Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Rencana Marista Untuk Membunuh Dukun & Resah Hati Angel


“Sayang,” panggil Andra pada Theo. “Apa benar yang kamu katakan itu hem?” tanya Andra pada putranya.


“Maafkan aku ayah!” ucap Theo. “Maaf kalau aku selama ini selalu bermimpi dengan seseorang yang mirip dengan ayah, dan ternyata orang yang selalu hadir di alam mimpiku adalah kakekku.”


“Lalu dari mana kamu bisa tahu tentang kakekmu itu?” sahut Andra seraya bertanya pada putranya tersebut.


“Oh itu ada seseorang atas suruhan kakek yang sedang kemari ayah,” jawab Theo. “Aku sebenarnya takut dengan mereka,” cicit Theo sembari mengadu pada ke dua orang tuanya tersebut.


Andra sebagai sang ayah sendiri itu pun tak menyangka, bahwa putranya tercinta telah bertemu salah di antara mereka yang pernah menunjukkan wujud aslinya di hadapan dirinya.


Pada saat ia memperingatkan sang ayah tentang seorang wanita yang bersusuk pelet tersebut.


Hingga sekarang ia pun masih mengingat dengan jelas wujud asli dari salah satu makhluk tak kasat mata, suruhan dari sang kakeknya Theo tersebut.


“Apa kau di sakiti oleh mereka?” tanya Andra sembari mengkhawatirkan keadaan putranya.


“Kalau aku di sakiti oleh mereka, pasti aku akan langsung sakit ayah,” jawab Theo. “bukankah ayah sendiri bisa mengerti semua tentang keadaanku!” ucap Theo seraya bertanya balik.


Menghela nafas panjang seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. “Baiklah sayang, maafkan ayah seharusnya sebagai seorang orang tua. Ayahmu ini telah gagal menjadi seorang anak dari kakekmu,” sahut Andra dengan perasaan yang menyesal.


Bukannya menjawab perkataan yang terlontar dari sang ayah, justru ia semakin merasa gelisah setelah makhluk itu memberinya pesan dari sang kakek tercinta.


“Ayah cepat pergilah ke rumah kakek,” desak Theo dengan panik. “Ibu ... Cepat bantu aku untuk membujuk ayah,” sahut Theo seraya meminta bantuan pada sang ibu, tanpa mendengarkan semua yang terlontar dari ayahnya itu.


Sang ibu yang sedari hanya diam menyimak tersebut dengan terpaksa membantu sang putra untuk membujuk ayahnya tercinta.


“Apa yang di katakan oleh Theo itu benar, mungkin ikatan batin mereka sangat kuat. Meskipun pertemuan mereka hanya di alam mimpi,” ujar Ella.


Dengan berat hati terpaksa ia sebagai sang istri harus lebih sabar membujuk sang suami. “Pergilah temui ayahmu, kami di sini pasti akan baik-baik saja.” Ella berkata untuk membuat sang suami tercinta tak terlalu mengkhawatirkan keadaan dirinya dan sang putra tercinta.


Karena biar bagaimanapun baik Ella maupun Theo di pastikan tak akan bisa di usik, mengingat tempat tinggal mereka sekarang sangatlah sulit di lacak oleh wanita tersebut.


“Sudahlah tak perlu khawatirkan keadaan kami!” sahut Ella seraya menatap ke arah dan suami yang tengah mengkhawatirkannya.


Dengan sedikit berat mau tak mau Andra pun terpaksa memilih mengalah, daripada ia selalu di buat tak berdaya.


Saat berdebat dengan sang istri tercinta, yang membuatnya menjadi diam tak berkutik.


“Baiklah dear!” Andra berkata seraya menghela nafas gusar. “Aku akan berangkat ke rumah ayah sekarang, tapi kamu harus berjanji padaku! Jika terjadi sesuatu dengan kalian, cepatlah untuk menghubungiku. Bisa melakukan ini untukku?” ujar Andra sembari bertanya pada istrinya tersebut.


Tanpa menjawabnya sang istri tercintanya itu pun dengan gerakan anggukan kepala, menunjukkan bahwa ia memahami kekhawatiran yang ada di dalam Andra tersebut.


“Kalau begitu aku langsung berangkat sekarang juga,” pamit Andra sembari memberi ciuman di kening sang putra. Serta ia pun juga tak lupa mengecup singkat bibir sang istri tercinta.


“Hati-hati di jalan ayah!” sahut Theo. “Semoga ayah tak terlambat untuk datang ke rumah kakek,” bisik Theo dengan sendu tanpa terdengar oleh ke dua orang tuanya tersebut.


Setelah berpamitan dengan sang istri serta putranya, dengan terpaksa Andra pun meninggalkan ke duanya untuk menemui sang ayah yang selama ini ia rindukan, setelah sekian lama hatinya menjadi keras seperti batu.


Mengendarai sebuah mobil, yang mana mobil tersebut merupakan mobil kesayangan milik Kevin Morgan Adhitya, yang selalu rawat sebelum kembali pada pemilik aslinya.


Berpacu dengan kecepatan sedang, dengan di iring perasaan yang tiba-tiba membuat dadanya kembali sesak.


Entah mengapa perasaannya kini menjadi tak terkendali, setelah mendengar semua perkataan yang terlontar dari putranya tersebut.


‘Ayah aku harap dapat datang dengan tepat waktu, entah mengapa perasaan ini menjadi tak karuan ayah! Maafkan atas semua sikapku terhadapmu, aku pun sama semua yang ayah lakukan sudah aku lupakan. Jadi tunggulah kedatangan putramu ini.’


Bisik Andra dengan sendu, serta tak lupa sorotan matanya menatap ke arah jalanan menjadi lebih dingin untuk menutup kesedihan yang sedang melanda dirinya.


*******


“Istriku ini kalau memasak selalu tiada tandingannya,” puji Raymond.


Yang mana membuat pipi istrinya tersebut menampakkan semburat merah merona di wajah cantiknya.


Namun ia tak menyangka pujian yang ia lontarkan untuk istrinya itu pun di hadiahi oleh sang istri dengan sebuah cubitan pedas yang membuatnya meringis menahan sakit.


“Sayang kenapa di cubit,” rengek Raymond dengan mengerucut kesal.


“Jangan terlalu suka membual.”


“Aku bukan membual sayang ...” ucap Raymond dengan jeda. “Akan tetapi apa yang aku katakan itu memang benar adanya bahwa kamu istri yang sangat sempurna di mataku.”


Bisik Raymond dengan penuh cinta.


Mereka pun menikmati waktu bersama dengan seorang Siska yang menemani suaminya berkutat dengan beberapa berkas yang harus membuatnya suaminya di buat pusing dengan beberapa proyek yang sedang di kerjakan oleh Raymond tersebut.


******


Di ruangan sebelah yang tak jauh dari ruangan Raymond terhadap seorang wanita yang menahan amarahnya yang menggebu-gebu.


Puncaknya kala itu ketika mendengar bisik-bisik bahwa istri dari Raymond tersebut ternyata baik-baik saja tanpa ada cacat sedikit pun.


Ambisi dan obsesinya pada Raymond cukup besar dengan tekad yang sangat bulat apa pun caranya ia harus segera bisa menyingkirkan istri dari Raymond tersebut dengan mengirimnya ke alam baka beserta seorang dukun yang telah gagal melakukan tugasnya.


Namun sebelum menyingkirkan istri Raymond. Ia terlebih dahulu harus segera melenyapkan dukun itu untuk menghilangkan semua jejak kejahatannya sebelum suaminya yang cacat itu mengetahui akal busuknya.


Tanpa ia sadari bahwa sesungguhnya sang suami telah sembuh dari penyakit mistis yang menimpanya atas permintaan darinya kala itu setelah ia gagal merebut aset berharga milik Kevin Morgan Adhitya yang di bawa lari dan di sembunyikan oleh Andra asisten sang suami.


‘Apapun yang terjadi aku akan tetap menyingkirkan istrimu itu Ray! Dan membuatmu menjadi milikku, sama seperti yang aku lakukan pada pria sialan itu!'


Dengan seringai licik yang tersungging di wajahnya itu menemukan ide untuk melenyapkan dua orang tersebut.


Pertama yang harus ia lakukan adalah membunuh dukun tersebut. Meski pun selama ini berkat bantuan dukun itulah ia bisa menjadi seperti sekarang, termasuk saat dukun tersebut memasangkan wajahnya dengan pelet susuk yang dapat membuat seseorang terpikat.


Namun hal tersebut membuatnya gagal, lantaran seseorang yang ia pelet itu sama sekali tidak terpengaruh dengan aura kecantikan hasil dari susuk tersebut.


Dan sialnya orang yang terpikat dengan susuk tersebut merupakan seorang pria bernama Kevin Morgan Adhitya, yang mana ia telah membuatnya menjadi pria yang tak berdaya.


Sebelum melancarkan aksinya, ia pun menghubungi suruhan dari Kevin, yang mana mereka tersebut telah menjadi anak buahnya. Yang di buat atas perintah yang langsung tertuju untuknya.


Mengambil ponsel pintar miliknya seraya menekan sebuah nomor untuk menghubungi salah orang kepercayaan untuk membantunya melenyapkan dukun tersebut.


“Halo, iya nyonya dengan saya sendiri,” terdengar sapaan di seberang yang mengangkat panggilan penting darinya.


“Aku ada tugas untuk kau dan temanmu, apa kau bisa melakukannya untukku?” sahut Marista tanpa berbasa-basi sembari bertanya pada seberang telepon.


“Baiklah nyonya! Lalu kapan saya dengan rekan saya lainnya, menjalankan perintah dari nyonya?”


“Nanti aku hubungi lagi, serta jangan lupa jemput aku di tempat yang aku kirim ke ponselmu. Apa kau paham?”


Perintah Marista sembari memutuskan panggilannya itu, sebelum ia mendengar jawaban dari anak buahnya yang sengaja ia suruh untuk menjemput dan melancarkan aksinya. Untuk membunuh dukun tersebut, tanpa ia sadari ada sesosok makhluk tak kasat mata yang tengah mendengar semua perkataan yang terlontar dari bibirnya.


Sesosok tersebut tak lain tak bukan ialah Angel. Yang hanya berupa arwah penasaran itu pun tak menyangka. Ia bisa bertemu dengan seorang manusia, namun manusia itu mempunyai hati yang tamak dan serakah.


‘Perasaanku kenapa tak karuan begini setelah menatap mata wanita itu. Ada aura kebencian yang berasal dirinya, apa mungkin dia ....’


Mau tak mau Angel pun harus segera memanggil sang kakak tercinta, untuk menceritakan semua yang telah ia dengar dari wanita tersebut. Yang sialnya wanita tersebut. Merupakan seorang wanita yang berambisi besar untuk melenyapkan Siska, istri dari Raymond tersebut.