
Yang membuat Araxi mendengus melihat tingkah laku dari kembarannya dan juga kakak kandung tersebut.
Namun Araxi merasa sedikit lega setelah Kevin membuka obrolan kembali sekaligus menanyakan maksud dari kedatangan Leonard tersebut. “Apa kau juga akan menanyakan keadaannya langsung?”
Kening Leonard mengernyit bingung saat ia tak sengaja mendengar pertanyaan dari Kevin. “Apa maksud Om?” tanya Leonard bingung.
Dengan sedikit kesal Kevin pun mengganti topik pertanyaan lainnya, untuk menghindari tatapan mata dingin tersebut. “Tidak ada! Kalau kau mau berbicara dengan mereka. Biar Om dan Ivone keluar, agar tak mengganggu privasi kalian.”
Tanpa menunggu jawaban Kevin pun langsung menarik lengan putrinya untuk keluar dari kamar inap tersebut, bahkan kini dalam hatinya ia bisa sedikit merelakan kembalinya mereka pada keluarga seharusnya tempat ketiga kembar indigo berada.
Sementara itu Theo yang tengah menatap ke arah sekitar kamar inap secara tak sengaja netra manik matanya menangkap pada seorang gadis cantik yang tengah menggeliat bangun dari tidurnya, dan menurut pandangan matanya tersebut terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
Cantik. Gumam Theo lirih.
Namun gerakannya tanpa sadar sedikit tertangkap basah oleh si pasien itu sendiri, tentunya Araxi merasa heran dengan tingkah laku dari sahabat kakaknya tersebut.
Mengapa dia terus menatap Alexa seperti itu? Ini tak sesederhana yang aku pikir. Apa Jangan-jangan dia tertarik dengannya? Batin Araxi penuh tanda tanya.
Saat Araxi memikirkan tentang pria yang diam-diam menatap kembarannya itu, sedetik kemudian dia mendapat deheman dari seorang yang baru saja menyapanya dengan canggung.
“Tidak ada!” jawab Araxi dan Alex dengan kompak. “Lalu untuk apa datang kemari? Apa ada yang ingin di sampaikan?” tanya Alex yang mewakili Araxi dengan bertanya pada pria yang sangat mirip dengannya dan juga Araxi.
Mendadak Leonard di buat tercengang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Adik bungsunya tersebut, sehingga membuat dirinya tak bisa menjawab pertanyaan yang di tujukan untuknya.
Namun tak di sangka olehnya, ada seseorang yang bernada sangat lembut menegur adik bungsunya, dan saat Leonard menatap ke arah seseorang seketika tubuhnya menegang.
Saat menatap wajah seseorang yang menghampiri mereka semua, mengingatkannya pada wajah mendiang mama tercinta. Dan tak menutup kemungkinan Leonard berpikir adiknya satu ini mempunyai sifat yang sama dengan Mamanya tersebut.
“Lex, Kamu kalau bertanya yang sopan sedikit dong!” tegur Alexa sembari menguap lebar-lebar.
Begitu kamar suasana kamar Araxi sedikit canggung, Alexa pun memutuskan akan mengambil alih mereka, dan tentunya ia juga sedikit mengerti tentang tujuan dua orang yang mendatangi kamar kembarannya tersebut.
“Jangan hiraukan pertanyaan Alex. Kakak datang ke sini ingin bertanya keadaan dia bukan?” tanya Alexa dengan nada yang sangat lembut sembari menujuk ke arah Araxi yang menatap dingin.
Leonard yang mendengar pertanyaan itu pun mengangguk kepala, ia tak menyangka bisa mendengar kembali suara lembut sangat ia rindukan sejak dulu. “Kalau boleh tahu nama kalian siapa? Maaf aku datang kemari hanya ingin berkenalan dengan kalian,” tanya Leonard dengan tulus.
Alexa dengan penuh semangat pun menyahut pertanyaan dari Leonard. “Aku Alexa Kak,” jawab Alexa dengan menampilkan senyuman. “Kalau yang duduk di atas brankar itu Araxi, dan yang sedang menatap ke arahmu itu Alex. Apa Kakak bisa membedakan antara aku dan Araxi?”