Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Wanita Iblis Yang Tak Mempunyai Hati Nurani


Selang beberapa jam kemudian mobil yang di tumpangi oleh Marista sampailah ke tempat tujuan berkunjung, berjalan dengan melenggak-lenggok tanpa memedulikan keadaan sekitar yang terlihat sedikit menyeramkan.


Karena tempat tersebut sangat jauh dari keramaian penduduk, sehingga membuatnya terkenal sebagai seorang dukun di tempat yang tinggal.


Seperti biasa saat masuk ke dalam rumah sederhana itu, Marista pun mendapat sambutan langsung dari pemiliknya. “Selamat datang Nyonya. Ada gerangan apa yang membuat anda singgah ke rumah ini kembali?” sambut dukun Sugeng sembari bertanya pada wanita paruh baya tersebut.


“Rupanya kau selalu tahu tentang maksud tujuanku datang ke mari ternyata,” jawab Marista dengan sombong. “Aku ingin langsung saja tujuanku datang ke mari. Apa kau masih belum bisa membuat suamiku luluh denganku?”


“Sekali lagi saya minta maaf Nyonya,” ujar dukun Sugeng yang merasa tak enak hati. “Saya berusaha membuatnya tunduk pada anda. Akan tetapi hatinya benar-benar tak bisa saya tembus Nyonya, seperti ada yang melindungi suami anda itu.”


“Benarkah itu?” tanya Marista sambil memastikan tentang apa yang di katakan oleh dukun Sugeng tersebut.


“Benar Nyonya. Apa anda ingin saya menghancurkan pelindung itu supaya saya bisa merasuki hatinya?”


“Tidak perlu biarkan saja. Nanti aku sendiri yang akan menghancurkan pelindungnya,” tolak Marista yang mana ia bertekad akan menghancurkannya seorang diri. “Aku ingin kau menutup mulutmu, jangan sampai kau membocorkan rahasia bahwa selama ini aku yang membunuh istrinya itu. Apa kau paham dukun tua!”


Setelah memberi sang dukun itu sebuah ancaman, dengan perasaan marah kecewa sekaligus kesal Marista Mayang pun beranjak dari rumah dukun tersebut, sembari membawa perasaan yang sangat begitu kecewa.


Karena ia benar-benar tak bisa membuat Raymond Wesley Wiratmaja tunduk pada dirinya, bahkan tak bisa membuat hati pria itu berlabuh padanya.


“Hei kau dalam seminggu ke depan aku perintahkan untuk mengacak-ngacak makam milik istri pertama suamiku. Ambil tulang belulangnya dan setelah itu bakar semuanya sampai menjadi abu, lalu kau bisa membuang semua abu itu ke dalam lautan!” tanpa mempunyai hati yang nurani dengan teganya Marista Mayang itu pun memerintahkan anak buahnya itu untuk membakar tulang belulang milik mendiang istri tercinta dari Raymond.


Mobil yang di tumpangi oleh Marista sendiri kembali membelah sebuah jalanan yang sangat sepi, dengan membawa kekecewaan yang mendalam Marista tak lagi kembali pada dukun Sugeng untuk meminta bantuan, agar bisa meluluhkan hati Raymond dan berpaling dengannya menggunakan caranya sendiri.


Tanpa Marista Mayang sadari pada saat memerintahkan anak buahnya itu, ada sepasang telinga yang tengah mendengar obrolannya.


Tentunya Marista Mayang itu sendiri telah menabuh genderang antara sepasang telinga tersebut, mengingat ia sangat berambisi kuat untuk membuat tulang belulang milik Siska istri pertama Raymond yang kini menjadi suaminya itu, menjadi abu yang sangat tak tersisa sehingga ia juga pun bisa membuang abu tersebut ke dalam lautan beserta kenangan manis di antara keduanya.


Kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan dengan istrimu itu Ray, setelah aku membakar tulang belulang itu kau tak akan pernah bisa mendatanginya kembali. Karena aku akan membuat tulangnya menjadi abu yang tak tersisa.


.


.


.


.


.


Kira-kira sapa yang mengetahui rencana dari istri kedua seorang Raymond Wesley?