
"HAH, Astaghfirullah.... kenapa tak menelponku, sih....?" ucap Kania.
Pangeran Arkana garuk - garuk kepala yang tak gatal. Dia lupa satu hal, kalau hidup di dunia manusia, dia harus berkenalan yang namanya Telepon.
"Aku tidak punya benda seperti itu. Di negeriku, kami tidak berkomunikasi dengan benda seperti itu." jawab Pangeran Arkana jujur.
Kania melongo mendengar jawaban Pangeran Arkana. Bagaimana mungkin di zaman modern ini ada sebuah negeri yang tidak mengenal alat komunikasi tercanggih saat ini.
"Astaga, Arka... jadi bagaimana caranya aku bisa menghubungimu...?" tahya Kania lagi.
Kembali Pangeran Arkana bingung. Bagaimana caranya...?
"Itu gampang saja, sebut saja namaku tiga kali, maka aku akan datang padamu.. " jawab Pangeran Arkana.
"Semudah itu...?" tanya Kania tak yakin.
"Iya, begitu saja. Apa susahnya. Kamu hanya tinggal menyebutkan namaku saja." jawab Pangeran Arkana.
"Oke, baiklah. Akan kuingat itu..." ucap Kania.
Pangeran Akrana tersenyum mendengar perkataan Kania.
Kania menarik lengan Pangeran Akrana dan mengajaknya duduk di salah satu bangku yang ada di taman.
"Mari duduk di sini. Aku ingin mendengar kabar darimu. Oh iya, bagaimana kabarmu keluargamu, Arka...?" tanya Kania berbasa-basi.
Sejujurnya, Kania justru merindukan wajah lelaki itu. Wajah yang tak kebanyakan orang Indonesia memilikinya. Dia juga amat menyukai mata itu. Bagaimana mungkin ada makhluk yang memiliki mata berwarna kuning terang seperti itu. Sungguh benar-benar unik dan indah.
"Alhamdulillah, mereka semua baik - baik saja. Aku bertemu kembali dengan kecerewatan dan keganasan ibuku. Bagaimana kabar keluargamu. Apakah mereka tidak merasa kehilangan dirimu..?" jawab Pangeran Arkana.
"Aku ...? Tidak. Aku hanya bilang banyak pasien yang membutuhkan bantuan. Lagi pula, aku hanya tidak pulang pada malam harinya saja. Sedangkan pagi harinya aku sudah kembali pulang dan beristirahat. Jadi, aku aman dan baik - baik saja. Tapi, terima kasih karena sudah bertanya." ucap Kania panjang lebar.
Hening...suasana kembali hening setelah Kania menjawab pertanyaan Pangeran Arkana.
Keduanya insan berlainan alam itu saling diam membisu. Kehilangan topik obrolan.
Kania kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone. Wanita itu mengecek pesan yang masuk melalui whatsapp sambil sesekali matanya melirik ke arah Pangeran Arkana.
Tak beberapa lama kemudian, sekelebat bayangan lewat melintasi keduanya. Lantas bayangan itu berhenti tidak jauh di belakang Kania.
Pangeran Arkana melirik ke arah belakang Kania. Tampak sesosok perempuan berbaju putih sedang berdiri menatap ke arah Kania. Penampakan perempuan itu mengerikan sekali. wajahnya hancur dengan bola mata yang hendak keluar dari tempatnya.
"Astaghfirullah...." guman. Pangeran Arkana yang mengucap istighfar tanpa sadar.
"Apa...? Kau mengatakan sesuatu. Seperti beristighfar... ada apa...?" tanya Kania heran.
"Ah, iya.. aku lupa sesuatu. Sepertinya aku teringat sesuatu. Ibuku berpesan agar aku pergi ke rumah bibiku. Ada sesuatu yang harus ku sampaikan.." ujar Pangeran Arkana memberi alasan.
Kania heran dengan jawaban Pangeran Arkana. "Bukankah kalian memiliki cara berkomunikasi tersendiri...?" tanya Kania.
"Benar, tapi pesan ini harus disampaikan langsung kepada bibiku." kata Pangeran Arkana.
Kania mengangguk tanda faham maksud Pangeran Arkana. Kembali gadis itu mengutak-atik handphone miliknya.
Pangeran Arkana kembali melirik hantu wanita itu. Sosok itu masih di situ. Tak beranjak dari tempatnya semula.
Pangeran Arkana jadi heran. Apa yang diinginkan oleh hantu wanita itu...? pikir Pangeran Arkana dalam hati.
Sementara Kania masih tidak menyadari akan keberadaan hantu wanita itu. Dia terus saja mengutak-atik handphone miliknya tanpa merasa terganggu.
"Kania, berapa harga benda seperti itu jika sekarang aku membelinya...?" tanya Pangeran Arkana mencoba untuk mengalihkan atensi Kania.
Kania berhenti mengutak-atik handphone dan menatap heran ke arah Pangeran Arkana.
Pangeran Arkana menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Iya, aku juga mau membeli barang seperti itu. Aku ingin membelinya supaya aku bisa menghubungi dirimu kapan saja aku mau.." ucap Pangeran Arkana.
"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang juga. Aku akan mengantarmu sekarang juga." kata Kania.
" Baiklah, ayo kita pergi sekarang..!" ajak Pangeran Arkana.
"Tunggu, aku mau ambil motorku dahulu..." kata Kania.
"Mengapa harus susah - susah. Kita akan pergi dengan caraku... " kata Pangeran Arkana.
Setelah berucap seperti itu, Pangeran Arkana segera menggandeng tangan Kania dan terbang melesat bersama angin.
"Lihatlah ke sana. Di sana ada sebuah Mall. Katakan padaku, di mana kita akan membelinya...!" tunjuk Arkana ke arah sebuah mall.
"Kita bisa mendapatkan benda seperti ini di tempat itu..." tunjuk Kania ke arah mall tersebut.
Segera Pangeran Arkana membawa Kania masuk dan ke Mall tersebut melalui arah samping Mall. Karena di samping Mall tersebut tempat yang sepi. Pangeran Arkana tak ingin kemunculan mereka membuat heboh.
Pangeran Arkana lalu membuka telapak tangannya. Tiba-tiba saja di atas telapak tangan pangeran muda itu sudah muncul dua gepok pecahan seratus ribuan.
"Apakah ini cukup untuk membeli benda seperti itu...?" tanya Pangeran Arkana.
Mata Kania terbelalak melihat uang sebanyak itu.
"Ambillah uang ini. Belikan sebuah handphone untukku." ucap Pangeran Arkana sambil menyerahkan uang sebanyak dua puluh juta rupiah ke tangan Kania.
"Ini banyak sekali, Arka..Uang ini lebih dari cukup untuk membeli sebuah Handphone."
"Ambillah sisanya Simpan saja untuk kamu. Aku hanya ingin sebuah handphone yang sama seperti dirimu." ucap Pangeran Arkana dengan lugunya.
Kania menatap Pangeran Arkana dengan heran. "Handphone seperti milikku itu tidak mahal. Kau hanya perlu uang sekitar dua jutaan saja. Sisanya masih ada sekitar delapan belas juta, Arka.. " ujar Kania heran.
"Aku tahu. Tapi biarkan saja. Aku memberikannya untukmu supaya bisa kau gunakan untuk membeli segala macam keperluan kamu. Bagiku itu jauh lebih Baik.." ucap Pangeran Arkana.
Akhirnya Kania mengalah dan membeli sebuah handphone dengan merek yang sama dengan merek handphonenya hanya warna saja yang berbeda.
Tak lupa juga Kania membeli sebuah kartu dan juga Kuota agar Pangeran Arkana bisa menggunakan internet.
Tak lupa juga Kania mendownload sebuah aplikasi telpon dan chat agar dirinya bisa menghubungi Pemuda itu. Langkah terakhir adalah Kania mengesave nomor Kania di handphone Arkana.
"Tadaaa.... handphone kamu sudah jadi. Sekarang aku sudah bisa menghubungi kamu." kata Kania sambil menghubungi nomor Arkana.
Handphone Arka berbunyi. Satu panggilan masuk dari Kania.
Pangeran Arkana segera mengangkat panggilan di handphone miliknya yang berasal dari Kania. Itu panggilan dari Whatsapp untuk video call.
"Hallo...!" suara Kania terdengar di Handphone Pangeran Arkana. Lalu pada layar muncul wajah Kania. Tersenyum manis pada Pangeran Arkana.
Pangeran Arkana ingin tersenyum namun mendadak saja senyum di wajah sang Pangeran hilang seusai melihat sesuatu di belakang Kania.
Nah..... apakah yang dilihat oleh Pangeran Arkana...?
Sambung lagi besok... aku mau bobo dulu. Biar besok seger dan lanjut nulis lagi...
Jangan lupa like dan Votenya.
Semoga sehat selalu ya buat para Readers aku yang budiman. Salam manis selalu dari Minaaida 🙏🙏🙏