
Zahra yang sedang berada dibawah kendali arwah penasaran Bu Amalia menyerang Embu Kanti dengan pukulan tenaga dalam sehingga keduanya terlihat bertarung dan adu tenaga dalam.
"Mampuss kau wanita penyihir....!" bentak Zahra sambil menyerang Embu Kanti.
Namun, Embu Kanti bukanlah sembarangan paranormal. Kemampuan wanita itu dalam dunia supranatural sudah malang melintang dia lalui. Untuk ancaman seperti itu saja, dianggapnya sebagai hal yang biasa saja.
Dengan mudahnya, serangan Zahra dapat dia patahkan. Melihat serangannya tak berhasil, arwah penasaran itu mencoba cara lain.
Kali ini, arwah penasaran itu meneror Embu Kanti dengan cara menakut - nakuti dan menjatuhkan mental wanita itu.
Tubuh Zahra yang sudah dirasuki oleh arwah Bu Amalia terangkat naik ke atas langit - langit. Berputar - putar dan kemudian dengan cepat berbalik sehingga sekarang kaki Zahra berada di langit - langit rumah. Sedangkan kepala gadis itu berada di bawah.
"Perempuan penyihir, hi..hi..hi.... kekuatan kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatanku. Lebih baik kau segera angkat kaki dari tempat ini jika masih ingin hidup...!" kata Arwah Bu Amalia.
"Astagfirullahal adzim, keterlaluan sekali. Kau ingin memperlihatkan kesombonganmu. Hai iblish terkutuk. Baik, aku akan melayanimu sekarang." kata Embu Kanti.
Selesai berkata demikian, Embu Kanti kemudian membacakan beberapa mantra untuk mengikat sukma Bu Amalia.
"Wahai sukma Amalia, Wahai sukma yang bebas, aku mengikatmu dengan tali jiwa agar tak lagi menggangu dan menyakiti orang lain.
"Wahai sukma Amalia, Wahai sukma yang bebas, aku mengikatmu dengan tali jiwa agar tak lagi menggangu dan menyakiti orang lain"
Embu Kanti terus menerus mengulang mantra tersebut sambil tak lupa wanita itu mengeluarkan ilmu kanuragan miliknya.
Arwah penasaran Bu Amalia berontak karena tak ingin di ikat dan di kendalikan. Maka terjadilah tarik menarik kekuatan antara Arwah penasaran Bu Amalia dengan Embu Kanti.
Rupanya benarlah kata Arwah penasaran itu. Kekuatan Embu Kanti memang tak bisa menandingi kekuatan Arwah penasaran Bu Amalia yang sudah dirasuki dendam kesumat terhadap suaminya.
Maka dalam sekali gebrakan saja, Embu Kanti terlempar dan mantranya pun terlepas. Begitu mantra Embu Kanti terlepas, secepat kilat tubuh Zahra melayang dan mencekik Embu Kanti dengan sekuat tenaga.
Mata Embu Kanti melotot keluar dan wajahnya membiru karena cekikikan Zahra di lehernya. Zahra yang sudah dirasuki oleh Arwah penasaran Bu Amalia tanpa sadar sudah menyerang Embu Kanti.
Wanita itu pun akhirnya jatuh terkulai kehabisan napas dengan leher membiru dan mata yang melotot keluar.
Arwah Bu Amalia tertawa cekikikan karena sudah berhasil mengalahkan Embu Kanti.
"Mampus.. kau perempuan penyihir. Aku sudah bilang... kau bukan tandinganku. Sekarang, rasakan akibatnya...!
Melihat Embu Kanti tewas di tangan Zahra, Bahar bermaksud untuk kabur melarikan diri. Akan tetapi, niatnya sudah tercium oleh Arwah Bu Amalia.
Arwah Bu Amalia langsung berdiri di hadapan Bahar. " Mau lari kemana, Bahar. Kau harus mempertanggung jawabkan semua dosa - dosamu. Kau harus mati...!! Kau harus mati, Bahar..!" kata Arwah Bu Amalia.
"Tidak...!! Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati...! Pergi.. pergi kau...!!" teriak lelaki itu bagaikan orang kesurupan.
Matanya menatap nanar kepada Zahra yang terulur hendak mencekiknya.
"Zahra, sadarlah. Kau harus melawan Arwah Bu Amalia. Jangan biarkan Arwah itu merasuki dirimu semakin jauh.!" seru Pangeran Khalied.
"Tolong... Setan.. ada setan...!" Teriak Bahar sambil berusaha kabur keluar rumah.
Namun, semua pintu rumah seolah-olah sudah terkunci. Sehingga, Bahar hanya bisa berteriak-teriak minta tolong. Namun tak seorangpun tetangganya yang mendengar teriakan Bahar. Karena di saat yang bersamaan, hujan badai turun menampar bumi. Suara Bahar tenggelam dalam gemuruh badai yang datang melanda.
"Hi.. hi.. hi..., matilah kau, Bahar. Kau harus mengikuti aku karena kau pernah berjanji, untuk selalu setia kepadaku. Tapi ternyata kamu sendiri yang mengkhianati dan membunuhku. Maka dari itu, kau pun harus mati..! Harus mati...!! "
Zahra melesat terbang menghampiri Bahar dan mencengkram leher lelaki yang tak tahu diuntung itu. Mencekiknya sekuat tenaga sehingga lelaki itu mengalami kesulitan untuk bernafas.
Disaat-saat yang genting itu, sekelebat bayangan bergerak cepat menghentikan Zahra. Tampak sebuah benda sebesar kelereng berkilauan terbang di sekitar Zahra.
Rupanya di saat - saat yang genting seperti itu, Pangeran Khalieed menggunakan bola kristal arwah untuk menahan dan memasung arwah Penasaran Bu Amalia.
Bola kristal arwah itulah yang kemudian menahan dan memasung roh Bu Amalia.
Zahra jatuh terkulai dan kemudian tak sadarkan diri.
Demikian juga halnya dengan Bahar, lelaki itu pun jatuh terduduk dan diam ditempatnya tak berkutik lagi.
Setelah itu, Pangeran Khalied kembali lagi terlibat pertarungan sengit dengan Jin Ifrit yang merasuki Arwah Bu Amalia.
Berkali-kali, Pedang Pangeran itu berhasil mengenai Jin Ifrit tersebut. Memang, Jin Ifrit adalah jin yang terkenal kuat dan memiliki kesaktian yang hebat.
Walaupun sudah berulang kali terkena sabetan pedang Mata Malaikat, namun tak mampu melukai Jin tersebut.
Pangeran Khalied berhenti sejenak. Mengapa Jin itu tidak bisa dia lukai. Pasti ada yang salah dengan semua ini. Pangeran Khalied merasa ada sesuatu yang hilang.
Astaghfirullah....
Pangeran Khalied lupa satu hal. Yang dia hadapi adalah Jin Ifrit.
tentu saja dia tak akan bisa melukai Jin tersebut jika dia tak mengucap lafaz ayat-ayat suci Al-Quran dalam al-quran. Terutama sekali adalah ayat Kursi. Ayat yang merupakan senjata terampuh untuk mengalahkan Jin ifrit.
Tanpa membuang waktu lagi, segera saja Pangeran Khalied membacakan ayat Kursi dan meniupkan pada ujung pedangnya.
Pedang Mata Malaikat kembali lagi meminta korban. Jin Ifrit itu pun akhirnya tumbang dengan tubuh terbakar oleh sabetan pedang Mata Malaikat milik Pangeran Khalied.
Setelah itu, Pangeran Khalied melesat terbang menuju ke tempat di mana jasad Ibu Amalia tergeletak.
Jasad wanita malang itu sudah nyaris membusuk karena tidak ada yang menemukannya.
"Aku membebaskan dirimu wahai ruh suci yang dulu menghuni jasad ini. Pergilah dalam damai. Aku akan segera mengurus jasadmu." kata Pangeran Khalied.
Kemudian, Pangeran Khalied membebaskan arwah Bu Amalia yang tadi di pasung oleh Bola Kristal Arwah.
Ruh Bu Amalia melesat terbang ke langit setelah mengucapkan terima kasih kepada pangeran Khalied.
Sepeninggal Ruh Bu Amalia, Pangeran Khalied muncul dan menampakkan diri dalam wujud seorang pemuda. Pemuda itu segera mendatangi beberapa orang yang sedang mencari kerang dan kepiting di pinggir pantai.
"Tolong....tolong...ada mayat. Tolong ada mayat...!" seru Pemuda itu.
Segera saja, orang - orang pada berdatangan ke tempat itu. Mereka amat terperanjat karena memang benar apa yang dikatakan pemuda itu, ada sesosok mayat seorang wanita yang keadaanya sudah mulai membusuk.
Tak butuh waktu lama, polisi segera datang ke tempat itu. Setelah identifikasi selesai, mereka kemudian mengevakuasi mayat tersebut ke rumah sakit untuk dilakukan Visum.
Pangeran Khalied tersenyum lega dan kemudian Pergi dari tempat itu secara diam - diam.
Pangeran Khalied kembali mendatangi Zahra yang masih belum sadarkan diri dari pingsan.
Dengan bantuan Bola Kristal arwah, Pangeran Khalied menghidupkan kembali Embu Kanti. Karena memang, kematian wanita itu belumlah sampai pada waktunya.
"Terima kasih, atas pertolongan anda, tuan.." kata Embu Kanti.
"Oh, rupanya kau bisa melihat kehadiranku ternyata." Kata Pangeran Khalied.
"Aku bisa melihat bangsamu. Tapi aku tak akan bicara pada siapapun mengenai dirimu. Aku juga akan menyimpan rahasia kalian berdua." ucap Embu Kanti.
"Kau tahu..?" tanya Pangeran Khalied.
"Hanya orang bodoh yang tidak tahu, jika seorang pria sampai mau berkorban apa saja, itu tandanya pria itu mencintai wanita itu dengan tulus. Aku tahu, anda mencintai gadis itu, bukan." tanya Embu Kanti lagi.
Pangeran Khalied hanya tersenyum mendengar pertanyaan Embu Kanti.
Kemudian, dia segera mengangkat tubuh Zahra dan melesat terbang meninggalkan rumah Bu Amalia.
Embu Kanti tersenyum seraya menarik nafas dalam. Begitulah cinta.. tiada memandang asal usul penciptaan. Seorang Jin bisa saja mencintai seorang manusia. Dan hari ini dia menyaksikannya sendiri.
Embu Kanti akhirnya pergi meninggalkan rumah Ibu Amalia. Meninggalkan Bahar yang masih belum sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian, beberapa orang polisi mendatangi rumah Ibu Amalia. Mereka mendapati Bahar yang baru sadar dari pingsannya. Polisi segera membekuk lelaki itu untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.