
“Apa yang Mama harapkan dari pernikahan Papamu itu? Mungkin kamu berpikir bahwa Mama sendiri yang membiarkan Papamu menikah lagi, akan tetapi Mama juga tak bisa melawan sesuatu yang telah menjadi pilihan Mama. Apa kamu paham sayang?” ucap Siska membuka suara untuk memecahkan keheningan. “Bahkan kamu juga harus terpisah dengan ketiga adik kembarmu sejak mereka masih bayi, hal tersebut sesosok yang menjaga adik-adikmu itu telah melindunginya dari kejaran seorang yang sangat kamu kenal.”
Leonard pun semakin tak mengerti dengan semua yang dikatakan oleh Mamanya tersebut, akan tetapi ia berusaha menepiskan tentang seseorang yang menurutnya sangat ia kenal itu.
Tanpa sadar ingatannya mengantarkan pada sesosok yang kini menjadi ibu tirinya tersebut. “Jangan bilang yang ingin Mama maksud adalah ...” yang di angguk kepala oleh Mamanya tersebut.
“Sekarang yang Mama ingin minta darimu adalah kamu harus selalu melindungi dan menjaga mereka, mengingat sampai sekarang ia masih terobsesi ingin membunuh adik kembarmu itu sayang.” Dengan nada yang lembut Siska pun meminta putra sulungnya itu untuk selalu menjaga adik kembarnya.
“Tanpa Mama bilang pun, pastinya aku akan menjaga dan melindungi mereka.” Ujar Leonard dengan nada tegas. “Lalu apa Mama tak masalah jika mereka masih dalam lindungan rekan bisnis Papa?”
Siska pun menggeleng kepala, bahkan ia sangat berterima kasih pada seseorang yang dulu pernah menolong suaminya tercinta, dan hanya pada pria itu rahasia Raymond suaminya terjaga sangat rapi hingga kini.
Bahkan ia sangat mengetahui bahwa suaminya tak pernah bisa mempunyai anak kembali setelah kecelakaan itu, besar kemungkinan wanita tersebut yang merekayasa suatu tes DNA yang berhubungan dengan putrinya itu.
Yang sialnya mereka sama sekali tak mempunyai hubungan darah antara ayah dan anak tersebut.
Setelah di rasa tak ada obrolan kembali, Albert memutuskan untuk meninggalkan Araxi seorang diri di kamar inapnya seorang diri, sembari Araxi menunggu dua kembarannya untuk menemui dirinya itu.
“Sekali lagi aku minta maaf denganmu Ra! Apa kau tak masalah jika aku ingin menjadikanmu ratu di hatiku. Jika tidak, maka aku akan memperlakukanmu sangat istimewa. Sudah ya aku mau menemui Angel terlebih dahulu, maaf juga bila aku tak begitu pandai dalam mengungkapkan perasaanku yang sangat mendalam ini!” Sambil mengusap bibir Araxi yang sedikit membengkak akibat ulahnya itu, tak lama kemudian ia pun menghilang dari pandangan gadis pujaan hatinya untuk menemui Angel sang adik tercinta.
Dari arah luar kamar inap Araxi, yang mana saat ini terdapat Alexa dan Alex yang baru saja tiba setelah mereka kembali dari desa tersebut.
Melihat dua orang yang tengah tertidur di depan kamar inap Araxi, Alexa pun menghampiri dan membangunkan ke duanya, untuk menanyakan keadaan Araxi selama mereka tak menjaga kembarannya tersebut.
“Om!” panggil Alexa sembari mengguncang badan Kevin, selang beberapa detik kemudian Kevin merasa di panggil itu pun membuka mata. Dan ia terkejut melihat kedatangan dua kembar yang telah kembali dari desa tersebut. “Mengapa Om dan Kak Ivone tidur di sini? Lalu bagaimana dengan keadaan Araxi Om?” tanya Alexa sembari menunggu reaksi dari Kevin yang berusaha bangun dari tempatnya duduk.
“Ah iya maaf kalau Om malah ketiduran di sini! Karena tak mungkin juga Ommu ini meninggalkan Araxi sendirian,” jawab Kevin sambil menguap lebar untuk menghalau rasa kantuk yang masih menerpanya. “Kalau kau ingin tahu keadaannya langsung saja masuk ke dalam, dan bolehkah Om tidur kembali? Jangan lupa untuk Araxi minum obat, sama itu luka jahitan di bahu Araxi jangan sampai kena air.”
Seakan mengerti dengan penjelasan dari Kevin, kedua kembar itu masuk ke dalam kamar inap milik Araxi yang sedang melipat tangan di dada.