
Karena baik Kevin dengan Andra hanyalah mereka yang menyimpan sebuah rahasia tentang kelahiran si kembar, hingga penculikan yang terjadi pada mereka.
‘Sialan kau Marista, aku sungguh tak habis pikir dengan jalan ambisimu mengikat Raymond dengan cara yang menjijikan. Bahkan kau melupakan keberadaan putri kandungmu sendiri. Arrgghh!’ teriak batin sembari mengusap kasar wajahnya.
Untuk menenangkan pikirannya yang begitu berkecamuk, karena dirinya sangat mencemaskan keberadaan si kembar.
Meskipun dirinya merasa sangat yakin mampu melindunginya dengan taruhan nyawanya.
Kemudian keadaan di dalam kamar tersebut menjadi hening, karena Kevin melamunkan pikirannya yang tertuju pada ketiga kembar yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari Papanya tercinta.
Selang beberapa menit kemudian Kevin pun tersadar dari lamunannya, hingga kemudian dirinya membangunkan putrinya yang benar-benar terlelap di alam mimpi.
“Ivone sayang,” panggilnya dengan nada yang lembut.
“Hmm!” jawab Ivone dengan deheman.
Yang membuat Kevin menjadi gemas melihat cara putrinya tidur seperti kucing yang pemalas.
“Ayo bangun, Papa hari ini akan mengajakmu berkunjung ke rumah si kembar. Bukankah kamu sangat merindukan Alexa.”
Dengan malas Ivone akhirnya bangun dan turun dari ranjangnya, untuk mencuci muka serta tak lupa ia akan berusaha mengalihkan rasa luka hatinya akibat penolakan yang di lakukan oleh sang mama tercinta.
‘Kau pasti bisa, kau pasti kuat, jangan pernah menjadi lemah di depannya!’ gumam Ivone menyemangati keadaan dirinya sendiri.
Lima belas menit kemudian akhirnya Kevin pun melajukan mobilnya yang terparkir di halaman mansion, untuk membelah jalanan yang sangat ramai, menuju arah di mana si kembar tersebut berada.
Lagi-lagi tanpa Ivone mau pun Kevin sadari, ada seseorang yang tengah mendengar semua perkataan yang dari bibir mereka masing-masing.
Sehingga membuat darah orang tersebut mendidih, saat tak kuasa mendengar nasib yang di alami oleh Kevin dan Ivone.
Apalagi kehidupan Ivone yang selalu berusaha tegar di balik hatinya yang terluka, lantas hal tersebut membuat orang tersebut yang mendengar mendadak menjadi dingin sedingin es kutub utara.
Secara orang tersebut sangat tak terima dengan perasaan luka yang terjadi pada seseorang yang menyelamatkan kehidupannya dengan saudara kembarnya itu.
Tentunya orang tersebut yang tak lain Araxi Wesley Wiratmaja bertekad membongkar dari seseorang yang merebut kebahagiaan mendiang Mamanya tercinta.
Sebelum Araxi membongkar kedok dari wanita iblis itu, ia akan menyimpan rahasia ini dengan rapat. Meski pun dirinya sangat tak yakin, kedua kembarannya tak merasakan hal yang sama.
‘Secepatnya aku harus menemukan dukun itu. Sialan, mengapa nasibmu seperti ini Om? Meski pun aku membenci mantan istrimu itu, aku benar-benar menganggap putrimu saudaraku Om! Tenang saja aku akan melindunginya dari tangan wanita itu!’
Di sebuah rumah sederhana tempat ketiga kembar tengah bangun dari alam mimpi.
Tentunya sekolah ketiga kembar tersebut saat ini masih memang libur di hari minggu, dan juga saat ini baik Alex mau pun Alexa tengah bersiap-siap untuk menemani Araxi menuju sebuah desa tempat tinggal Sumarni.
Untuk menyampaikan sebuah pesan sebelum arwah tersebut menghilang kembali ke alamnya.
Dengan wajah Araxi yang sangat dingin, seketika membuat ruangan rumah mereka merasakan hawa dingin dari tubuh Araxi.
Hal tersebut membuat Alex dan Alexa di buat bingung dengan keadaan Araxi yang semakin dingin.
Sejak mendengar jerit batin luka dari seseorang terdekatnya, hingga membuat darahnya mendidih.
Seketika tubuh Araxi mengeluarkan hawa dingin yang begitu mencekam, tentunya hal tersebut berasal dari emosi Araxi yang sangat meluap-luap.
Tak ada jawaban dari kembarannya, membuat Alexa mendengus. Tanpa berani mendekati kembali Araxi.
“Hei kalian berdua ayo segera sarapan dulu. Sebelum pergi ke desa itu!” ajak Alex pada kedua kembarannya.
Ketiganya pun menikmati sarapan pagi dengan keadaan hening, di tambah hawa dingin yang berada dalam rumah tersebut membuat Alexa dan Alex berpikir.
Pastinya ada seseorang yang benar-benar telah menyulut kemarahan yang berada dalam diri kembarnya tersebut.
Setelah mereka sarapan pagi bersama, dengan bergegas Araxi pun meninggalkan kedua kembarnya yang hanya terbengang dengan kemarahan yang ada di dalam tubuh Araxi.
Saat mereka akan sampai di gerbang sebuah desa, langkah kaki mereka pun terhenti saat ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di depan ketiga kembar tersebut.
“Alexa!” pekik Ivone dengan berteriak. “Kamu mau pergi ke mana dengan mereka?” tanya Ivone yang tengah menyembulkan kepalanya dari jendela mobil milik Papanya tercinta.
“Kakak ke sini dengan siapa?” tanya balik Alexa. “Apa ada Om Kevin?”
Dengan mengangguk Ivone pun menurunkan kaca jendela mobil, dan memperlihatkan sang Papa yang tengah memegang kemudi setir mobil dengan menyapa ketiga kembar tersebut.
“Kalian bertiga mau ke mana?” tanya Kevin dengan berbasa-basi.
“Aku dan Alex mau pergi menemani Araxi ke desa Om,” jawab Alexa ramah. “Kebetulan ada Om di sini! Bolehkah kami menumpang mobil Om Kevin?”
Tengkuk Kevin pun menjadi merinding, tak kala netra matanya bertabrakan dengan mata Araxi si gadis tomboi dingin, yang terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
‘Sial ada apa dengan tatapan mata itu? Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri tentang mereka! Lalu apa yang membuatnya menatapku begitu dingin?’ batin Kevin bertanya-tanya.
Karena yang menjadi Araxi begitu dingin tersebut, akibat kemarahan yang mendidih di dalam jiwanya.
Hingga tak ada yang mengetahui diamnya Araxi, karena seseorang mengambil alih tubuhnya.
“Alex gawat!” pekik Alexa lewat telepati pikirannya yang tersalur langsung dari Alexa. “Hawa dingin ini sepertinya bukan berasal dari Araxi sendiri. Aku menduga ada yang mengambil alih tubuhnya.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan Sa?” tanya Alex merasa khawatir. “Apa sebaiknya kita panggil Albert saja Sa! Aku akan meminta bantuan padanya.”
Tanpa di panggil oleh keduanya tiba-tiba Albert datang dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Bersamaan dengan itu Albert pun di buat terhenyak saat menatap fekspresi dari Araxi.
Alex dan Alexa memutuskan berkomunikasi melalui batin masing-masing, mereka mempertanyakan tentang keadaan Araxi yang hanya menatap semua orang dengan keadaan dingin yang di bawa dari sekujur tubuhnya.
“Apa kau tahu Al. Mengapa Araxi hanya diam saja begitu ekspresinya?” tanya Alex dan Alexa dengan kompak.
“Sejak kapan dia menjadi seperti ini?” jawab Albert dengan balik tanya.
“Sejak keluar dari kamar Al, seluruh suhu rumah tiba-tiba menjadi dingin seperti berada di kutub. Aku menduga ini bukan keinginannya, pastinya seseorang mengambil alih tubuhnya,” jawab Alexa yang merasa khawatir dengan kembarannya.
Dengan cepat Albert pun menatap kembali ke Araxi yang masih dalam keadaan hawa dingin di sekujur tubuhnya.
Menggunakan kemampuannya Albert sengaja ingin berkomunikasi dengan seseorang tersebut, yang mana membuat dirinya terkejut bukan main setelah mendengar semuanya.