Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
BAB. 109


Keesokan harinya, Zahra terbangun dan mendapati ibunya sudah tak ada lagi di tempat tidur. Zahra pun panik karena mencemaskan keadaan ibunya.


"Ibu kemana, yah..?" Zahra bertanya dalam hati karena merasa kebingungan mencari ibunya.


Tak lama kemudian, ibunya Zahra muncul di depan pintu dengan bakul sayur yang sudah kosong.


"Loh, ibu dari mana...?" tanya Zahra heran.


"Ibu dari pasar, jualan sayur." jawab ibunya.


"hah, dari pasar..? Apa ibu sudah sehat. Kemarin kan, ibu masih sakit." tanya Zahra keheranan.


"Ibu sudah sehat. Berkat obat yang kamu berikan semalam. Ibu langsung sembuh dan bisa berjualan lagi di pasar." jawab ibunya.


"Sebenarnya, obat itu pemberian teman Zahra. Dia yang memberikan obat dan juga makanan yang kita makan tadi malam." kata Zahra kemudian.


"Kalau begitu, sampai ucapan terima kasih ibu kepada temanmu itu. Karena obat yang dia berikan benar-benar mujarab." kata ibu Zahra.


"Iya, buk.. " jawab Zahra.


Dalam hati Zahra bersyukur karena obat yang di berikan Khalied telah menyembuhkan ibunya.


***


Malam berikutnya, Zahra berharap bisa bertemu kembali dengan Khalied. Lama sekali Zahra menunggu kemunculan pemuda itu, tapi dia harus menelan kekecewaan karena Khalied tak juga muncul.


Juga hari - hari berikutnya. Zahra tak juga kunjung menjumpai pemuda aneh itu.


Sampai akhirnya, Zahra sudah hampir melupakan pemuda itu. Ketika kemudian, Khalied kembali muncul menampakkan dirinya tepat saat Zahra sudah berada dekat dengan rumahnya.


"Zahra...!"Panggil Pangeran Khalied.


Zahra menoleh dan melihat pemuda yang dia cari - carinya itu berdiri agak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Khalied... kau kah itu...?" tanya Zahra.


Pangeran Khalied melesat melayang mendekati Zahra. Zahra merasa agak aneh juga melihat pemuda itu berjalan dengan cara melayang. Zahra semakin yakin, bahwa pemuda yang sedang berdiri di hadapannya bukanlah manusia.


"Kau pasti sedang memikirkan aku.." tebak Pangeran Khalied.


Zahra melotot mendengar ucapan Pangeran Khalied. Bagaimana dia bisa dia menebak isi hati dan pikiranku, tanya Zahra dalam hati.


"Aku hanya menebak, karena aku melihatmu dari kejauhan seperti sedang mencari - cari seseorang." ucap Pangeran Khalied.


"Benarkah... tapi aku heran, makhluk seperti apa dirimu. Yang jelas kau bukan sebangsa Vampir atau Alien, kan..?" tanya Zahra.


"Hahaha, lucu sekali. Jika aku vampir maka aku sudah menggigitmu sejak awal bertemu. Dan jika aku Alien, sudah pasti tubuhku berwarna hijau.." jawab Pangeran Khalied.


"Lalu makhluk seperti apa dirimu, Khalied..?" tanya Zahra penasaran.


"Zahra,.... kamu sudah pulang...?" panggilan dari ibunya Zahra membuat Pangeran Khalied batal mengatakan siapa dirinya sebenarnya kepada Zahra.


" Kamu sedang bicara dengan siapa, Zahra...??" tanya Ibunya.


"Ini, ... Zahra sedang berbicara dengan teman, bu." jawab Zahra.


"Oh, sudah malam, kenapa nggak dI suruh masuk..? " kata ibu Zahra.


Zahra a menoleh ke belakang, bermaksud untuk mengajak Khalied singgah. Akan tetapi, pemuda itu sudah tak ada lagi di sana.


Kemana pergi nya Khalied, tanya Zahra dalam hati.


***


"Zahra, bangunlah...!!" Zahra langsung tersentak bangun. Dia merasa mendengar seseorang berbicara dengan berbisik sambil menyentuh pundaknya.


"Siapa... ?" tanya Zahra. Matanya menatap nanar ke sekeliling kamar. Sepi... tak ada siapa pun di kamar ini selain dia dan ibunya.


Zahra melirik ke sebelahnya. Ibunya itu sedang tidur dengan nyenyak. Mungkin karena kelelahan. Jadi, tak mungkin jika orang yang tadi membangunkannya adalah ibunya. Lagi pula, itu bukan suara ibunya melainkan suara laki-laki.


Hah... laki-laki. Zahra mendadak merasa takut jika ada seorang laki-laki yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya.


Baru saja Zahra hendak melangkah keluar kamar, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki orang - orang di samping rumahnya.


Bergegas dia membangunkan ibunya yang masih terlelap.


"Bu, bangun bu, diluar sepertinya ada orang yang hendak berbuat sesuatu.. " ucap Zahra.


"Siapa, Zahra...?" tanya Ibunya cemas


Zahra menggeleng tanda dia pun tak tahu.


Brakkkk.....


Tiba-tiba, pintu didobrak dari luar.


Zahra dan ibunya kaget bukan main. Ternyata yang datang adalah Si Codet dan anak buahnya.


"Siapa kalian... !!" bentak ibunya Zahra. Wanita paruh baya itu heran, apa yang diinginkan Si Codet dan anak buahnya dengan datang ke. rumahnya malam - malam begini.


"Itu, Bos. Cewek yang saya ceritakan itu!! tunjuk salah seorang anak buah Codet ke arah Zahra.


Si codet menatap Zahra dengan tatapan mata yang aneh.


" Tangkap Gadis itu...!!" perintahnya kemudian.