Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Persiapan Alex dan Alexa Menyelamatkan Tulang Milik Mendiang Mama


“Kamu benar juga sayang, lebih baik Araxi berada di sini terlebih dahulu ... Tetapi apakah nanti ada yang menjaganya selama kita pergi?” tanya Leonard yang terlihat mencemaskan keadaan Araxi.


“Tak usah cemaskan Araxi, karena nanti akan ada yang menjaganya Kak,” jawab Alex dengan sedikit menggoda Araxi. Karena aku tahu bahwa Albert tak akan bisa tinggal diam, jika tak berada di dekatmu, bahkan diam-diam Sasa juga sama sepertimu Ra.


Araxi yang mendengar ucapan Alex pun mendengus kesal, entah mengapa kembarannya satu ini selalu saja membuat dirinya tak bisa berkutik, jika menyangkut tentang Albert yang telah berhasil meruntuhkan dinding es yang telah ia bangun sejak lama.


“Memangnya siapa yang menjaga Araxi nanti?” Leonard pun mengulang pertanyaan yang sama.


Tak menjawab pertanyaan dari sang Kakak, justru Alex bertanya balik pada sang kakak tercinta, dan memastikan apakah kakaknya tersebut mengerti tentang sesosok yang menjaga kembarannya itu. “Apa Kakak benar-benar ingin tahu?”


“Katakan dengan jelas, siapa nanti yang akan menjaga Araxi?” tegur Leonard dingin sambil terus mengulang pertanyaannya.


“Eh, itu Araxi nanti di jaga sa–” belum sempat menjawab pertanyaan dari kakak Araxi dengan cepat membekap mulut Alex, yang hendak memberitahukan perihal tentang Albert pada kakaknya tersebut.


“Sekali lagi kamu membocorkan perihal tentangnya pada dia, aku enggak akan segan untuk memarahimu Lex,” bisik Araxi dingin dengan nada penuh ancaman. “Karena aku tak ingin siapapun mengetahui tentang kelakuannya padaku, terutama kamu yang selalu tahu banyak tentangnya. Paham kamu?”


Mendapat ancaman dari kembarannya, Alex pun mengangguk pasrah, ia tak menyangka kembarannya begitu sangat marah kepada dirinya, atas perlakuan yang dilakukan oleh hantu tampan tersebut.


Membuat Alex merasa kesal karena Araxi menjadi dingin tak tersentuh, tetapi ia begitu sangat bahagia kembarannya di cintai dalam diam oleh sesosok yang selama ini menjaga ketiganya.


“Kamu tak perlu mencemaskan tentang keadaanku Kak. Karena aku bisa menjaga diri di sini,” ucap Araxi dingin. “Lebih baik kalian segera berangkat berkunjung ke makam Mama, jangan sampai kalian menyesal tak menuruti permintaan dari Mama. Lagipula nanti ada Om Kevin dan Kak Ivone yang bisa menjagaku.”


Leonard yang masih tak ingin beranjak dari kamar adik tomboi dinginnya ini, tak bisa membantah permintaan darinya, dan juga entah mengapa ia merasakan perasaan gelisah terhadap mendiang sang mama tercinta. Apakah mungkin ini ada hubungannya dengan mereka?


“Baiklah kalau begitu aku dan mereka akan pergi sekarang, ingat kamu tak boleh ke mana-mana, dan juga kalau ada apa-apa segera minta bantuan sama Om Kevin.” peringat Leonard dingin. “Hei, kalian berdua ayo kita keluar untuk berkunjung ke makam Mama,” ajak Leonard yang di angguk kepala oleh kedua adik kembarnya.


Di rasa kamar inap yang di tempat Araxi sepi, dengan terpaksa ia harus bisa menunggu kabar dari kedua kembarannya, bahkan ia sendiri tak bisa berlama-lama duduk di atas brankar tersebut.


Seakan-akan ia ingin ikut serta menyelamatkan tulang milik Mama tercinta, dan ia pun tak begitu memahami tentang obsesi wanita itu, yang selalu berusaha menghancurkan kebahagiaannya.


.


.


.


.


.


Mohon maaf ya aku nge up cuman satu


Kalau mau double up buat besok jangan lupa minta kembang sama kopinya ya 😘😘


See you next time


Love you for all