Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Pertemuan Yang Sangat Mengharukan


“Setelah sekian lama akhiranya aku bisa menatap wajah yang lucu nan menggemaskan itu sejak lama.” - Leonard Wesley Wiratmaja.


.


.


.


.


.


Dengan menatap dingin ke arah Alex tanpa berniat menjawab pertanyaannya itu. Araxi menyuruh Alex untuk ke arah kamar mandi, tentunya ia sangat ingin menghindari pertanyaan dari kembarannya tersebut.


“Lex, Kamu lebih baik masuk ke kamar mandi cuci mukamu sana.” Araxi menunjuk ke arah kamar mandi yang tak jauh dari tempat tidurnya.


Alex yang tengah bertanya pun tanpa berani menjawab dan membantah dengan mengangguk ia sedikit berlari setelah meninggalkan kecupan singkat di pipi kembarannya yang terkenal dingin tersebut.


Setelah tak melihat keberadaan Alex, dengan raut wajah merah merona yang tertutup tatapan dinginnya itu. Araxi pun melakukan telepati dengan Albert, untuk meminta tanggung jawab padanya yang telah melakukan kesalahan yang membuatnya geram dan kesal.


“Kau ada di mana?” tanya Araxi dingin dalam batinnya memanggil Albert.


Di tempat lain yang tak dapat di lihat oleh manusia mana pun Albert yang tengah beristirahat menjadi tersentak setelah mendengar suara nada dingin dari gadis pujaannya itu. “Aku di tempatku beristirahat dengan Angel. Ada apa kau memanggilku?” jawab Albert sambil balik tanya.


“Kau sungguh menyebalkan. Tindakanmu itu justru membuat Alex mengetahui kelakuanmu,” tegur Araxi dingin.


“Kau masih marah soal itu. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu Ra! Aku tak perlu berkata kembali tentang perasaan ini, dan juga aku harap kau bisa mengerti mengapa aku begitu jatuh hati pada dirimu meskipun dunia kita berbeda. Akan tetapi hatiku merasa menganggapmu sebagai gadis yang sangat spesial di hatiku Ra.” Ungkap Albert dengan perasaan yang menggebu-gebu. “Aku tetap ingin menyembuhkan luka hatimu itu apapun yang terjadi. Atau kau ingin melakukan adegan yang sama seperti kemarin sayang?”


Araxi yang sedang dalam mode dingin itu mendadak terbatuk, saat mendengar gombalan yang terlontar dari bibir Albert, sehingga membuat kedua pipinya menjadi merah merona meskipun raut wajahnya masih dalam keadaan dingin itu.


“Ra, Apa kau masih di sana?” tanya Albert yang tak mendengar kembali omelan dari gadisnya.


“Apa kau merasa sangat senang bertemu dengannya? Kalau kau senang maka aku ikut senang mendengarnya.”


Obrolan mereka pun tiba-tiba terputus saat daun pintu terbuka, dan masuklah Kevin dengan Ivone putrinya yang tengah memeluk tangan kekar Papanya dengan posesif.


“Halo sayang bagaimana kondisimu. Apa kau merasa baik sekarang?” tanya Kevin dengan lembut sembari menyapa gadis tomboi dingin itu.


Araxi pun tak menjawab pertanyaan dari Papanya Ivone, dengan raut wajah yang dingin ia enggan menyapa pria yang pernah menjadi masa lalu dari seorang wanita iblis tersebut.


Suasana sekitar pun mendadak menjadi hening, saat tak ada obrolan lain dari mereka sehingga Alex yang baru kembali dari kamar mandi itu pun membuka suara.


“Kapan Om datang?” tanya Alex.


“Oh iya itu, Om sama Kakakmu ingin melihat keadaannya Lex. Mengapa saat aku bertanya langsung dia enggan menjawabnya?” jawab Kevin sambil bertanya heran dengan sikap dingin Araxi.


“Papa seperti tak tahu Araxi saja,” celetuk Ivone yang masih menggamit lengan Papanya tercinta.


Menghela napas berat tak ingin berdebat dengan putrinya tercinta, Kevin pun dengan terpaksa mengalah pada keadaan sekitarnya, sehingga membuat keadaan sekitarnya menjadi canggung.


Selang beberapa menit kemudian, daun pintu tersebut terbuka kembali lalu masuk ke dua orang pria yang tengah menghampiri si pasien itu sendiri.


Ruangan kamar inap Araxi menjadi sunyi kembali, saat semuanya tak sengaja menengok ke arah dua pria tersebut.


Sementara itu baik Alex dan Leonard melemparkan tatapan sorot mata yang datar, benak di kepala masing-masing keduanya bertanya-tanya sekaligus memuji wajah tampan mereka.


Sialan aku merasa tersaingi kadar ketampananku menghilang saat bertemu mereka, bahkan aku tak yakin yang satu ini itu cewek atau bukan? Mengapa penampilannya lebih mirip denganku. Umpat Leonard dengan geram.


Mama apa ini sungguh kakak? Mengapa kakak lebih tampan dariku? Aku merasa tersaingi juga Ma. Belum lagi dengan penampilan Araxi. Batin Alex menjerit tak terima.