di sebelah cewek itu.


"Aku bicara dengan Arka, Bude.. " jawab Kania.


"Hah, Arka. Mana...? Bude sejak tadi tak melihat siapapun di sebelah kamu, Nduk...?" ucap Bude Kasmi heran.


Kania terdiam mendengar ucapan Budenya. Dia kemudian menyadari kesalahannya, lalu berucap.


"Anu, maksudnya saya tadi menelpon Arka, Bude." ralat Kania. Hampir saja dia keceplosan mau bilang bahwa Arka sedang duduk di sebelahnya.


"Oh, Bude kira Arka ada di sini. Bude ingin kenal sama pacar kamu itu." ucap Bude.


Wajah Kania memerah mendengar ucapan budenya.


"Aish... bude. Arka itu teman aku. Masa dibilang pacar aku, sih."


"Loh, pacar juga tak apa - apa, toh. orang sama - sama masih single." ucap Bude.


Kania melirik Arka yang senyum - senyum di sebelahnya. Aduh.... dia malu sekali.


***


Pemakaman jenazah kedua orang tua Kania sudah selesai. Satu persatu para pelayat yang hadir meninggalkan tanah pemakaman yang masih berupa gundukan tanah Merah itu.


Tubuh Kania luruh di atas makam kedua orang tuanya yang di makamkan berdampingan. Tangisnya kembali pecah karena mengingat bahwa kini dia hanya tinggal sebatang kara.


Kedua orang tuanya sudah berpulang ke hadirat Ilahi. Semua ini terasa seperti mimpi buruk bagi Kania. Ingin rasanya Kania menyusul keduanya andai saja hal itu diperbolehkan oleh agama.


"Nduk, sudah ya. Ikhlaskan saja kedua orang tuamu. Biarkan mereka tenang di sana. Kamu yang sabar, ya. Jangan merasa sendiri, karena masih ada kami. Kami juga orang tuamu. Kamu bisa datang dan mengadu sama Bude, jika memiliki masalah.. " nasehat Bude.


Tangis Kania makin gencar. Tubuhnya gemetar saat memeluk Budenya. Gadis itu benar-benar terpuruk atas kehilangan ini.


Kania tersadar oleh ucapan Arka. Benar sekali. Tentunya orang tuanya akan merasa sedih dan juga semakin berat langkah yang akan mereka lalui.


Akhirnya, Kania berdiri dan berjalan meninggalkan pemakaman dengan langkah lunglai. Hampir saja gadis itu pingsan jika tidak di sanggah oleh Pangeran Arkana. Sehingga terlihat Kania yang berjalan seperti robot.


***


Malam sudah semakin larut, tapi Kania tidak bisa memejamkan matanya. Malam ini dia menginap di rumahnya ditemani bude.


Dia sudah meminta izin cuti untuk beberapa hari kepada pihak rumah sakit untuk mengurus pemakaman orang tuanya.


Pangeran Arkana juga sudah mengucapkan pamit padanya untuk kembali ke tempatnya. Tinggallah Kania seorang diri di kamar Kania.


Sebenarnya, Pangeran Arkana tak benar-benar kembali. Dia masih berada di rumah orang tuanya Kania. Hanya saja, dia tak ingin menampakkan diri di depan Kania. Pangeran Arkana memilih mengawasi Kania secara diam-diam, agar bisa menangkap genderuwo itu.


Acara tahlilan sudah lama usai. Bude mengadakan tahlilan untuk melepas ayah ibu dengan berdoa bersama untuk arwah kedua orang tua Kania.


Tiba-tiba, angin dingin bertiup agak kencang di dalam kamar Kania.


Gadis itu segera turun untuk menutup jendela yang terbuka karena angin yang bertiup tadi.


Akan tetapi, saat dia berbalik, Kania di buat sangat terperanjat dengan kehadiran sesosok makhluk tinggi besar dan berbulu hitam lebat yang berdiri tepat di belakangnya.


"Astagfirullahalazim... Allahu Akbar..!" Saking kagetnya, tanpa sadar Kania berseru mengucap istighfar dan takbir.


Makhluk itu menggeram marah ketika mendengar Kania menyerukan istighfar dan takbir.


"Kau milikku, Kania...!!" ucap Makhluk itu seraya berlalu pergi meninggalkan Kania yang ketakutan setengah mati.


Terdengar suara pintu kamar Kania yang di ketuk dari luar. Itu suara Bude Kasmi yang terbangun karena mendengar suara teriakan dan seruan Kania.


Kania bergegas membuka pintu kamar dan menghambur ke pelukan Budenya.


"Bude, ada genderuwo...!" ucap Kania dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar.


Bude Kasmi terkesiap mendengar kata - kata Kania. Dia teringat akan perjanjian antara adiknya dengan Genderuwo penghuni Hutan Tarik. Apakah genderuwo itu datang untuk menagih janjinya...?


Sementara itu, Pangeran Arkana sedang mengejar genderuwo yang tadi mendatangi Kania. Pangeran Arkana memang melihat kehadiran genderuwo itu memasuki kamar Kania. Sehingga dia segera mendatangi kamar Kania.


Genderuwo itu terlihat marah karena mendengar Kania menyebut kalimat istighfar dan tahlil. Akan tetapi, dia lebih marah lagi karena melihat kehadiran Pangeran Arkana di kamar Kania.


Pangeran Arkana langsung menyerang genderuwo tersebut dengan pukulan Halilintar miliknya. Merasa terancam karena kehadirannya diketahui oleh Pangeran Arkana, genderuwo itu pun lantas kabur melarikan diri.


Kejar - kejaran di alam ghaib pun terjadi.


"Hai makhluk terkutuk, berhenti! Jangan lari seperti seorang pengecut..!" bentak Pangeran Arkana.


Genderuwo itu kemudian berhenti dan berbalik menatap Pangeran Arkana.


"Jauhi calon istriku, atau kau akan merasakan akibatnya... " Ucap Genderuwo itu murka. Dia kemudian menyerang Pangeran Arkana dengan pukulan jarak jauh. Untung saja Pangeran Arkana sigap mengelak.


"Bagaimana kalau aku menolak. Karena Kania adalah calon istriku. Ayah ibunya telah menyerahkan Kania kepadaku..." ucap Pangeran Arkana.


Mendengar ucapan Pangeran Arkana, genderuwo itu menjadi semakin marah. Dia kembali menyerang Pangeran Arkana.


"Kau harus menerima akibatnya karena berani mengganggu milikku." kata genderuwo itu.


"Baiklah, namun sepertinya aku tak ingin bermain - main denganmu karena kekasihku itu sedang ketakutan saat ini lantaran melihat wajah jelekmu." kata Pangeran Arkana dengan senyum penuh ejekan ke arah genderuwo itu. Kemudian, Pangeran nan tampan itu lantas mengeluarkan ilmu Mata Malaikat miliknya.


Melihat hal itu, genderuwo itu pun langsung ciut nyalinya. Tahulah dia dengan siapa kini dia sedang berhadapan.


"Ampunkan hamba, Tuanku. Jangan bunuh hamba. Maafkan hamba yang bodoh karena tidak bisa mengenali lawan." ucap genderuwo itu sambil bersujud di kaki Pangeran Arkana.


Melihat lawannya sudah memohon ampun, Pangeran Arkana urung menggunakan ilmu Mata Malaikat miliknya. Pangeran tampan itu kemudian berucap.


"Baiklah, aku mengampunimu. Tapi dengan syarat kau tidak mengganggu Kania lagi. Jangan berani - berani kau menampakkan diri di hadapan kekasihku itu meskipun hanya lewat mimpi. Mengerti...! Atau aku tidak akan mengampuni dirimu untuk yang kedua kalinya..!" kata Pangeran Arkana.


"Baik, Tuanku. Hamba akan mematuhi perkataan tuanku. Terima kasih sudah mengampuni hamba.. " ucap genderuwo itu.


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang..!" kata Pangeran Arkana lagi.


Genderuwo itu melesat pergi meninggalkan Pangeran Arkana. Setelah memastikan bahwa genderuwo itu benar-benar telah pergi, Pangeran Arkana berbalik kembali menuju ke rumah orang tua Kania. Dia ingin memastikan bahwa Kania baik - baik saja.


Pangeran Arkana menarik nafas lega setelah melihat Kania yang tertidur pulas di dalam kamarnya dengan ditemani Bude Kasmi.


Pangeran Arkana tersenyum seraya mendekati Kania. Diam - diam, Pangeran Arkana mencium dahi Kania dan berucap. "Selamat malam, Kania. Tidurlah, sayang. Mulai sekarang aku akan selalu menjagamu. Itu adalah janjiku."