Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Flashback 17 Tahun Yang Lalu Bag IV


ini masih flashback ya maaf kalau tidak nyaman dengan alur cerita nya karena apa aku membuat alur ini sesuai dengan apa yang aku tuangkan di sini.


See you next time


Love you all more


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


********


“Sialan kau, sampai kapan pun aku tak pernah mau mengakui darah dagingku. Karena aku ingin dari rahimku ini yang mengalir darah dagingnya, bahkan aku sendiri tak pernah mengakui darah dagingku dari mantan suamiku. Apa kau mau peluru pistol yang aku bawa ini menembus jantungmu, sebelum bersuara sebaiknya kau jaga baik-baik setiap perkataan yang terlontar dari mulutmu itu.” Bentak Marista dengan menodong pistol yang selama ini selalu ia bawa ke mana pun ia melangkah.


‘Cih kau pikir aku takut dengan pistolmu, akan tetapi aku sangat tak yakin kau bisa mempunyai seorang anak dari pria yang kau incar itu. Karena pria itu telah terlebih dahulu di buat cacat oleh seseorang, bahkan aku sendiri tak dapat menjerat hatinya untuk berlabuh ke arah dirimu wanita iblis nan licik.’ Gumam dukun itu dengan seringai licik di wajahnya.


Bukan untuk membantu wanita di hadapannya ini merasa menang, akan tetapi ia memang seperti itu dengan sengaja membiarkan wanita yang tak pernah gencar mengejar milik orang lain merasakan sesuatu yang akan ia tanam kelak.


Kemudian Marista pun membuka suara, membuyarkan lamunan dukun itu, dengan mengatakan bahwa ia sendiri yang akan membunuh bayi itu bila memang masih hidup. “Kalau pun bayinya masih hidup maka aku sendiri yang akan menyingkirkannya.”


Selesai mengatakan itu Marista pun beranjak dari tempat dukun tersebut, guna memastikan dan ia harus segera melenyapkan bayi Siska yang tak berdosa itu untuk di bunuh oleh ke dua tangannya sendiri.


‘Sialan, kenapa bayi wanita tak berguna itu harus hidup. Kalau pun memang benar, secepatnya aku harus mencari cara untuk menyingkirkan bayi Raymond. Agar hanya rahimku yang dapat melahirkan darah daging Raymond!’ lirih Marista tegas.


Namun tanpa ia sadari bahwa setelah melakukan operasi pada seluruh tubuh Raymond pria yang menjadi incarannya sejak dulu, mengalami suatu hal yang mana ia tidak akan pernah bisa memberi seorang keturunan untuk wanita lainnya.


Karena hati Raymond itu sendiri telah terkunci rapat menyisakan nama Siska sebagai seorang yang selalu ia cintai seumur hidup.


Dengan bergegas Marista pun melajukan mobil yang ia kendarai itu, untuk bisa sampai ke tempat di mana Raymond mendapatkan perawatan. Serta tidak lupa ia harus segera memastikan sesuatu yang membuat pikirannya gelisah.


Setelah mendengar penjelasan dari seorang suster, alangkah terkejutnya Marista mendapati kenyataan bahwa bayi dari wanita tersebut masih hidup dengan selamat meskipun ibunya meregang nyawa.


Sambil menahan emosinya setelah keluar dari ruangan Raymond yang tengah di periksa oleh seorang suster itu, beranjak ke arah sebuah taman rumah sakit. Guna melancarkan aksinya, ya ia menginginkan kematian ketiga bayi kembar tersebut untuk bisa merebut posisi dan menggesernya dengan anaknya nanti yang akan di kandung olehnya setelah menikah dengan pria yang sejak dulu cintai diam-diam.


Dari arah lain Andra pun di buat tercengang mendapati seseorang wanita yang telah membunuh mendiang Ayahnya tersebut, dengan diam-diam ia mengikuti langkah kaki wanita yang menuntunnya di sebuah taman rumah sakit, serta tak lupa menguping pembicaraan wanita itu.


Bagaimana Andra tak terkejut dengan kenyataan yang ia dengar bahwa wanita itu berusaha membunuh ketiga bayi kembar yang tidak berdosa tersebut, untuk menggagalkan rencana dari wanita yang ia sebut iblis itu dengan gerakan cepat ia menghubungi Tuannya. Guna memberikan laporan tentang rencana yang telah ia curi dengar.


Setelah Andra selesai menghubungi Tuannya, ia pun berlalu meninggalkan Marista yang masih menghubungi untuk menjalankan rencana yang sedang ia susun, tanpa di sadari ada sesosok Andra yang menggagalkan rencana tersebut.


Pastinya Andra pun mengikuti permainan yang di mainkan oleh wanita yang telah membunuh Ayahnya tersebut.


Dan waktu yang di tentukan telah tiba. Pada malam hari lebih tepatnya saat rumah sakit tersebut dalam keadaan sunyi tanpa ada pengawasan ketat, dengan leluasa Marista dengan orang suruhannya mendapat tempat ketiga bayi kembar tersebut.


Yang sialnya tanpa di sadari bahwa pergerakan mereka telah di awasi oleh dua orang yang sedang memantaunya dari jarak jauh. Kedua orang tersebut memang sengaja mengikuti permainan yang di lakukan oleh Marista, untuk bisa menyelamatkan ketiga bayi kembar itu dan menempatkan mereka di sebuah desa terpencil yang telah di sepakati sebelumnya.


“Apa kau sudah siap?” tanya Kevin dingin.


“Orang-orang suruhan yang aku tugaskan sudah bersiap di tiap titik lokasi untuk mengikuti ke mana arah mereka membawa para bayi itu,” jawab Andra mantap.


“Jangan sampai gagal menyelamatkan bayi tak berdosa itu dari tangan wanita iblis nan licik.” Dengan sorotan mata mendingin itu Kevin bersumpah akan berusaha menyelamatkan mereka dari kekejaman seorang wanita yang pernah mengisi hatinya.


Oh tidak lebih tepatnya wanita yang telah menorehkan luka hatinya, dengan luka hati putrinya tercinta tersebut.


Tak selang berapa lama kemudian ketiga bayi kembar tersebut di bawa paksa oleh suruhan dari Marista, tanpa babibu Kevin bergerak cepat menuju arah mobil yang terparkir untuk mengejar para penculik tersebut dengan berhati-hati.


Mobil yang di tumpangi oleh Kevin tersebut saling mengejar satu sama lain, hingga ia berhasil menghentikan laju mobil yang menculik ketiga bayi kembar itu.


Tak lama kemudian Kevin bernegosiasi serta tak lupa mengancam para penculik tersebut, yang merupakan mantan para anak buahnya. Namun mereka telah menjadi kendali atas kuasanya Marista.


“Rupanya kalian yang berkhianat denganku,” ucap Kevin dingin tanpa berbasa-basi.


Ketiga para penculik tersebut tak menyangka kedok yang selama ini merapat simpan rapat, bisa di bongkar oleh seseorang yang sangat berkuasa sebelum mereka mengkhianati tuannya.


“Lalu apa maumu Tuan Kevin?” tanya seorang penculik itu pada Kevin.


“Kalian itu tidak seharusnya menuruti semua kemauan wanita iblis untuk menculik bayi-bayi yang tak berdosa ini,” jawab Kevin santai tanpa merasa takut menghadapi para penculik bayi itu.


“Tuan Kevin sebaiknya Anda tak perlu ikut campur masalah ini.”


“Apa kalian sedang mengancamku?” sahut Kevin dengan sorotan mata dingin.