
Pangeran Khalied dan Zahra berbalik dan melihat seorang laki-laki yang sedang menatap ke arah mereka.
"Ayah...!?" kata Pangeran Khalied .
"Hah...??? "
"Zahra, perkenalkan ini ayahandaku, Pangeran Hasyeem. Raja istana Bukit Malaikat." Kata Pangeran Khalied seraya menarik tangan Zahra untuk bertemu dengan ayahnya, Pangeran Hasyeem.
Zahra sungguh-sungguh tak menyangka bahwa ayahanda Pangeran Khalied sangatlah tampan. Dalam bayangan dirinya, pastilah seorang raja itu tua, dan juga dingin serta angkuh dan arogan.
Namun, hal ini jauh dari ekspetasi Zahra. Pangeran Hasyeem, ayah dari Pangeran Khalied, justru masih muda dan tampan. Sehingga apabila berjalan bersama orang akan sulit untuk membedakan yang mana ayah yang mana anak. Keduanya bagaikan kakak beradik.
"Ayah, perkenalkan ini Zahra, dia adalah temanku." kata Pangeran Khalied kepada ayahnya.
Pangeran Hasyeem tersenyum maklum sambil mengulurkan tangan bermaksud hendak bersalaman. Namun diluar dugaan, ternyata gadis itu malah mencium tangannya dengan takjim.
Pangeran Hasyeem ingat, begitulah sopan santun di kalangan manusia. Mencium tangan kepada orang yang lebih tua sebagai tanda hormat atau bakti.
"Zahra, wahh... sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Pangeran Khalied sering kali menyebutkan nama itu di sini." Pangeran Hasyeem bermaksud untuk menggoda putranya.
Namun justru Zahra yang merasa malu dan salah tingkah.
"Astaga...Ayahanda, tolong jangan di bongkar di sini. Aku jadi malu..!" kata Pangeran Khalied.
"Wah... istana ini kedatangan seorang tamu rupanya.! Tamu yang sangat cantik." seorang wanita cantik muncul dari dalam bilik istana di ikuti oleh beberapa wanita lain yang berjalan di belakangnya.
Untuk sejenak, Zahra merasa dejavu. Dia seperti pernah mendengar suara itu. Tapi kapan, Zahra tak ingat lagi.
"Siapa gadis ini, Pangeran Khalied...?" Wanita cantik itu kemudian bertanya kepada Pangeran Khalied.
"Ibunda ratu, perkenalkan, ini adalah Zahra, temanku." kata Pangeran Khalied kepada wanita itu.
Zahra memandang wanita itu dengan pandangan takjub. Jadi wanita yang berdiri dihadapannya ini adalah ibunya Khalied. Khalied pernah bilang, jika ibunya itu adalah manusia asli. Tapi Zahra tak pernah menduga bahwa wanita itu akan secantik ini.
"Zahra, kenalkan ini ibundaku, Ratu Asmi. Ratu istana ini.." kata Pangeran Khalied.
Zahra kemudian tersadar dari keterpakuannya dan tersipu malu. Gadis itu langsung bergerak maju dan mencium tangan Asmi.
"Namaku, Zahra, ibu ratu." kata Zahra sambil menunduk takjim.
"Manis sekali..! Ternyata, ayah dan putranya sama saja. Dari Pangeran Alyan hingga adiknya, semua menyukai bangsaku.." guman Asmi dalam hati.
Pangeran Hasyeem dan Pangeran Khalied tersenyum mendengar gerutuan Asmi. Karena Ayah dan anak tersebut bisa membaca isi hati orang lain, maka mereka berdua tahu apa isi hati ratu Asmi.
"Ayo, kita ke taman saja. Sekarang sore hari. Pastinya akan amat menyenangkan jika bermain - main di sana." kata Ratu Asmi. Wanita itu kemudian berjalan menuju ke taman yang terletak di belakang istana. Di iringi oleh dayang - dayang istana.
Zahra memandang kepergian Ratu Asmi dengan pandangan kagum dan juga takjub.
"Zahra, kenapa melamun..?" tanya Pangeran Khalied.
"Aku...?" ahh... tidak. Aku hanya... merasa senang saja. Entahlah, seperti aku merasakan bahwa aku bahagia bisa kembali ke tempat ini. Padahal, aku kan belum pernah ke tempat ini." kata Zahra.
"Kau pernah ke tempat ini, Zahra...!" kata Pangeran Khalied dalam hati.
"Ayo kita menyusul Ibu Ratu..!" ajak Pangeran Khalied.
Malu - malu Zahra menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Pangeran Khalied pun balas tersenyum. Hatinya turut merasa gembira melihat senyum di wajah Zahra.
"Apa kau senang...?" Tanya pangeran Khalied saat melihat mata Zahra yang tak berkedip ketika memandang keindahan taman istana Bukit Malaikat yang ada di depannya.
"Kak Khalied, katakan padaku, apakah aku pernah ke tempat ini sebelumnya.?" tanya Zahra kemudian.
Pangeran Khalied menatap Zahra dan kemudian meraih tangan gadis itu.
"Apakah kau ingin tahu kebenarannya..?" tanya Pangeran Khalied.
Zahra kemudian balas menatap kepada Pangeran yang tampan itu. "Ceritakan kepadaku, Kak..!" kata gadis itu lagi.
Pangeran Khalied ketika menatap Zahra.
Zahra ketika menatap Pangeran Khalied
"Iya, kau pernah ke tempat ini." Kata Pangeran Khalied.
"Sekarang tatap mataku..!" Perintah Pangeran Khalied.
Zahra menatap mata indah Pangeran Khalied. Kemudian, gambaran demi gambaran perjalanan mereka semenjak dari markas si Codet, perjalanan mereka di dimensi ke empat hingga sampailah Zahra ke istana Bukit Malaikat dan pertempuran di Bukit Malaikat yang berakhir dengan tewasnya Zahra dalam peristiwa itu. Semua itu terlihat jelas bagaikan rekaman video yang kemudian diputar kembali. Begitu nyata dan jelas.
Mulut Zahra terbuka lebar. Berkali-kali gadis itu memekik tertahan dan berucap subhanallah..
Mimpi itu ternyata adalah nyata. Selama ini, setiap malam Zahra selalu bermimpi yang sama. Ternyata itu bukan sekedar mimpi. Zahra benar - benar pernah mengalaminya.
Bahkan perasaannya kepada Khalied. Itu adalah perasaan yang nyata. Dia dan Khalied adalah sepasang kekasih.
"Kau sudah mengingat semuanya..?" tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.
"Kak Khalied, ... kita.. bagaimana bisa kita sampai di sini." tanya Zahra yang tak habis pikir bagaimana bisa semua itu terjadi.
"Aku memutar waktu kembali ke masa sebelum kejadian itu karena ada satu hal yang aku tak bisa lakukan di masa sebelumnya." kata Pangeran Khalied.
"Apakah itu, Kak..?" tanya Zahra.
"Menyelamatkan ibumu. Hal yang tak sempat aku lakukan saat itu adalah menyelamatkan ibumu. Maka aku memilih waktu sebelum mengenal dirimu untuk kembali lagi menyelamatkan ibumu. Karena aku tak sanggup melihat duka di matamu saat kau mengetahui akan berita kematian ibumu."
Zahra menangis mendengar hal itu. Ternyata di kehidupannya yang lain, dia harus kehilangan ibunya. Demi menyelamatkan ibunya, Khalied rela harus kembali memutar waktu. Walaupun itu berarti harus ditebus dengan dia harus menjalani kehidupan kembali dari awal lagi.
Zahra luruh dalam pelukan Pangeran Khalied. Berkali-kali kata terima kasih terucap dari bibirnya.
Sekali lagi, pemuda bermata aneh itu menyelamatkan dirinya dari derita kehilangan seorang Ibu. Benar - benar suatu pengorbanan yang besar. Membuat Zahra yakin, seyakin - yakinnya bahwa cinta Khalied begitu besar untuk dirinya.
"Apakah kau sudah mengingat semuanya. Aku mencintaimu, Zahra. Apakah kau ingat itu semua...?" tanya Pangeran Khalied.
"Hmm... aku tak tahu, tapi satu yang pasti, aku bisa merasakan ada perasaan yang kuat dalam diriku untukmu, Pangeran Khalied... " kata Zahra.
"Pangeran Khalied...?" tanya Pangeran Khalied bingung. Kini Zahra memanggilnya dengan panggilan itu.
"Bukankah itu namamu, Kakak..? " kata Zahra sambil tersenyum. Diam - diam, Zahra mencium pipi pangeran Khalied.
"Terima kasih karena sudah mencintaimu diriku.. Aku juga cinta kamu, kakak... "