Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Tujuh Belas Tahun Berlalu


Pasukan dukun tersebut harus segera menyampaikan permintaan dan pesan untuk Andra putra dari tuan mereka.


“Siapa yang akan menyampaikan pesan dan permintaan mbah untuk putranya itu,” tanya salah satu dari makhluk tak kasat mata sembari menatap ke arah putra dari tuan mereka. “Apalagi kita tak mungkin bisa berkomunikasi dengannya.”


“Kau benar,” sahut lainnya. “Akan tetapi aku tak tega melakukannya,” jawabnya dengan sendu.


“Mau tak mau, kita harus segera menyampaikan langsung untuk putranya. Apalagi ini menyangkut sesuatu yang harus segera di lindungi, jika terjadi sesuatu,” ucap salah satu makhluk tak kasat mata dengan warna kulit yang hitam.


“Kalau begitu kau saja yang melakukannya!”


“Ha, kenapa harus aku,” sahutnya sembari menunjuk pada dirinya.


“Iya kenapa bukan kamu saja yang melakukannya,” sahut lainnya dengan kompak.


Karena di desak oleh temannya, mau tak mau ia yang biasa sebagai seorang selalu di kasih oleh tuannya.


Dengan terpaksa mengalah pada teman-temannya, yang menatapnya dengan tatapan memohon.


Tanpa membuang waktu yang banyak, dengan kekuatan yang di punya olehnya. Ia pun akhirnya melakukan perintah yang diberikan langsung pada mendiang tuan mereka.


Menghampiri jasad tersebut yang tengah di peluk itu, sembari menatapnya dengan sorotan yang sendu.


Dengan kekuatan yang di punya olehnya, ia pun melakukannya.


Menghilangkan diri dengan perlahan, tak lama kemudian memasukkan dirinya ke dalam jasad tuannya tersebut.


“Berhenti menangisi jasad yang tak akan pernah bisa kembali,” ucap makhluk hitam itu dengan tujuan mengingatkan putra tuannya dengan nada yang datar.


Seketika Andra pun berhenti menangis, tak kala mendengar sebuah suara teguran yang berasal dari jasad sang ayah tercinta.


“Kau siapa?” tanya Andra. “Mengapa bisa masuk ke dalam raga ayahku?” sahutnya kemudian yang merasa terheran dengan jasad ayahnya itu bisa berbicara dengannya.


“Apa kau telah melupakanku?”


Sambil menelan ludah, ia pun tertegun dengan nada suara yang terdengar tak asing di telinganya.


“Maaf!” ucap Andra seraya meminta maaf. “Aku tak bermaksud melupakanmu, bukankah kau barusan berada di rumahku? Lalu apa yang bisa membuatmu, bagaimana keadaan istri dan putraku! Apa mereka baik-baik saja?” cecar Andra yang selalu tak tega meninggalkan istri dan putranya tersebut.


“Kau tak perlu risau, istri dan putramu baik-baik saja. Tak akan ada yang berani mencelakainya, karena di sana aku yang membuat rumahmu terlihat menyeramkan.”


Andra pun merasa lega setelah mendengar penjelasan dari salah satu orang yang pernah ia temui secara langsung.


Sembari menghela napas ia pun mulai bertanya pada sesosok di depannya yang kini sedang memasuki jasad sang ayah tercinta.


“Lalu mengapa kau harus menggunakan jasad ayahku,” tanya Andra. “Bukankah kau bisa berkomunikasi denganku secara langsung,” sahutnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


“Maaf aku tak bisa melakukannya, karena ini permintaan langsung dari ayahmu. Sebelum ia di lenyapkan!” ujarnya sambil menjelaskan semua yang terjadi pada tuannya, yang tak lain ayah dari seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.


“Aku sangat yakin, yang melenyapkan ayah pastinya wanita itu bukan?” todong Andra sembari bertanya.


Tak ada jawaban, melainkan hanya bisa membuatnya tersenyum kecut.


Entah mengapa ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran yang ada di diri wanita yang sangat ia benci, karena wanita itu telah membunuh ayahnya tercinta.


Menimbulkan kebencian yang mendalam untuk wanita tersebut.


Ingin marah rasanya tak bisa, karena ia tak seperti ayahnya. Yang bisa melakukan segala macam cara untuk menghalalkan apa pun yang di inginkan.


Sebagai seorang anak yang gagal, ia hanya bisa menatap jasad sang ayah tersebut yang sedang di rasuki oleh makhluk yang pernah ia temui.


“Aku mohon keluarlah dari tubuh ayahku sekarang,” pinta Andra dengan sendu.


Sebelum melanjutkan permintaan pesan dari tuannya di sela langsung oleh Andra putra dari tuannya itu.


“Sudahlah tak usah, aku tak apa-apa. Tak perlu menggunakan kekuatanmu terlebih dalam! Karena aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang,” sela Andra. “Oh aku akan menghubungi istri terlebih, setelah ia berangkat dari sana. Tolong lindungi mereka, karena aku masih khawatir dengan anak buah wanita itu.”


“Maaf untuk hal itu aku tak bisa, seharusnya kau lebih percaya pada tuhanmu. Bukan makhluk rendahan sepertiku, akan tetapi kau tak perlu khawatir tentang yang sedang kau lindungi itu tak akan bisa di lacak oleh wanita itu, dan juga dia tak akan bisa melukai keluargamu. Karena itu berasal dari diri putramu anak yang istimewa, kelak kau akan memahami arti dari pesan yang di sampaikan oleh tuanku.” Setelah berkata panjang secara detail, semakin lama tubuh jasad itu ambruk seiring dengan keluarnya makhluk hitam kesayangan dari tuannya tersebut.


Tak lupa juga Andra pun menghubungi sang istri tercinta, guna bisa menyuruh istri serta putra sambil membawa berkas aset milik Kevin Morgan Adhitya untuk di bawa kembali ke tempat seharusnya berkas itu berasal.


Beberapa bulan setelah kejadian terbunuhnya sang ayah tercinta, dengan lihai akhirnya Andra pun bisa datang kembali pada tuannya tercinta.


Mengembalikan semua berkas aset berharga yang selama ini selalu dalam lindungan tangannya.


Dan takdir tersebutlah membawa Andra menyembunyikan sepasang tiga orang bayi kembar, yang hampir saja mereka meregang nyawa bersamaan.


Jika saja saat itu ruh sang ayah tak mendatanginya, berkat bantuan dari ruh ayahnya Andra menyelamatkan nyawa sepasang bayi kembar yang merupakan seorang anak dari pasangan Siska dan Raymond Wesley Wiratmaja.


(Oh iya untuk readers ku tercinta, alur ini langsung masuk ke tiga orang kembar yang sudah mencapai dewasa. Atau lebih tepatnya masuk di mana mereka beranjak SMA, di sini lika-liku perjalanan dari si tiga kembar ini berusaha mengungkap tabir kematian sang mama tercinta. Yang sengaja di dibunuh oleh wanita ambisius berhati iblis itu, kini telah menjadi istri dari sang papa. Yang mana sampai kapanpun tak akan bisa mendapatkan hati dari seorang Raymond Wesley Wiratmaja.)


Tujuh belas tahun telah berlalu, di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota. Terdapat tiga orang anak kembar berbeda karakter itu.


Tengah menyiapkan perlengkapan diri untuk memasuki sebuah sekolah SMA favorit, tempat mereka untuk menimba ilmu.


Tak banyak orang tahu, ketiga kembar tersebut mempunyai kelebihan yang di wariskan dari mendiang almarhumah sang mama tercinta.


Ya ketiganya merupakan seorang anak istimewa, terlahir dari seorang wanita yang mempunyai hati dan sikap yang tulus.


Hingga sang wanita tersebut meninggalkan mereka selama-lamanya, akibat ulah dari seorang wanita berambisius itu yang berhasil melenyapkan nyawanya dan menggantikan posisinya sebagai seorang istri dari Raymond Wesley Wiratmaja.


Kembali pada ketiga orang anak kembar itu, masing-masing dari mereka dapat melihat makhluk tak kasat mata atau yang lebih di kenal dengan nama hantu.


Sedangkan di antara ketiga anak kembar itu, salah satunya masih merasa sedikit takut jika ia sudah berhadapan dengan para hantu ataupun arwah penasaran yang selalu meminta bantuan padanya dan dua orang saudara kembarnya.


“Ara,” panggil Alexa pada sang kakak yang terlahir lebih dulu beberapa menit darinya. “Apa kamu sudah menyiapkan keperluanmu untuk mos nanti?”


“Belum!”


Singkat padat jelas itulah jawaban dari sang kakak, yang membuatnya heran.


Di antara mereka bertiga yang lebih dingin justru sang kakak di bandingkan adik laki-lakinya Alex.


“Alex, apa kamu juga sama seperti Ara?” tanya Alexa pada Alex yang tengah mengunyah makanan itu.


“Alexa, bukankah kita bertiga ini terlahir dari rahim yang sama. Justru aku bertanya padamu, apa kamu masih takut dengan hantu-hantu itu?” sahut Alex dengan nada menyindir.


Mendengar nada sindiran yang di tunjuk untuk dirinya, ia pun mendengus seraya mengerucutkan bibir yang penuh kesal pada Alex saudara kembarnya.


Saat akan membalas sindiran yang di tuju untuk Alex, terdengar nada datar nan dingin bagai kutub es utara membuka suara.


“Bisa tidak saat kita bertiga sarapan di meja makan, jangan ada di antaranya bersuara. Kalian berdua membuatku tak berselera makan saja,” sahut Araxi dengan sorotan yang mendingin.


“Maaf!” ucap Alexa dan Alex bersamaan.


“Menyusahkan,” gerutu Araxi dengan datar. “Sekarang habiskan sarapan kalian, kita bertiga hampir terlambat masuk ke sekolah.” Begitu perintah ultimatum di keluarkan oleh Araxi, mau tak mau baik Alexa mau pun Alex dengan sangat patuh mengikuti perkataan dari sang kakak tersebut.


Kemudian mereka pun akhirnya makan dengan tenang, yang hanya terdengar dentingan sendok dan garpu sedang beradu.


Hingga beberapa menit kemudian, selesai sarapan bersama mereka bertiga pun beranjak meninggalkan rumah sederhana untuk menuju ke sekolah. Tempat di mana mereka akan menimba ilmu.


Sekolah ketiga orang kembar tersebut, berjarak .....