Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 175


Ivone yang tengah berjalan tergesa-gesa itu pun merasa kesal dengan papanya tercinta, ia tak menduga bahwa sang papa berusaha menyelidiki apa yang telah di sembunyikan olehnya.


Kenapa sih, Papa harus ikut mencampuri urusan urusanku dengan, Mama! Biarkan dia tak pernah mengakuiku tapi, aku sudah tak akan pernah memaafkan perbuatannya. Yang telah Menorehkan luka hati ini, dan juga luka hatimu itu, Pa!


Kebencian di dalam hati Ivone semakin besar, jika saja tak mengingat perlakuan lembut dari papanya tersebut, justru ia sendiri tak akan membuatnya memendam sebuah perasaan dendam yang besar untuk mama kandungnya sendiri.


Lain halnya dengan Kevin, setelah ia menjauh dari putrinya tercinta, dengan bergegas ia mengambil ponsel pintar dan menghubungi sebuah nomor ponsel begitu sambungan berhasil terhubung.


“Mengapa anda menghubungi saya, Tuan?”


“Aku ingin kau menyelidiki kejadian di mana tempat itu menjadi pertemuan putri dan mantan istriku! Aku ingin kau mencari keganjilan di sana. Paham!” tanpa berbasa-basi Kevin langsung menitahkan tugas tersebut pada orang di arah seberang telepon.


“Apa ada tugas lain, Tuan? Sebelum saya melakukan titah, anda.”


“Lakukan saja tugas ini dariku! Dan ingat jangan sampai kau gagal melakukannya.” tut panggilan langsung terputus dengan gigi Kevin yang terus menggeretak, menahan amarah yang meledak.


Marista sampai aku menemukan sesuatu yang membuat putriku terlukai karenamu! Aku bersumpah tak akan pernah memaafkan kesalahan yang telah kau perbuat itu. Kau pun juga harus membayar mahal, sebuah luka yang kau torehkan di atas hati ini.


Kevin pun bertekad dengan sepenuh hati untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat putrinya bahagia.


Ivone yang hampir sampai di tempat Araxi berada, mengernyit dengan keadaan sekitar lorong yang terlihat sedikit menyeramkan sehingga membuat bulu kuduknya berdiri, saat ia berdiri di depan daun pintu kamar Araxi, secara tak sengaja dirinya mendengarkan sebuah percakapan langsung yang membuat ia sedikit takut dengan keadaan di sekelilingnya.


Di dalam kamar inap Araxi yang telah kembali dari dimensi milik Clarenzo, dengan ia yang telah bersandar di atas brankar itu memberi pengertian pada hantu anak lelaki itu untuk bersabar, setelah ia memarahi Albert yang terlalu berlebih mencemaskan keadaannya.


Namun, Araxi pun menyadari bahwa di luar kamarnya ini ada seseorang yang tengah mendengarkan semua obrolan, dengan dua hantu yang membuatnya mendengkus kesal.


“Jangan terlalu berlebih begitu, Al. Lihatlah di luar kamar ini, ada seseorang yang tengah menguping obrolan kita.”


Melalui telepati itu, Araxi pun memarahi Albert secara habis-habisan sebab, jika tak di biarkan bisa-bisa Araxi di anggap gila oleh yang tak sengaja mendengarkan obrolan itu.


Untung saja yang tengah berada di luar kamarnya barusan merupakan putri dari Kevin Morgan Adhitya, jika orang lain yang mendengar semua itu, sudah pasti ia akan di anggap sebagai orang yang sedikit tak waras.


Dengan marah yang begitu besar, tanpa sengaja Araxi pun terus saja mengomel bahkan memarahi Albert, yang mana membuat hantu tersebut tak berani menatap ke arah dirinya.


Tanpa sadar ia mendengar nada bicara dari arah luar tapi, ia urung 'kan untuk memarahi orang tersebut karena, sadar bahwa ada sebuah hati yang begitu rapuh dan sangat membutuhkan sebuah pelukan hangat yang mampu membuat hati itu nyaman.


Namun ia bisa apa? Bahkan sejak awal, hanya dengan kembarannya itu. Ivone lebih dekat dengan Alexa ketimbang dengan dirinya