
“Ada apa kau menyusulku ke mari?” tanya Theo to the poin sambil mendudukkan bokongnya di atas ranjang.
“Apa kau tak senang jika aku datang menyusulmu?” tanya Leonard balik dengan perasaan dongkol.
“Ti–dak bu–kan begitu Le,” jawab Theo dengan terbata-bata.
Mata Leonard memicing ke arah Theo yang menjawabnya dengan terbata-bata itu. “Aku harap kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku Yo!” ancam Leonard dengan nada dingin.
Theo pun semakin merasa bersalah pada Leonard karena sudah menyembunyikan sebuah rahasia itu. “Maaf Le! Bukannya aku menyembunyikan sesuatu darimu, akan tetapi apa kau siap dengan semua yang nanti aku katakan padamu?” tanya Theo sambil memastikan.
“Katakan langsung intinya!”
Dengan mengangguk pasrah terpaksa Theo menceritakan semua perihal tentang si kembar, dan juga ia meminta maaf pada sahabatnya itu. “Maaf aku tak bermaksud menyembunyikan mereka darimu Le! Kau tahu bukan mereka itu masih menjadi kejaran dari ibu tirimu itu, bahkan aku sangat yakin kalau pun mereka di temukan pasti ibu tirimu tak terima. Maka sebaiknya kau sembunyikan mereka dari siapa pun, agar mereka tak lagi menjadi kejarannya.”
Mendengar perkataan tersebut Leonard pun akhirnya mengerti, mengapa ia tak pernah bisa menemukan keberadaan adik kembarnya itu, bahkan jika ia bisa menebak dengan jelas bahwa gadis yang tengah di rawat itu tentunya salah satu dari adik kembarnya itu.
Namun ia tak melihat dengan jelas kedua adik kembarnya yang lain, dan terpaksa ia harus menanyakan hal ini pada sahabatnya itu. “Jika aku boleh berharap. Apakah gadis tomboi yang tengah terbaring di atas brankar itu apakah itu salah satu adikku Yo? Lalu di mana kedua kembarannya? Bukankah mereka berdua yang saat itu sedang bersamamu?”
Dengan berdehem Theo pun akhirnya menjelaskan semua perihal tentang adik kembar sahabatnya tersebut. “Jadi kau sudah bertemu dengan salah satu adik kembarmu itu?” tanya Theo yang di angguk kepala oleh Leonard.
“Benar aku sudah bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi Yo apa yang membuatnya masuk ke rumah sakit itu?”
Sebelum menjawab pertanyaan dari Leonard, Theo pun memastikan bahwa sahabatnya itu tak terlalu kaget dengan kemampuan dari adik kembarnya itu. “Aku ingin tanya padamu Le! Apa kau akan percaya bahwa ketiga adik kembarmu itu bisa melihat makhluk dari dunia lain?” Theo pun menjelaskan kembali tentang ketiganya yang dapat melihat beberapa makhluk dari dunia lain.
Pantas saja saat pertama kali bertemu Leonard sudah pasti menebaknya, bahwa ketiga adik kembarnya itu menurunkan kemampuannya dari mendiang mama tercinta.
“Le ada apa dengan reaksimu itu? Apa kau sudah bisa menebak bahwa mereka seperti mendiang Mamamu begitu kan?” tanya Theo. “Bahkan kemampuanku pun kalah dengan mereka.”
Setelah mengatakan hal tersebut Leonard pun langsung memejamkan mata, selang beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran halus.
Menandakan sahabatnya tersebut tengah memasuki alam mimpi.
.
.
.
.
.
Sudah up ya ges
Jangan lupa dukung terus
Karya receh ini
See you next time
Love You