Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 40 Perangkap Kalla ( Part 2)


"Cepat, katakan padaku, Tuan. Bagaimana cara supaya aku mendapatkan obat penawar untuk gadis itu..!!? "kata Pangeran Khalied dengan marah.


Dengan sekali terjang tubuh Pangeran Khalied kemudian berhasil menangkap tubuh Zahra dan membawa kembali tubuh gadis itu ke sisinya kembali.


"Aku tak akan membiarkan maut sekalipun merenggutmu dari sisiku. Aku akan dapatkan penawar itu, untukmu..!" ucap Pangeran Khalied pada Zahra. Zahra tertegun mendengar ucapan Khalied. Sampai sebegitunya pemuda itu mempertahankan dan melindungi dirinya. Sejenak hati gadis itu menghangat oleh ucapan pangeran Khalied.


Namun itu hanya sesaat, saat berikutnya, Zahra menjadi sangat terguncang mendengar bahwa sebentar lagi kemalangan akan kembali menimpa dirinya. Mati hanya karena memakan sebuah apel. Seperti dalam cerita putih salju saja. Yang mati hanya karena memakan sebutir apel dari seorang penyihir.


"Pangeran Khalied, ... rupanya kau amat mencintai gadis itu. Hahaha, sudah kuduga. Sayangnya, gadis itu akan mati karena dia sudah memakan apel itu..!" seru Kalla sambil menyeringai licik.


"Dan itu artinya gadis itu akan menjadi milikku. Aku menginginkan dia menjadi istri dari Kalla..!!! "


"Tak akan kubiar hal itu terjadi..!! "Ucap Pangeran Khalied sambil bergerak menerjang ke arah Kalla. " Kau harus memberikan obat penawarnya kepadaku!! " kata Pangeran Khalied dengan garangnya. Pangeran itu tak mau main - main karena ini adalah menyangkut nyawa Zahra.


"Bagaimana jika aku tak mau memberikannya..?! " tantang Kalla.


"Maka aku terpaksa akan membunuhmu!!! " tegas Pangeran Khalied. "mungkin dengan membunuhmu, kutukan itu akan hilang." jawab Pangeran Khalied lagi.


"Baguslah kalau begitu...!! Aku suka keberanianmu. Namun, sepertinya kamu harus mengalahkan aku terlebih dahulu, baru aku akan memberikan obat penawarnya." jawab Kalla yang kini sudah bersiap - siap untuk melayani serangan Pangeran Khalied.


Tubuh Kalla kemudian menjelma menjadi sesosok Siluman Rubah dengan tubuh separuh manusia. Siluman rubah yang berukuran amat besar itu kini sudah berdiri berhadapan dengan pangeran Khalied.


"Hah, Ternyata kau adalah siluman rubah. Sudah kuduga sebelumnya, kau adalah sebangsa siluman. Bau tubuhmu saja sudah tercium sejak awal kedatanganmu." Kata Pangeran Khalied sambil bersiap menghunus pedangnya.


"Hahaha, rupanya kau selain hebat, kau juga berotak tajam. Namun sayangnya, kau kalah cepat. Lihatlah gadis itu, wajahnya sudah mulai memucat. Itu pertanda racunnya sudah mulai bekerja."


Pangeran Khalied menoleh ke arah Zahra. Benar saja. Wajah gadis itu sudah mulai berubah pucat dan lemas. Zahra sepertinya juga sudah merasakan perubahan yang terjadi di tubuhnya. Gadis itu menjadi cemas. Pangeran Khalied bisa melihat kecemasan di balik wajah Zahra yang putih pucat.


"Jangan kuatir, aku akan mendapatkan penawarnya untukmu. Tak akan kubiarkan siluman rubah itu mengambil kau dari sisiku." Ucap Pangeran Khalied


kepada Zahra. Hatinya sangat sedih dan gusar, membayangkan jika sampai harus kehilangan gadis itu.


"Khalied, hati - hati. Aku sangat mengharapkan kamu berhasil mengalahkan siluman rubah itu." ucap Zahra kepada Khalied.


Khalied terdiam sejenak. Dia mencoba mencerna kata - kata yang diucapkan oleh Zahra. Ada yang menyentuh hatinya. Zahra sangat mengharapkan aku berhasil mengalahkan Kalla. apakah itu berarti bahwa dia tak ingin menjadi istri dari Kalla...? tanya Pangeran Khalied dalam hati. Menyadari hal itu, mendadak hati Pangeran Khalied berbunga-bunga.


"Hei, Pangeran Khalied. Tunggu apa lagi. Kau boleh menyerang diriku sekarang juga. Aku sudah siap sejak tadi. Atau kau ingin menyerah saja karena takut melihat wujudku yang seperti ini..!" ejek Kalla membakar amarah sang Pangeran.


"Kalau begitu, bersiaplah... karena aku tak akan segan lagi untuk menyerang dan membunuhmu." ucap Pangeran Khalied. Setelah itu, pemuda itu mengeluarkan jurus pedang halilintar yang dimilikinya.


Pertarungan itu menjadi seru, karena Kalla pun melayani serangan Pangeran Khalied dengan menggunakan golok setan miliknya.


Itulah yang terjadi beberapa saat yang lalu di dimensi ke empat.


***


***


Dari kejauhan, Pangeran Arkana dan Zahra menyaksikan penomena alam itu dengan pandangan takjub dan terpesona.


"Luar biasa. Aku berani bertaruh, bahwa petir dan halilintar yang menghujani tempat itu berasal dari Ilmu Pedang Halilintar pamanku, Zamura..!!" serunya sambil menatap ke langit yang masih ramai dengan sambaran halilintar dan petir yang silih berganti.


"Benar sekali, tuanku. Tampaknya tuanku Pangeran Khalied sedang bertempur dengan seseorang. Keberadaan halilintar itu bisa menjadi petunjuk untuk kita bisa menemukan keberadaan Pangeran Khalied."


"Kau benar, Zamura. Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita ke tempat itu sekarang. Siapa tahu, di sana juga kita bisa menemukan penawar untuk Kania?" ucap Pangeran Arkana.


"Siapa yang sedang kalian bicarakan..? " tanya Kania yang muncul dari belakang Pangeran Arkana.


"Kami sedang melihat Petir dan Halilintar yang berasal dari ilmu pedang Pangeran Khalied.." jawab Zamura.


"Pangeran Khalied, siapa dia..?" Kania balik bertanya.


"Dia adalah pamanku. Ilmu pedangnya sangat hebat. Dia seperti kakek dan kakakku. Mereka sangat hebat dan menguasai ilmu pedang itu dengan sempurna." jawab Pangeran Arkana.


"Sepertinya, pamanmu orang yang menarik..." ucap Kania dengan senyum nakal. Sifat agresif gadis ini semakin menjadi - jadi saja, apakah efek dari racun Lamma membuat sifat dan karakter seorang juga berubah, pikir Pangeran Arkana.


Pemuda itu mengamati bahwa akhir - akhir ini, sifat Kania berubah drastis. Yang biasanya gadis itu pemalu, kini berubah berani. Bahkan terkesan menantang dan kasar.


"Seperti itulah. Pamanku adalah seorang Pria yang dikelilingi banyak wanita cantik. Karena ketampanan dan juga kelihaian dia bermain pedang dan juga rayuan." ucap Pangeran Arkana.


"Wah, semakin menarik saja..! Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita kesana..!! Aku ingin bertemu pamanmu itu. " ajak Kania dengan bersemangat.


Ketiganya melesat terbang melintas daerah itu dengan Kania berpegangan di tubuh Pangeran Arkana. Mereka menuju ke tempat Pangeran Khalied yang kini sedang terlibat pertempuran sengit dengan Kalla.


Sampai saat ini, pertempuran tersebut masih terus berlanjut. Baik Pangeran Khalied maupun Kalla, keduanya belum ada tanda - tanda keduanya akan menyerah.


Keduanya bahkan sudah bertarung hingga ribuan jurus. Halilintar dan petir saling bersahut - sahutan menyambar daerah tersebut. Bahkan ada beberapa yang sampai mematahkan pohon - pohon di sekitar tempat itu karena sambaran petir yang sangat dahsyat.


Zahra yang menyaksikan secara langsung pertempuran itu menjadi cemas. Dia mencemaskan Pangeran Khalied. Dia takut terjadi sesuatu pada pemuda itu.


"Aku berharap Khalied mampu mengalahkan Kalla. Aku tak mau menjadi istri dari siluman rubah !! kata Zahra dalam hati.