
Pangeran Arkana terhenyak. Sejenak dia menatap mata bulat Kania yang berwarna hitam. Pangeran Itu menarik nafas panjang sebelum berucap. "Maukah kamu jadi pacarku.. " ucapnya seraya menunduk menatap tanah. Dirinya tak berani menatap wajah cantik yang telah hadir mengisi mimpi - mimpinya.
...****************...
Sementara itu, Pangeran Khalied tengah kebingungan mencari Zahra. Gadis itu menghilang bak di telan bumi. Padahal seingatnya baru beberapa menit saja saat dirinya melihat gadis itu sedang menghadapi ular - ular ciptaan Nyi Blorong yang menyerangnya. Kemudian dirinya kembali bertarung dengan siluman ular itu. Saat Nyi Blorong lenyap karena berhasil dia kalahkan, Zahra juga ikutan lenyap.
Pangeran Khalied duduk dengan kesal di atas sebuah batu yang paling besar. Dia sudah mencari - cari di sekeliling tempat ini. Namun, Zahra tak kunjung ia temukan.
"yang tiada itu ada, yang mati itu hidup, berpikirlah bijak, temukan cahayamu.. "
Pangeran Khalied mendengar seperti ada suara bisikan, lebih tepatnya seperti nyanyian yang terus - menerus di ulang. Syairnya tetap sama bunyinya
"Yang tiada itu ada, yang mati itu hidup, berpikirlah bijak, temukan cahayamu.. "
sebuah suara terdengar di telinga pangeran Khalied lagi. Kali ini dia mendengar itu seperti orang yang sedang berucap atau mengguman.
"Siapa di sana...? " bentaknya kemudian.
Hening...,.
Suara itu terhenti sejenak. Lalu kemudian terdengar suara seperti bisikan - bisikan yang mengucapkan kembali kata yang sama seperti tadi.
Pangeran Khalied benar-benar geram. Siapa yang telah berani untuk mempermainkan dirinya.
Dengan kesal dicabutnya pedangnya dari sarungnya dan kemudian di acungkannya ke depan wajahnya. Dari pantulan cahaya putih yang keluar dari sebuah batu itu dia dapat melihat sesuatu dari pantulan bayangan di pedangnya.
Hah, apa itu..?
Menyapa dirinya tak bisa melihat bayangan itu jika hanya menggunakan mata biasa saja. Bayangan itu tiada namun pada kenyataannya ada...
Mata pangeran Khalied terbelalak karena baru menyadari akan arti syair yang diucapkan oleh suara - suara yang dia dengar tadi.
Kemudian Pangeran Khalied kembali mengayunkan pedangnya hingga terlihatlah sebuah bayangan.
"Zahra... ! " gumamnya seperti pada diri sendiri. Dia melihat sebentuk bayangan Zahra melalui pantulan bayangan di pedangnya.
Lewat pantulan pedangnya, Pangeran Khalied bisa melihat di mana keberadaan Zahra. Ternyata, gadis itu terjebak di dunia cermin. Dunia tiada namun ada. Itulah teka teki yang dimaksud Nyi Blorong. Tiada itu ada adalah dunia cermin.
Rupanya saat sedang asyik mengusir ular - Ular jelmaan Nyi Blorong tadi, kaki Zahra tanpa sadar telah menginjak batas antara dunia cermin dan dimensi ke empat. Maka dari itu, walaupun Zahra ada di depan pangeran Khalied, namun dia tak akan bisa terlihat.
Namun sebaliknya, Zahra mampu melihat keberadaan pangeran Khalied. Gadis itu sejak tadi berusaha untuk memanggil - manggil pemuda itu, namun pemuda itu seperti tak melihat atau mendengarnya.
Bagaimana bisa begini, keluhnya dalam hati. Akhirnya, Zahra hanya bisa berdiri di dekat Pangeran Khalied tanpa bisa menggapai atau menyentuhnya. Walaupun sudah berulang kali dia berbicara dan juga mencoba memberikan isyarat kepada pemuda itu. Namun hasilnya sia - sia saja.
Yang tiada itu ada..
Kata - kata itu menjadi petunjuk bagi Pangeran Khalied untuk menemukan Zahra.
"Zahra, aku tahu kamu berada di sekitarku, berikan aku tanda - tanda keberadaanmu... " kata Pamuda itu.
Zahra terdiam mendengar ucapan Pangeran Khalied. Apa maksud dari ucapan Khalied, pikir Zahra.
"Sepertinya Khalied sudah melihat keberadaanku atau barangkali juga tidak. Karena dia meminta aku untuk memberinya tanda - tanda keberadaanku." kata Zahra.
Kemudian gadis itu mengambil sepotong ranting yang tergeletak di tanah. Kemudian dia melemparkan ke arah pangeran Khalied dan mengenai tubuh Pangeran itu.
Namun, lagi - lagi semua itu sia - sia saja. Ranting itu tak terlihat di mata Pangeran Khalied. Padahal dirinya benar-benar sudah melempar ke arah tubuh pemuda itu. Namun pemuda itu seperti tak merasakan apapun juga. Atau melihat ranting itu.
Juga saat dirinya menyentuh pemuda itu. Tidak ada respon dari pemuda itu. Dia bagaikan menyentuh bayangan bayangan dirinya di cermin.
Zahra benar-benar putus asa sekarang. Bagaimana bisa dirinya terjebak di dunia yang seperti ini.
Karena merasa usahanya sia - sia, Zahra pun akhirnya menangis. Dirinya terlampau takut jika saja Khalied tidak bisa menemukan dan membawanya kembali ke dunia nyata. Betapa dirinya saat ini sangat merindukan bumi tempatnya berpijak dan langit tempatnya berteduh.
Sedang sibuk menangisi diri, tiba-tiba saja gadis itu dikejutkan oleh sebuah tangan yang terulur dan menarik paksa tubuhnya sehingga Zahra dapat merasakan tubuhnya ditarik keluar dari sebuah pintu dengan paksa.
"Syukurlah, akhirnya aku dapat menemukan dirimu..!"
Itu suara Khalied. Zahra mendongak ke atas untuk memastikan bahwa yang di dengarnya memang suara Khalied. Ya, benar sekali. Itu adalah Khalied. Pemuda itu sedang berdiri di hadapan dirinya.
Tapi tunggu dulu...
Apakah dirinya sekarang sudah bisa menyentuh tubuh pemuda itu.
Untuk memastikan hal itu, maka Zahra tak segan - segan memeluk dan menempelkan bibirnya di bibir pemuda itu. Dia masih berpikir, jika pemuda itu masih tak bisa merasakan sentuhan dirinya. Maka dia tak akan bisa merespon sentuhan Zahra.
Ternyata Zahra keliru. Walaupun pada awalnya kaget dengan pelukan gadis itu terlebih lagi kemudian Zahra menempelkan bibirnya di bibir Pangeran Khalied, tetapi pemuda itu akhirnya merespon juga sentuhan Zahra.
Dengan segera dia menyambar bibir ranum Zahra dan meraupnya dalam sebuah ciuman yang panas.
Giliran Zahra kini yang terkaget-kaget. Dirinya sungguh tak menyangka bahwa ternyata semua itu nyata. Khalied sudah bisa dia sentuh lagi. Itu artinya di sudah kembali bersama pemuda itu di tempat tadi.
Ciuman itu pun berakhir setelah Pangeran bertubuh kekar dan berotot itu melepaskan dirinya. Zahra merasa sangat malu. Bagaimana mungkin dirinya bisa seagresif itu. Seperti bukan dirinya saja.
"Apakah itu artinya kita sudah resmi berpacaran...? " tanya Khalied.
Wajah Zahra bukan lagi seperti tomat masak tapi kini sudah menjadi kepiting rebus. Dirinya MALU...
Aduh....yang baca jangan baper... 😁😁😁
jangan lupa like dan vote ya... 🙏🙏🙏