
“Sudah lama aku tak melakukan ini terhadapnya, bahkan jauh sebelum aku dan Kakek buyutmu sampai ke tempat ini Ra. Tetapi nanti ada yang lebih besar lawan iblis itu,” jawabnya dengan ragu.
“Apa maksudmu?”
“Kau akan tahu nanti, dan maaf aku tak bisa memberitahumu sekarang. Karena belum waktunya, kau berhadapan langsung dengan iblis itu,” jawabnya sembari tersenyum simpul, untuk menggoda Araxi yang tengah mendengus kesal. “Oh iya Ra, kau seharusnya tak menolak untuk dicintai oleh hantu tampan sepertinya. Karena dari yang aku lihat, dia benar-benar jatuh hati padamu, bahkan sejak dulu dia telah menjaga dan melindungimu di mana pun kau berada, dan kakimu berpijak di situlah dia selalu ada untukmu.”
“Jangan sembarangan bicara,” elak Araxi dengan sinis. “Mana mungkin aku menyukainya, kau tahu bukan aku dengannya itu berbeda alam, dia hanya arwah dan aku hanya manusia biasa.”
“Semua itu bisa jadi mungkin Ra, aku sangat yakin suatu hari nanti kau akan bertekuk lutut dihadapannya, ingat jangan pernah menyesal di kemudian hari.” Setelah memberinya peringatan dengan sarat ancaman, baik Araxi dan sesosok yang berada di dalam tubuhnya tersebut memutus komunikasi mereka. Lantas hal tersebut membuat Albert yang sedari diam menyimak itupun merasa cemburu pada gadisnya itu.
“Bicara dengan siapa tadi, Ra?” bisik Albert dengan bertanya, sembari ia mendekatkan wajahnya ke arah gadisnya.
“Apa itu penting bagimu?” jawabnya seraya balik tanya.
Merasa gemas dengan jawaban gadisnya, membuat Albert mencubit hidung mancung pada gadisnya itu, entah mengapa dirinya tak bisa berkutik jika gadisnya itu membuka suara, bahkan ia sendiri tak bisa mengatakan hal apapun padanya bahwa ia tengah cemburu pada seseorang yang tengah mengajak gadisnya mengobrol.
Namun pandangan netra mata Araxi menangkap ke arah sesosok hantu anak kecil, yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat nyalang.
Bukan namanya Araxi yang tak pernah merasa takut dengan yang namanya hantu, bahkan dalam sekali kedipan mata iapun mampu menumbangkan hantu tersebut, tapi untuk kali ini ia akan mencari tahu maksud tujuan hantu anak kecil yang menatap ke arahnya.
Tanpa sadar dokter Arif yang menanganinya itupun bertanya pada dirinya, tentang semua kondisi yang sekarang ia alami, bahkan kemungkinan besar ia bisa pulang dengan lebih cepat dari biasanya.
“Ngomong-ngomong ke mana dua saudara kembarmu?” tanya dokter Arif yang sengaja ingin berbasa-basi dengannya. Tak lupa juga ia memeriksa tubuh Araxi dengan jahitan di tubuhnya yang sedikit mengering tersebut. “Kelihatannya lukamu sudah mulai mengering, tapi ingat kau belum di perbolehkan bergerak terlebih dahulu.”
Tanpa mengidahkan perkataan dari sang dokter tersebut, justru ia lebih memilih menatap dingin ke arah sesosok hantu anak kecil yang dengan terang-terangan balik menatapnya.
“Hei, apa kau mendengarkan semua perkataan yang telah aku sampaikan?” tanya dokter Arif yang merasa heran dengan tatapan dingin itu.
Dengan diam tanpa ekspresi Araxi pun justru enggan mengidahkan pertanyaan dari dokter yang menanganinya itu, bahkan ia sedikit enggan membuka suara sejak dokter tersebut masuk ke dalam kamar inapnya.