Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 200


Tak membuat perasaanku menghilang begitu saja Al, sampai sekarang aku diam-diam juga mempunyai perasaan yang sama denganmu. Akan tetapi aku tak ingin siapa pun mengetahuinya.


Perasaan terwakilkan ketika orang tersebut menyimpan hal yang sama. Namun, Araxi tetaplah Araxi yang pandai menutupi tanpa pernah orang lain mengetahuinya.


Bosan menunggu di kamar inap. Ia pun meminta bantuan pada seorang suster untuk mengantarkannya ke taman dekat rumah sakit tersebut.


Siapa yang menyangka justru Araxi mendapati seorang suster yang telah menjadi arwah penasaran.


Sampai di taman rumah sakit Araxi enggan membuka suara tentang arwah hantu suster tersebut. Mengingat ia tak akan gegabah bertindak yang menyebabkan Alex mengetahuinya.


“Apa kau bisa menolongku!” Suster tersebut akhirnya membuka suara seraya meminta pertolongan.


“Menolongmu karena apa?” Tanpa menjawab pertanyaan dari hantu suster tersebut. Sambil memejamkan mata Araxi tak menyadari bahwa ia telah berada di dimensi milik arwah itu.


Pada waktu itu ketika mendengar kabar yang menyakitkan. Selesai menangani seorang pasien suster itu pun bergegas pulang. Guna memastikan apa yang telah didengar oleh dirinya yang mengatakan kebenaran tentang Putra kesayangannya tercinta.


Ketika sampai di rumah sederhana miliknya tanpa menyadari ia mendengar suara de5ah4n yang berasal dari kamar pribadinya. Sayup-sayup suara itu pun semakin kencang, dan membuat sesak di dada seperti ditusuk dengan sebuah pisau.


Sambil terus mendengarkan suara tersebut, ia pun tak menyangka akan mendengar perkataan yang begitu menyakitkan.


“Kapan kamu bercerai dengan istrimu itu, Mas?” Suara manja dengan diiringi d3s4h4n membuat suster mengepalkan tangan.


“Bersabarlah tunggu waktunya tiba. Kau tahu sendiri 'kan? Aku berusaha mendapatkan harta warisan itu tapi tak akan pernah bisa ku dapatkan.”


'Jadi, dia menikahiku karena ingin menguras harta kekayaan mendiang suami pertamaku.' Bergumam lirih tanpa air matanya menetes dengan sendiri.


Tak tahan dengan suara yang begitu menji'jikkan di telinganya. Sekuat tenaga ia mendobrak pintu kamar itu dengan keras. Membuat kedua insan yang sedang menikmati surga dunia terkejut dengan kedatangannya.


“Kurang ajar kamu, Mas!”


Tanpa menghiraukan teriakan pria itu menyuruh kekasih gelap memakai pakaian sambil menunggu ia menyelesaikan urusannya dengan suster tersebut.


“Tak ada urusannya denganmu.” Santai tanpa merasa takut pria itu pun semakin menantang sang istri sampai apa yang diinginkannya berhasil ia dapatkan.


“Jadi, selama ini kau hanya mengincar harta peninggalan suamiku? Lalu kemana-kah jasad anakku, Mas?” Sekuat tenaga ia mencecari pria itu agar mau mengakui kejahatannya.


Akan tetapi, pria enggan mengakui. Bahkan semakin menjadi perilakunya selama ini.


“Sudah ku katakan bukan! Semua ini tak ada urusannya denganmu! Kau memang benar aku hanya mengincar apa yang ada di dalam rumah ini beserta surat wasiat itu. Kau mau apa, hah!”


“Lancang sekali kau, Mas! Kau itu tak berhak mendapatkan apa pun yang kau inginkan.”


Tanpa di duga-duga ia mendapat tamparan yang begitu keras, sampai membuatnya terhuyung terpojok oleh sebuah tembok. Namun, terlalu gelap mata tanpa hati nurani pria itu membenturkan kepala suster sehingga nyawanya meregang di tempat karena begitu banyak darah yang terus mengalir.


“Si'alan!” Mengumpat seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu tak menyangka telah membunuh istrinya sendiri karena terlalu dibutakan oleh hawa napsu yang menguasainya.


Sampai tersadar oleh panggilan kekasih gelapnya yang begitu syok melihat tubuh suster meregang nyawa.


“Aku tak mau di penjara. Bagaimana menurutmu, Baby?”


“Buang jasad kalau perlu kuburkan tanpa diketahui banyak orang.”


Ketika Araxi membuka mata, tanpa melihat ke arah hantu arwah suster tersebut ia pun mendorong kursi roda untuk kembali ke dalam kamar inapnya.


Begitu sampai di dalam kamar inap tersebut. Araxi menanyakan permintaan dari hantu suster tersebut. “Jadi, apa yang kau inginkan, Sus?”


“Keadilan untuk kami berdua.”


“Sus, aku tak bisa melakukan itu, kondisiku juga begini!” Araxi memperlihatkan kondisi tubuhnya.


Tak tega melihat raut wajah sedih hantu tersebut. Araxi terpaksa melakukan apa yang di minta sembari menunggu kedatangan kedua kembarannya.


“Aku akan membantumu tapi tunggu kedua kembaranku datang untuk menjemput karena aku benar-benar tak tahan ada di rumah sakit ini!” Araxi mengeluhkan semua yang ada di dalam pikirannya. Namun, ia tak bisa berbuat apa ketika sang Kakak menyuruhnya beristirahat.


***


Ketika malam semakin datang Araxi begitu lelah. Energi di tubuhnya sedikit terkuras sampai membawa ia ke dalam alam mimpi. Mendapat sambutan uluran tangan seorang wanita cantik wajah yang begitu mirip dengan Alexa.


“Ma ....” Suara manja Araxi membuat Siska terkekeh pelan dengan kemanjaan di dalam diri Putri tomboinya tersebut.


Tanpa ia sadari dari kejauhan ada seorang pria yang sedang tersenyum untuk menyambut sang putri tercinta. Sampai membuat Araxi terkejut dengan pria tersebut yang terus tersenyum. Membuat pikiran ia di penuhi tanda tanya.


.


.


.


.


Terima kasih ya readers setia 3A


Kalian penasaran kan dengan kisah cinta Araxi dan Albert?


Yuk tetap dukung mereka


Tentunya ada kejutan yang bakal bikin kalian ketawa-tawa


Oh ya sekalian mampir karya yang sedang ku bawa


Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.