
Mengingat Leonard pun memahami tentang ibu tirinya yang lebih mementingkan kehidupan Prisilia, dibandingkan dengan Ivone yang sangat lebih membutuhkan kasih sayangnya, dan juga ia sangat yakin bahwa Prisilia tentunya tak ada hubungan darah dengan Papanya.
Hal tersebut sangat kontras dengan pengakuan Papanya yang merasa tak pernah menghamili ibu kandung dari gadis di depannya itu.
“Oke maaf kalau begitu Von, aku tak akan menyinggung perihal tentangnya padamu. Lalu jika aku sedikit berbicara tentang Prisilia apa kau akan menganggapnya sebagai seorang adik? Mengingat kau dengannya terikat darah yang tak bisa dipisahkan,” ucap Leonard sembari menjelaskan perihal tentang Prisilia.
Ivone hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar nama Prisilia yang masih tak bisa ia anggap seorang adik itu, mengingat kebersamaannya dengan seseorang yang memberinya tak akan pernah bisa ia lupakan. “Apakah benar dia adik kandungmu?” tanya Ivone dengan raut wajah yang terlihat dingin.
Seperti yang Leonard duga, apa yang sedang mereka berdua bicarakan itu sangat membangunkan sebuah luka hati yang selama ini tak pernah ia tahu, bahkan ia sangat bisa melihat dengan jelas tatapan mata Ivone menunjukkan luka hati yang selama ini ia tutup rapi, tanpa pernah ia tahu bahwa luka yang di torehkan ibu kandungnya Ivone sangat memberikan dampak yang besar.
Tak menutup kemungkinan Ivone bisa membenci pada seseorang yang tak pernah menginginkan kehadirannya di dunia ini.
Ivone yang mendengar hal tersebut memicing mata ke arah Leonard, ia sendiri pun tak memahami maupun berusaha memercayai pertanyaan yang di katakan oleh Leonard tentang Prisilia. “Maksudmu apa Le? Bukankah Mamaku menikah dengan Papamu yang secara otomatis Prisilia anak dari Papamu itu.”
Sudah aku duga reaksimu bakal seperti ini Von. Andai kau tahu bahwa Prisilia memanglah bukan anak kandung dari Papaku, mengingat saat itu Papaku dalam masa kritis tak mungkin bisa menikah langsung dengan Mamamu yang tiba-tiba datang mengatakan bahwa ia hamil anak yang saat itu aku tak yakin itu anak Papaku. Karena Papaku di vonis oleh dokter tak bisa mempunyai keturunan, akan tetapi Mamamu dengan nekat membawa bukti palsu tes DNA yang aku yakin itu sekadar rekayasa. Agar Papa mau menikahi Mamamu, bahkan saat itu Papaku masih masa berkabung di todong oleh Mamamu yang mendesaknya ingin segera menikahinya. Dengan bersuara batin Leonard pun hanya bisa mencurahkan semua isi hatinya.
Bahkan ia masih ingat dengan jelas, bagaimana cara wanita itu masuk ke dalam kehidupannya dengan papa tercinta, untuk itulah ia dengan Papanya tersebut tak pernah menganggap wanita yang telah melahirkan gadis di depannya sebagai pengganti mendiang mama kandungnya tercinta.
“Maksudku adalah Prisilia memang bukanlah adik kandungku Von,” jawab Leonard dingin. Tentu saja adik kandungku kembar, tak mungkin aku tak mengakui Prisilia sebagai adikku. Mengingat dia tak memiliki sifat yang sama denganku maupun Papa. Karena Papaku juga tak pernah merasa meniduri Mamamu. Maaf kau harus menerima kenyataan itu.
Namun lagi-lagi tanpa Leonard sadari ada seseorang yang sangat tak sengaja mendengar semua pembicaraan dengan Ivone, terutama curahan batinnya itu pun terdengar langsung oleh dua orang yang masih terdiam membisu.