Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Bertemu Si Pemilik Jenglot


...“Jika saja aku tak menikahinya terlebih dahulu, maka aku tak akan pernah di landa rasa bersalah ini.” (By - unknow)...


.


.


.


.


.


Tentunya ia tak ingin Angel maupun pocong itu mengetahui tingkah lakunya pada Araxi, gadis tomboi dingin yang mampu memikat hati seorang Albert yang terkenal dingin di antara parah arwah hantu penasaran itu.


Setelah puas melakukannya pada Araxi dengan tersenyum tipis.


Albert pun memberanikan diri mengecup kening Araxi dengan penuh sayang sembari membisikkan sesuatu kata, yang mendapat respons dari alam sadar Araxi. “Cepatlah bangun. Apa kau tak tahu keberadaanmu dengan Alexa, dan Alex sedikit lagi di ketahui oleh Kakakmu Leonard. Apa kau tak ingin bermain dingin lagi denganku hm?”


Araxi yang sedang berada di alam sadarnya pun tak sengaja mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal, tentunya ia sendiri tak mengerti mengapa bisa sampai ke tempat yang belum pernah ia datangi.


Namun beberapa detik kemudian sampailah mereka di tempat tujuan berada, mengingat mereka kembali ke desa tersebut untuk mencari pak Sholeh, agar bisa membantu menyelesaikan urusan mereka dengan makhluk kecil yang biasa di sebut jenglot yang tiba-tiba saja menyerang Araxi.


Sampailah mereka di sebuah rumah tempat pak Sholeh tersebut tinggal, tak lupa mengetuk daun pintu itu dengan pelan tanpa menimbulkan kecurigaan di sekitar rumah itu.


Selang beberapa detik kemudian terdengar decitan halus dari gesekan pintu yang sedang di buka, terlihat pak Sholeh yang sedikit terhenyak dengan kedatangan mereka kembali ke desa tersebut. “Apa yang membuat kalian datang kembali lagi ke desa ini Nak?” tanya pak Sholeh dengan tenang.


Tentunya setelah pak Sholeh mengantarkan mereka keluar ke desa itu, bahkan ia sendiri dapat melihat makhluk yang di sebut jenglot itu menyerang salah satu dari mereka. Dan saat ia akan kembali ke desa kampungnya sendiri, di perjalanan menuju arah rumahnya, ia pun di cegah oleh seseorang yang sangat ia kenal.


Hal tak terduga ia mendapat peringatan dari orang tersebut, untuk tak terlalu mencampuri urusan pribadinya. Karena jika ia mencampurinya maka orang tersebut tak akan segan-segan menyuruh makhluk itu untuk membuatnya meregang nyawa.


Seperti kebanyakan orang di desa tersebut, yang selalu menghilang lalu kemudian di temukan dengan cara yang sangat sadis.


“Maaf mengganggu waktu istirahat pak Sholeh. Bukan saat itu Bapak melihat dengan mata kepala sendiri, kalau kembaran saya di serang oleh sesosok makhluk kecil sejenis jenglot itu? Saat saya mengurungnya dan tak sengaja membuangnya di sembarang arah. Apakah ada seseorang yang mengambilnya Pak?” tanya Alex.


Dengan sedikit keberanian terpaksa ia harus memberitahukan pada mereka, tentang seseorang yang mengendalikan jenglot tersebut.


Mempersilakan ketiga tamunya masuk ke dalam, untuk memberinya mereka petunjuk tentang Tuan dari jenglot yang meresahkan masyarakat di desa tersebut.


Agar Tuannya tak mengetahui keberadaannya yang kembali ke sini, untuk menuntut balas atas apa yang di lakukan jenglot itu pada kembarannya.


“Baiklah Bapak sendiri tak bisa memberi kalian petunjuk dengan banyak, akan tetapi dengarkan hal ini agar kalian tetap berhati-hati dengan jenglot itu.” Lalu kemudian saat itu pak Sholeh pun memberitahu mereka petunjuk untuk mengalahkan jenglot tersebut dengan Tuannya. “Maaf bapak tak bisa membantu kalian dengan banyak. Karena Bapak sendiri mendapat peringatan keras dari orang itu.”


“Tak masalah Pak. Tenang saja saya akan melindungi anda dari kejarannya,” sahut Alex dengan lantang.


Setelah itu mereka berpamitan pada pak Sholeh, untuk mendatangi sebuah rumah yang pernah menjadi tempat tinggal mendiang Sumarni.


Namun tak di sangka-sangka orang tersebut telah menampak wujud aslinya, di depan rumah pak Sholeh itu sendiri.


“Kau melanggar peringatanku ternyata Leh. Tak aku sangka kau malah berpihak pada bocah ingusan yang tak mengenalmu, di bandingkan denganku yang suka rela meminjamkan uang untukmu!” ucap seorang pria paruh baya yang tengah menghentikan langkah kaki mereka. “Lalu kalian bertiga datang ke mari apa akan menyerahkan diri dengan suka rela, untuk menjadi santapan lezat dari kesayanganku?”


“Sudah cukup anda meresahkan warga desa. Seharusnya anda sendiri sudah bisa mengikhlaskan kematian mendiang istri anda Juragan Dendi,” ucap pak Sholeh seraya mengingatkan pada orang tersebut.


“Apa katamu! Kau mau mengatakan hal konyol denganku tentang cara mengikhlaskan Sumarni begitu Leh?” sentaknya dengan nada tinggi. “Apa kau tak tahu selama ini aku sangat mencintainya, bahkan aku selalu merasa bersalah telah gagal menjaganya dari tangan mendiang dua istriku. Apalagi saat ia hamil anakku, aku begitu senang mendengar kabar itu. Akan tetapi aku tak menyangka mendiang dua istriku membunuhnya dan menghilangkan jejaknya dengan rapi, tanpa pernah merasa bersalah saat melakukan hal pada Sumarni.”


.


.


.


.


.


Kira-kira menegangkan enggak ya?


Yuk jangan lupa dukung karya receh ini di tim a ya


Terima kasih atas dukungan kalian semua


See you next time