
Kembali lagi pada Araxi yang tengah berada di dimensi ruang waktu milik arwah Sumarni itu dengan sorotan mata mendingin saat menatap ke arah orang-orang yang tak di kenali oleh dirinya.
***********
Namun siapa yang bisa menyangka tiba-tiba dari arah lain, Juragan Dendi yang sedang ia bicarakan dengan rekannya tersebut datang ke lokasi tempat dirinya bekerja, dengan dua orang ajudan yang mengikuti Juragan Dendi itu.
Tanpa secara sengaja netra mata Sumarni terkunci dari tatapan Juragan Dendi yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Merasa mendadak takut dengan pandangan mata yang di tujukan oleh Sumarni dengan terpaksa ia pun memutuskan kontak mata yang terkunci tersebut, sembari menundukkan kepalanya.
Ia sendiri pun tidak menyangka bisa bertemu dan bertatapan secara spontan tersebut dengan seorang Juragan Dendi yang selalu datang ke rumahnya, untuk menagih utang yang tidak pernah tertutup meskipun bapaknya meninggal dunia.
Dari arah lain Juragan Dendi itu sendiri setelah ia bertatapan mata dengan Sumarni, memutuskan untuk bertanya kepada dua ajudan yang selalu mengikutinya ketika sedang menagih hutang pada orang-orang yang selalu meminjam uang kepada dirinya.
Karena di kampung tersebut Juragan Dendi sangat di kenal dengan sebutan Juragan yang sangat bengis dan kejam terhadap orang yang selalu menunggak hutang piutang yang mana kepribadiannya tersebut bertolak belakang jika sudah berhadapan dengan dua istrinya.
Meskipun dirinya mendapat julukan Juragan yang terkenal kejam, namun ia tetaplah seorang pria yang takut dengan kemurkaan jika sang istri-istrinya marah.
“Apa kalian tahu siapa gadis itu?” tanya Juragan Dendi pada dua ajudannya.
Dua ajudan dari Juragan Dendi itu terheran mendapat pertanyaan dari Tuan mereka, yang mana Tuan mereka menanyakan seorang gadis yang bekerja pada Juragan Dendi tersebut.
Dan tentunya mereka pun sangat mengetahui dan mengenal siapa gadis tersebut yang dimaksudkan oleh Tuan mereka.
“Begini Juragan mengapa anda mempertanyakan gadis itu?” tanya balik salah satu ajudan Juragan Dendi.
Keningnya mengerut setelah mendengar pertanyaan balik dari salah satu ajudannya itu seperti menyimpan sesuatu yang tidak dirinya ketahui.
“Apa kalian mengenal gadis itu? Karena aku merasa kalian sangat mengenalinya.” Kata Juragan Dendi dengan sorot mata yang tajam.
Mereka pun menelan ludah saat mendapati sorotan mata yang tajam dari Juragan yang di tuju untuk mereka.
“Anu itu Juragan saya ...”
“Katakan apa yang kau tahu tentang gadis itu!” desak Juragan Dendi yang menyela perkataan dari salah satu ajudannya itu.
“Saya tidak mengenalinya Juragan,” ucapnya berkilah.
“Tidak mengenali kau bilang?” beo Juragan Dendi. “Apa kau sudah bosan hidup ha!” dengan geram tanpa babibu Tuannya memberinya bogeman mentah yang membuatnya terbatuk-batuk menahan perih di perutnya itu.
Setelah puas memberi bogeman yang ia layangkan pada ajudannya, kini dengan sorotan mata tajam dan intimidasi yang di tuju pada rekan ajudannya yang terkapar akibat bogeman dari dirinya.
Dengan terpaksa mengatakan kepada Tuannya, bahwa gadis yang sedang di tanyai oleh Tuannya tersebut merupakan salah satu anak dari seorang pria paruh baya yang meninggalkan hutang yang banyak.
“Juragan gadis itu anak dari seseorang yang meninggalkan hutang banyak terhadap anda,” ujarnya mantap tanpa meragu.
“Anda benar Juragan, orang itulah juga mempunyai seorang anak gadis yang Tuan temui secara tak sengaja.”
Sebuah seringai licik muncul di wajah Juragan Dendi tersebut.
Secara tidak sengaja ia menginginkan gadis yang bernama Sumarni untuk menjadikannya seorang istri, tanpa memperdulikan perasaan istri-istrinya yang lain.
“Nanti kalian ikutlah denganku untuk menemui gadis itu secara langsung.” Perintah Juragan Dendi tegas tanpa ada bantahan. “Sekarang kalian keluarlah sebentar pastikan para pekerja yang ada disini tidak melakukan kesalahan, kalian tahu bukan hukumannya?”
Saat sore hari menjelang tibalah Sumarni berkemas, Merapikan pekerjaan yang telah ia selesaikan.
Namun siapa yang dapat menyangka saat hendak meninggalkan tempat kerja tersebut.
Tiba-tiba Sumarni dihadang oleh dua ajudan dari Juragan Dendi yang mendapat perintah langsung untuk berasa-basi dengan seorang gadis yang sialnya gadis tersebut ialah Sumarni.
“Tahan dia jangan biarkan lolos.” Perintah salah satu dari rekan Juragan Dendi itu itu pada rekannya.
Tanpa banyak kata seketika Sumarni yang tengah bergegas pulang itu pun langsung di hadangi oleh salah satu ajudan Juragan Dendi yang menghentikan langkah kakinya.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Sumarni dengan sedikit bergetar.
“Tuan kami hanya ingin bertemu denganmu,” jawab si botak yang merupakan ajudan dari Juragan Dendi yang tengah menginterogasi dirinya. “Kau tak melakukan kesalahan apapun, lagi pula Tuan hanya ingin mengobrol.” Kata si botak tersebut yang mengerti dari tatapan rasa tak nyaman yang dirasakan oleh Sumarni.
Namun tanpa Sumarni menyangka sang Juragan tersebut telah lebih dahulu datang menemui dirinya dengan sorotan mata yang tajam.
“Aku tak pernah menyangka almarhum bapakmu meninggalkan seorang gadis yang sangat cantik nan jelita. Tentu saja istri-istriku lain akan kalah dengan pesonamu.”
Ujar Juragan Dendi yang tengah berjalan menghampiri dirinya dengan dua orang ajudan yang tengah membungkuk hormat pada orang tersebut.
Dengan sedikit keberanian yang dimiliki oleh Sumarni, mau tak mau akhirnya dirinya pun membuka suara.
Menanyakan maksud tujuan dari seseorang yang tengah menatap dirinya dengan sorotan mata yang sulit di artikan.
“Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya Juragan?” tanya Sumarni dengan mengembuskan napas gusar.
“Kalian lihat bukan sepertinya gadis ini benar-benar tidak mengerti tentang siapa yang berkuasa di sini, sehingga dengan terang-terangan berani membuka suara dihadapanku.” Tawa dari Juragan Dendi itu pun semakin mencekam.
Hingga membuat tubuhnya menegang, saat sang Juragan tersebut mempertanyakan sebuah hutang besar yang di tinggalkan oleh almarhum bapaknya tercinta.
“Apa kau tahu bapakmu masih meninggalkan hutang yang sangat banyak,” ucap Juragan Dendi dengan menetralkan degup jantungnya.
Akibat tawa kencang yang sedang dirinya keluarkan. “Apalagi ditambah dengan adikku itu yang terkadang datang memelas meminta pinjaman uang kepadaku, jadi aku harap kau mengerti dengan apa yang ingin aku utarakan kepadamu.”
“Maksud anda apa Tuan?” beo Sumarni yang semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari Juragan tersebut.