Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 131 Pernikahan


Zyftar tak menyangka, hukuman yang diberikan oleh Pangeran Hasyeem untuk dirinya dan juga Putri Humaira adalah menikah dan tinggal di dunia manusia selama dua belas periode bulan atau dua belas tahun.


Untuk hukuman tinggal di dunia manusia selama dua belas masa periode bulan dia sebenarnya masih sanggup dan hal tersebut bukan masalah baginya.


Akan tetapi, jika harus menikah dengan Putri Humaira, itu masalah lain. Meskipun sejatinya dia mencintai Putri Humaira, namun dia tahu diri. Putri Humaira ibarat seperti sebuah bintang di langit. Meskipun dia bisa terbang setinggi langit, namun tak akan mampu dia raih.


Akan tetapi, dengan mudahnya Pangeran Hasyeem menjatuhkan keputusan itu dan menikahkan dirinya dengan Putri Humaira.


Sebenarnya, bukan dia tak menangkap akan maksud dan tujuan dari tuannya itu dan hal itu sungguh mengejutkan dirinya. Dia ingat satu hal, Pangeran Hasyeem bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain. Jadi apakah selama ini Pangeran Hasyeem sudah mengetahui isi hati Zyftar yang sebenarnya.


Akan tetapi, alasan di balik itu semua dia tidaklah mengerti. Mengapa Pangeran Hasyeem sampai berpikiran untuk menikahkan dirinya dengan putri Humaira. Padahal dia tahu pasti bahwa Putri Humaira adalah tunangan Pangeran Sa'if.


Zyftar tak mengerti apakah dia harus bersyukur ataukah menyesali diri. Namun Zyftar mengerti satu hal, pasti ada maksud tertentu jika Tuannya itu sampai menikahkan dirinya dengan Putri Humaira.


"Zyftar...!"


"Tuan Putri Humaira..!" Zyftar tak menyangka jika yang datang menemuinya adalah Putri Humaira. Pemuda itu langsung menunduk dan memberi salam hormatnya untuk Sang Putri.


"Sudah, tak perlu sebenarnya kamu melakukan hal itu. Karena kita kelak akan menjadi pasangan suami istri." kata Putri Humaira.


Wanita itu kemudian mengambil tempat duduk di depan Zyftar. Ternyata Putri Humaira tidak datang sendiri, Putri itu datang bersama Balqis untuk menemui Zyftar.


"Papa...!!" seru Balqis seraya berlari menyongsong Zyftar. Gadis kecil itu kemudian memeluk Zyftar penuh rasa kerinduan. Zyftar pun balas memeluk dan menggendong gadis kecil itu.


Balqis yang merasa senang karena bertemu Zyftar lalu memberikan ciuman di pipi Kanan dan kiri Zyftar.


Semua interaksi itu diam - diam dilihat dan disaksikan oleh Pangeran Khalied yang mengantarkan saudara kembarnya itu ke tempat Zyftar.


Pangeran tampan itu sudah mendengar perihal Saudara kembarnya itu yang akan dinikahkan dengan Zyftar dan harus menjalani hukuman dari ayahanda mereka.


Bagi Pangeran Khalied, dia tak mempersoalkan dengan siapa saudara kembarnya itu akan menikah. Asalkan saja mereka saling mencintai.


Dia tahu bahwa diam - diam, Zyftar mencintai saudara kembarnya itu. Dan sepertinya, Putri Humaira juga memiliki perasaan yang sama dengan Zyftar. Hanya saja, karena dia seorang wanita dan juga seorang Putri, tentu saja ada batasan dimana dia tak akan bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Dan tampak ayahandanya juga mengetahui akan hal itu. Itulah sebabnya, Pangeran Hasyeem kemudian mengambil keputusan untuk menikahkan keduanya agar dapat menjaga anak manusia tersebut tanpa menimbulkan fitnah.


"Tuanku, Pangeran Khalied...!" kata Zyftar ketika menyadari keberadaan Pangeran itu.


Zyftar segera menurunkan Balqis dari gendongannya dan segera memberi hormat kepada calon kakak iparnya itu.


"Hamba, Tuanku. Akan selalu menganggap Tuanku sebagai junjungan hamba."


"Zyftar, aku kemari untuk bertanya kepadamu, apakah kau sudah siap menerima saudaraku ini sebagai pendamping hidupmu?" tanya Pangeran Khalied.


"Insya Allah, Tuanku Pangeran Khalied. Hamba siap lahir dan Bathin." jawab Pemuda itu dengan penuh percaya diri.


Putri Humaira menatap pemuda yang juga sedang berdiri menatapnya. Amatlah sangat bersahaja. Akan tetapi, siapa yang menyangka, bahwa ayahandanya begitu mempercayai pemuda itu. Sampai - sampai ayahandanya itu menyerahkan pedang Halilintar yang kemudian dipakai oleh pemuda itu untuk melindungi dirinya.


Apakah ada dalam diri Zyftar yang tak bisa dilihat oleh mata biasanya, keistimewaan lelaki pilihan ayahandanya itu.


"Maafkan aku, karena aku kau dihukum oleh ayahandaku." kata Putri Humaira kemudian.


"Meski seribu periode bulan pun, aku bersedia menerima hukuman itu untuk dirimu, Tuan Putri." kata Zyftar.


Putri Humaira menangis mendengar kesungguhan dan ketulusan hati Zyftar. Tanpa malu - malu lagi, Putri Humaira memeluk pemuda itu.


Tubuh Zyftar untuk sesaat bergetar. Sungguh tak pernah dibayangkan olehnya, Dia akan dipeluk oleh wanita pujaannya. Meski hanya lewat angan.


Namun, naluri Kelelakian Zyftar tergerak untuk membalas pelukan itu. Sehingga kedua insan itupun akhirnya berpelukan dengan erat satu sama lain.


Pangeran Khalied terharu melihat betapa dalam keadaan demikian saudaranya dan Zyftar, kedua insan tersebut saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.


***


Suasana haru dan syahdu terlihat di balai utama Istana Bukit Malaikat. Suara indah Zyftar mengumandangkan surat Ar - Rahman sebagai Mahar yang di minta oleh Putri Humaira mampu membuat semua yang hadir di tempat itu terpesona dan terdiam menyimak lantunan ayat demi ayat dari surah Ar Rahman tersebut sampai akhir.


Kemudian dilanjutkan dengan membaca ijab qabul oleh Zyftar di hadapan Pangeran Hasyeem sebagai tanda bahwa resmi dan sah dirinya menjadi suami dari Putri Pangeran Hasyeem tersebut.


"Bagaimana, apakah sah, saudara saksi? "tanya Pangeran Hasyeem.


" Sah, Tuanku..!" jawab para saksi.


Dengan dibacakannya ijab qabul atas diri Putri Humaira, maka sah sudah pernikahan antara Putri Humaira dan Zyftar. Keduanya resmi menjadi pasangan suami istri dan terikat oleh benang merah perkawinan.


Semoga menjadi keluarga yang sakinah dan mawadah. itulah doa yang banyak diberikan oleh semua yang hadir di pesta pernikahan itu.


bagaimana kelanjutannya, silakan simak ceritanya esok lagi, ya readers. selamat malam....