
Sedang mereka tengah asyik menikmati masa - masa kebahagiaan itu, tanpa mereka sadari ada bahaya yang lebih besar sedang mengintai mereka semua.
Pangeran Khalied terlihat sedang asyik bercengkrama bersama Zahra di taman bunga Eddena. Bahagia, jelas terlukis di wajah Putra Pangeran Hasyeem itu. Tiada henti wajahnya yang tampan itu tersenyum saat melihat tingkah lucu Zahra yang sedang asyik mengejar peri - peri bunga yang beterbangan di taman itu.Hatinya laksana taman bunga Eddena, penuh oleh bunga - bunga yang bermekaran. Dia bahagia, karena pada akhirnya, dia dapat bertemu kembali dengan Zahra dan dapat memadu kasih kembali bersama gadis itu. Gadis kecil yang menjadi pujaan hatinya.
Pangeran Arkana duduk berduaan dengan Kania di dahan pohon raksasa yang ada di tempat itu. Memandang ke arah Pangeran Khalied dan Zahra yang asyik berdua.
"Kania, kau tak ingin bermain bersama Zahra..?" tanya Pangeran Arkana pada Kania yang sejak tadi senyum - senyum sendiri melihat kemesraan Pangeran Khalied dan Zahra.
Kini Zahra terlihat sedang bermain bersama kupu - kupu dan juga para peri daun. Sementara Pangeran Khalied sedang berjalan - jalan di sekitar tempat itu sambil mengawasi keadaan.
"Aku... aku sedang malas bermain. Karena aku sedang merindukan tempat asalku. Apa kau tidak merindukan kampung halamanmu, Arka..?"
"Aku..? Tentu saja aku merindukan kampung halamanku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu ibuku. Aku amat merindukan ibuku, dan juga sanak saudaraku. " jawab Pangeran Arkana.
"Ibumu pastilah wanita yang sangat cantik...?? " puji Kania mengenai ibu Pangeran Arkana.
"Iya, ibuku memang sangat cantik. Namun percayakah kamu jika kukatakan bahwa Ibuku itu sebenarnya berasal golongan manusia juga.." jelas Pangeran Arkana.
Mata Kania membelalak tak percaya. "Benarkah...? " ucapnya dengan nada keheranan. Kania baru tahu, bahwa ibu Pangeran Arkana adalah manusia juga seperti dirinya.
"Nama ibuku adalah Aluna. Kau pasti tak akan percaya, ibuku masih hidup sampai saat ini. Insya Allah, jika Tuhan masih mempertemukan kita setelah keluar dari tempat ini, aku akan membawamu menemui ibuku. Akan aku perkenalkan kamu kepada beliau. Itupun jika kamu berkenan. Pasti ibuku akan senang saat berkenalan denganmu.. "
"Sepertinya menarik, Arka. Aku mau..." jawab Kania dengan bersemangat.
Pangeran Arkana tersenyum saat mendengar jawaban Kania.
Kembali Kania menoleh ke arah kedua pasangan di bawah sana karena mendengar jeritan Zahra yang ketakutan.
Ternyata Zahra menjerit ketakutan karena melihat seekor ulat bulu yang berukuran cukup besar bercokol di daun bunga matahari.
Zamura yang sejak tadi mengawasi keadaan dari arah pantai sempat kaget saat mendengar jeritan Zahra.
Zamura bergegas mendatangi Zahra. Begitu pun Pangeran Khalied. Pangeran itu bahkan berlari seperti kilat karena sangat khawatir mendengar jeritan kekasihnya.
Setelah mengetahui penyebab Zahra menjerit ketakutan, Pangeran Khalied pun merasa lega.
" Terima kasih, Zamura. Hari ini kamu sudah menolong kekasih ku. " ucap Pangeran Khalied dengan tulus.
"Hmm, aku mengerti. Semoga kita menjadi keluarga yang selalu harmonis dan dirahmati Allah.. "
"Amin... " jawab Zamura.
"Ngomong - Ngomong, aku masih penasaran, Zamura. Dari mana kamu tahu tentang kelemahan Bluma." tanya Pangeran Khalied orang lain..
"Hmmmb Seorang teman memberitahukan kepadaku... Tapi aku rasa, dia tak ingin namanya diketahui oleh khalayak ramai." ucap Zamura.
"Baiklah kalau begitu. Aku menghargai privasi kamu. Jika memang temanmu itu tak ingin menyebutkan jati dirinya, ridak apa - apa." jawab Pangeran Khalied.
Dia kembali meneruskan kegiatannya untuk berkeliling sambil melihat - lihat situasi. Dia berharap menemukan jalan lain keluar dari pulau ini ataupun petunjuk lain mengenai keberadaan pedang mata Malaikat.
Sedang asyik termenung, Pangeran Khalied tak menyadari bahwa sebuah bayangan hitam besar sedang merayap mendekati tempat itu.
Perlahan-lahan, bayangan hitam besar itu berjalan makin mendekati tempat Pangeran Khalied dan Zahra berada.
Pangeran Khalied masih juga belum menyadari akan bahaya yang semakin dekat mengintai.
Zamura lah yang pertama kali menyadari akan keberadaan bahaya di sekitar tempat itu. Secepat kilat, dia mendekat ke arah bayangan hitam yang kini sudah bergerak semakin cepat menuju ke arah Pangeran Khalied yang sedang berjalan - jalan mengawasi sekeliling tempat itu.
"Tuanku , Awas di belakang...!!!" seru Zamura sambil berlari mendatangi Pangeran Khalied.
"apa yang terjadi...?" tanya Pangeran Arkana saat melihat Zamura berlari cepat ke arah Pangeran Khalied.
Dia pun kemudian melesat secepatnya mendatangi arah Pangeran Khalied berada.
Pangeran Khalied yang mendengar seruan Zamura serentak menoleh ke belakang.
Benar saja, seekor ular besar sedang berdiri memandang ketiga makhluk jin itu dengan pandangan berkilat - kilat.
"Nagini.....! itu Nagini....!!" seru Zamura sambil menghunus pedangnya.
Demikian juga Pangeran Khalied dan Pangeran arkana. Kini ketiga makhluk itu berhadapan langsung dengan ular besar dan panjang, Nagini.