
“Kenapa bisa ada di sini, Ma?” Araxi begitu bingung dengan seseorang yang sedang tersenyum itu.
Siska terkekeh pelan dengan kecerewetan dari sang Putri tercinta yang mana membuatnya merasa begitu senang tak melihat tatapan dingin tersebut.
“Sayang ...,” panggilnya dengan lembut di sertai angin sepoi yang begitu menyejukkan mata. “Ada beberapa hal yang ingin mama katakan mengenai Papamu.”
Kerinduan Araxi pada pria tersebut membuat langkah kaki meloncat dan memeluknya dengan erat. Entah mengapa ia merasa ada sedikit kemiripan wajahnya dengan pria yang mendapat panggilan sang Papa dari keempat anak-anaknya.
“Kenapa, Ma?”
“Kamu sudah mengetahuinya 'kan?” Siska memastikan bahwa Putri tomboinya ini sudah melihat gambaran dari masa lalu yang saling terhubung itu.
Mengangguk kepala Araxi pun mulai mengetahui bahwa di dalam tubuh sang Papa terdapat jiwa lain yang sedang bersembunyi. “Di dalam raga Papa ada sesosok lain seperti yang ada di dalam ragaku. Begitu 'kan, Ma?”
“Ya, Sayang. Kamu benar, dia akan membantu melawan iblis itu nanti.”
“Jangan bilang Mama akan menjemput Papa?” tebak Araxi dengan raut wajah yang terlihat murung.
“Sebenarnya pada saat kecelakaan itu terjadi Papamu sudah lama pergi dengan, Mama. Akan tetapi orang itu menyuruhnya kembali dan berbagi raga untuk melakukan penyelidikan tentang kecelakaan tersebut, dan kamu seharusnya tahu siapa orang yang membuat kami seperti ini.”
“Aku tahu orang yang kamu maksud, Ma.” Araxi sangat yakin orang itu ada hubungannya dengan masa lalu yang belum terselesaikan. “Kenapa dia saja! Apa kamu tak ingin memarahiku, Pa?”
Raymond tergelak lucu dengan tingkah laku Putrinya ini yang tak sesuai dengan penampilannya. “Kamu ini cerewet sekali sih. Papa sudah tak perlu menjelaskan hal ini denganmu karena sudah ada Mamamu yang mewakilinya.”
“Ma, apa dia Papa yang terkenal dingin itu?”
Raymond mendengkus kesal. Entah mengapa cara berbicara Araxi terlihat mirip dengan Putra sulungnya tercinta. Hal tersebut membuatnya merindukan kecerewetan dari Leonard. “Kamu makin kesini mirip sekali dengan Leon cara bicaramu. Cerewet dan menyusahkan!”
“Lalu nanti yang akan menempati ragamu itu dia ya, Pa?”
Raymond mengangguk. Namun, ia sedikit ragu dengan Raja tersebut. Mengingat Araxi pasti lebih peka dengan keberadaannya. Sekalipun sang Raja itu menyamar menjadi bagian dari dirinya.
“Kamu kenapa bisa merasakan keberadaannya?” tanya Raymond gemas.
Araxi menggelengkan kepala karena ia sendiri pun tak mengerti mengapa di dalam tubuhnya bisa merasakan keberadaan sesosok lain yang sedang menjadi diri dari Raymond sang Papa tercinta.
“Sudah-sudah semua tak terlalu penting bagi, Papa. Tugasmu sekarang adalah untuk terus berhati-hati terhadap iblis itu dan Papa bisa menebak dia tak akan pernah berhenti mencari keberadaan kalian.” Raymond tak lupa memberi nasehat untuk sang Putri tercinta yang membuat hatinya hancur tak akan pernah bisa melihat wajah ini kembali.
“Aku tak akan menjadi pengecut. Jika memang perang itu terjadi aku akan maju dan membela kebenaran. Iblis itu harus di basmi karena begitu meresahkan dan membuat kedua bangsa saling menyerang.” Kilatan mata kebencian Araxi terlihat dengan jelas di mata kedua orang tuanya.
Araxi pun akan menyatukan kembali kedua bangsa yang terus saling menyerang tanpa ada seorang pun yang mau mengalah. Mengingat sesosok Raja yang kini telah menjadi diri Raymond harus bisa mengembalikan kedua bangsa tersebut.
“Hati-hati, Sayang ... Dia orang yang licik dan sangat berbahaya.” Raymond begitu sangat mencemaskan keadaan ketiga anak kembarannya yang tak bisa ia bayangkan bagaimana perang itu akam benar-benar terjadi.
Tak lupa Raymond tak berhenti meminta perlindungan untuk anak-anaknya dari incaran iblis yang tak begitu puas berhasil membunuh mereka.
“Aku sangat tahu itu, Pa!” Araxi berkata demikian untuk menenangkan Raymond yang terlihat begitu mencemaskan keadaannya.
“Rasanya Papa tak ingin berpisah denganmu, Sayang! Bahkan Papa juga belum menemui ....” Raymond begitu sedih dengan perpisahan karena ia dan sang istri tercinta harus segera kembali ke tempat seharusnya mereka berada.
“Mengapa tak menemuinya sekarang, Pa?”