
Zaddak memandang lekat ke arah pemuda gagah yang berada di sebelah Pangeran Arkana. Pemuda itu mengingatkan dirinya akan seseorang.
"Jika aku tak salah lihat, Anda pasti putra Pangeran Hasyeem."
"Benar sekali, tuan. Namaku adalah Khalied. Aku adalah paman dari Pangeran Arkana."
"Astaga, mimpi apa aku semalam. Aku sungguh tak menyangka akan kedatangan seorang tamu agung. Perkenalkan, hamba adalah Zaddak. Hamba adalah saudara dari Putri Ambika. Istri dari Kakak Anda Yaitu Pangeran Azzura."jawab Zaddak Sambil menunduk hormat kepada Pangeran Khalied.
"Bangunlah, tak perlu merasa sungkan padaku. " ucap Pangeran Khalied.
Zaddak kemudian bangun dan mempersilahkan ke-lima tamunya itu masuk ke kediamannya.
"Terima kasih, Zaddak. Oh, iya. Kenalkan, ini adalah Zahra. Dia adalah kekasihku.. " Pangeran Khalied memperkenalkan Zahra kepada Zaddak dan seluruh keluarganya.
"Selamat datang, di tempat kami. Pangeran Khalied dan Zahra. Semoga saja kalian senang dengan keadaan di sini." ucap Zaddak mempersilahkan Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana untuk masuk ke dalam.
Zahra merasa takjub melihat semua orang yang ada di tempat ini. Mereka memang berwujud manusia, tapi manusia harimau. Karena wajah mereka semua mirip wajah harimau.
Pangeran Arkana memang sengaja mengajak pamannya itu berkunjung ke tempat Zaddak.
Dia ingin memperkenalkan pangeran Khalied kepada Zaddak. Karena sebenarnya, mereka masih memiliki keluarga di dimensi ini. Tentang cerita bagaimana Zaddak bisa sampai ke dimensi ini, itu masih menjadi pertanyaan di hati kedua pangeran itu.
Terlihat Kania dan Zahra yang sedang bercanda dan bermain bersama dengan anak - anak dan anggota keluarga Zaddak yang Keseluruhannya adalah manusia harimau.
Zahra tampaknya mulai bisa menerima keanehan dari raut wajah teman barunya dan sepertinya dia tidak lagi mempersoalkan perbedaan atau pun keanehan - keanehan makhluk yang hidup di dimensi ini.
Mungkin lantaran sudah terbiasa dengan keanehan dan juga hal + hal aneh yang terjadi selama perjalanan mereka.
"Tuan, maksud kedatangan kami kemari adalah hendak menanyakan sesuatu." ucap Pangeran Arkana. Saat ini mereka sudah berada di tempat kediaman Zaddak.
kening Zaddak berkerut mendengar ucapan Pangeran Arkana.
"Apakah, itu, tuan...?" tanya Zaddak. Matanya tajam menatap lawan bicaranya. Mendengarkan dengan seksama apa yang akan Pangeran Arkana ucapkan.
"Pamanku ini sudah berhasil mendapatkan pedang Mata Malaikat dan juga kedua senjata pusaka lainnya." jelas Pangeran Arkana.
Mata Zaddak membulat sempurna mendengar keterangan yang diberikan oleh Pangeran Arkana. Benarkah Pangeran muda putra dari Pangeran Hasyeem itu berhasil mendapatkan pedang Mata Malaikat yang tersohor itu. Lantas bagaimanakah rupanya bentuk Pedang Mata Malaikat itu.
Rasa penasaran dan keingintahuan membuat Zaddak memberanikan diri untuk bertanya...
"Benarkah, bolehkah hamba melihatnya, tuan..?" tanya Zaddak.
Pangeran Arkana memandang ke arah Pamannya. Kemudian Pangeran Khalied mengangguk memberi kode kepada pangeran Arkana bahwa dia bersedia memperlihatkan pedang Mata Malaikat itu kepada Zaddak.
Pangeran Khalied lalu mengulurkan tangannya.
Kemudian dalam sekejap saja pedang Mata Malaikat itu sudah berada dalam genggaman tangannya.
"Zaddak, inilah pedang mata Malaikat yang selama ini di cari - cari dan menggemparkan jagat raya ini." ucap Pangeran Khalied sambil memperlihatkan pedang mata Malaikat itu kepada Zaddak.
Mata Zaddak tak berkedip memandang ke arah pedang Mata Malaikat yang kini sudah berada di tangan Pangeran Khalied.
"Tuan, benarkah ini adalah pedang Mata Malaikat yang melegenda itu...?" tanya Zaddak ingin tahu.
"Benar sekali. Tapi mengapa pandangan kamu terlihat begitu aneh saat melihat pedang ini..?" tanya Pangeran Khalied.
"Tuan, pedang ini,....pedang ini, mengapa terbuat dari kayu, tuanku..." Tanya Zaddak tak mengerti.
"Itulah kita sebagai makhluk yang hidup di dalam alam dunia, hanya menilai apa yang dilihat oleh mata saja tanpa melihat kedalam hati nurani." ucap Pangeran Khalied.
Zaddak mangut - mangut tersipu malu ketika mendengar Pangeran Khalied berkata seperti itu. Dia merasa disentil oleh ucapan Pangeran Khalied
Hati nurani manusia selalu menyuarakan kejujuran. Itu adalah hal yang tak bisa dipungkiri.
"Pedang Mata Malaikat memang terbuat dari kayu. Kayu adalah perlambang kesederhanaan, kayu berasal dari tumbuhan. Filosofinya tumbuhan adalah kesederhanaan namun memiliki banyak manfaat. Kayu juga melambangkan kerendahan hati dan juga kebijaksanaan pikiran manusia. Itulah sebabnya, Malaikat yang bijaksana kemudian memutuskan untuk membuat Pedang Mata Malaikat dari bahan pohon Khuldi. Pohon Kayu yang tumbuh di surga namun buahnya terlarang di makan oleh adam dan hawa, juga oleh penghuni surga yang lain." jelas Pangeran Khalied kepada Zaddak.
Zaddak semakin kagum dengan sosok Pangeran Khalied. Pancaran keagungan dan kharisma seorang raja, melekat kuat dalam diri pemuda itu. Apakah dia mewarisi kharisma sang Ayah..?
"Tapi mengapa banyak orang yang gagal mendapatkan pedang tersebut..?" tanya Zaddak.
"Itu karena pedang itu tersembunyi dengan rapi di dalam tubuh Nagini." jawab Pangeran Khalied.
Zaddak terperangah tak percaya, mendengar keterangan Pangeran Khalied.
"Nagini...? Ular penunggu Gunung Tengkorak..? "
" Iya, Nagini. Nagini adalah jelmaan pedang Mata Malaikat. Selama ini, tak ada seorang pun yang berhasil mengalahkan Nagini, karena keperkasaan ular tersebut sungguh sangat melegenda." ucap Pangeran Khalied.
Zaddak manggut - manggut mendengar penjelasan Pangeran Khalied. Pantas saja orang tak bisa mengalahkan nagini, karena rupanya, pedang itu sendiri menjelmakan dirinya sebagai Nagini."
****
Rombongan kecil itu memutuskan untuk menetap sementara di tempat Zaddak. Mereka ingin mencari informasi mengenai jalan pulang kembali ke dunia nyata melalui ramalan Zaggard.
Siapa tahu saja, di balik ramalan Zaggard ada informasi mengenai bagaimana cara kembali ke alam dunia tempat Kania dan Zahra berada. itu dulu yang utama.
Saat ini, Pangeran Arkana dan pangeran Khalied sedang berada di dalam gua tempat ramalan Zaggard berada.
"Anda juga berhasil mendapatkan pusaka kristal arwah, Tuanku." ucap Zaddak. ketika matanya tak senjata melihat senjata itu menyembul keluar dari baju Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied menghela nafas sebelum kemudian pemuda itu berbicara.
" Aku memang berhasil mendapatkan ketiga pusaka itu, Zaddak. Tapi mengapa portal yang dulu pernah membawa kami ke tempat ini, belum juga terbuka." ucap Pangeran Khalied dengan mata yang menerawang jauh.
Di lihatnya Zahra dan Kania yang sedang berbincang-bincang di luar sana. Dia mengawasi Zahra, kekasih hatinya itu dengan perasaan sedih.
Dia tahu, jauh di hati kekasihnya itu, betapa Zahra sangat merindukan ibunya.
"Pasti ada sesuatu yang terlewatkan. Tak mungkin portal itu tak bisa terbuka. Jika seandainya tidak bisa terbuka, minimal dia bisa mendapatkan informasi tentang kotak ajaib yang bisa membuka sebuah pintu seperti pintu doraemon tersebut.
" Paman, seperti nya aku sudah menemukan jawabnya...! " seru Pangeran Arkana.
"Benarkah, bagian mana, Pangeran..?" tanya sang Pangeran sambil melihat ke arah Pangeran arkana.
"ini...!, di sini tertulis, bahwa akan datang lima bintang dari langit. Lima bintang si pembawa bintang pengetahuan yang akan membuka segel Dunia.."
Pangeran Arkana menatap Pangeran Khalied dengan pandangan heran.
"Pangeran, dari mana kamu mendapatkan pengetahuan untuk membaca huruf piktogram di dinding gua ini..? " selidik pangeran Khalied.
"Zaddak yang mwngajari aku, paman..! ucap pangeran Arkana.