
Leonard tak memedulikan keberadaan kedua adik kembarnya yang sedang berdebat itu karena kini di tangannya tengah memegang ponsel untuk menghubungi sang papa dan memberinya kabar tentang kepindahan makam dari mendiang mama tercinta.
“Ada apa menghubungi Papa, Leo?” Nada dingin Raymond membuat Leonard langsung mengatakan langsung tujuannya.
“Maaf mengganggu waktumu sebentar, Pa.”
“Papa sedang bukan berada di kantor, Nak. Apa yang ingin kamu katakan itu!” Raymond mendesak putra sulungnya untuk mengatakan tujuan menghubunginya.
“Sekali lagi aku minta maaf, Pa. Apakah engkau tak keberatan jika nanti menemukan makam mama pindah?” tanya Leonard sambil memastikan.
“Jadi, kamu menemukan petunjuk yang mengarah ke mama begitu, hm!”
“Ini atas permintaan dari Alexa, Pa.”
“Apa mereka mengatakan jika ketiga adikmu itu mempunyai suatu kemampuan yang di turunkan dari mendiang mamamu?”
“Mereka hanya menceritakan sedikit hal tentang kepribadian dari masing-masing. Akan tetapi tahu tidak suara Alexa begitu mirip dengan mama.”
“Lalu bagaimana dengan kedua adikmu yang lain?”
“Papa pasti kaget kedua adikku yang ini sama-sama dingin, dan salah satunya lebih mirip denganmu, Pa.” Leonard mengeluhkan kepribadian Araxi yang begitu mirip dengan papanya.
“Bagaimana mendapat tatapan dingin itu, Nak?” goda Raymond yang membuat Leonard mencebik kesal.
“Bisa tidak kamu tak menggodaku, Pa. Kali ini aku akan mengatakan langsung tujuanku. Ku harap saat nanti mengunjungi makam jangan kaget jika tak menemukan di tempat seperti biasa.”
Terdengar helaan napas panjang dari arah seberang begitu mendengar kabar makam istri kesayangannya tercinta. Raymond menuruti keinginan keempat anak-anaknya karena dia sendiri telah mendapat persetujuan ketika berada dalam mimpi. Yang mana Siska memang meminta pada dirinya untuk memindahkan makam karena ancaman kehidupannya datang kembali.
“Oke kalau begitu aku akan menyuruh beberapa orang membongkar dan memindahkannya.”
“Tanyakan hal ini pada mereka mau di pindahkan ke mana makam mamanya itu.”
“Iya, iya, nanti aku tanyakan pada mereka.” Leonard mencebik kesal tak lupa dia mematikan sambungan yang sedang berlangsung, serta juga segera menyampaikan pesan dari papanya.
Selesai menghubungi sang papa dia menghampiri kedua adiknya sambil berdehem lalu berkata sesaui dengan pesan akan disampaikan. “Ada pesan dari papa untuk menanyakan hal ini pada kalian, soal kepindahan makam mama aman di tempat mana dari jangkauan wanita itu?”
Keduanya saling melirik satu sama lain karena mereka juga ingin Araxi mengetahui perihal kepindahan serta juga tempat yang paling aman dari incaran ibu tiri mereka.
Lalu kedua kembaran itu sama-sama kompak mengangguk memutuskan akan menyerahkan kepindahan makam mama mereka pada Araxi.
“Bolehkah kami berdua membahas mama dengan Araxi, Kak?” Alexa berkata sambil bertanya pada sang kakak tercinta.
“Apa kamu akan menghubunginya?” jawab Leonard dengan balik tanya.
Keduanya kompak menggeleng. Tak ada yang mengetahui jika salah satu di antaranya berbicara lewat telepati. Sembari memprotes perkataan Leonard yang menyayangkan kepolosan dari keduanya. Yang tak mempunyai sebuah ponsel untuk berkomunikasi.
“Lalu kalian menghubunginya dengan cara apa dan bagaimana?” Leonard mencebik kesal saat pertanyaannya tak mendapat jawaban.
Sebab, kedua adiknya ini sedang melakukan obrolan melalui sambungan bertelepati.
“Apa tak keberatan jika makam mama kamu yang menentukan tempat barunya?”
“Tempatkan mama di daerah ....”