Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Lenyapnya Penghuni Hutan Alam Gaib Makhluk Yang Sombong


Saat akan mengambil paksa dua manusia yang tengah pingsan, dari arah lain dirinya di kejutkan dengan sesuatu yang tak bisa membuatnya bergerak dengan bebas.


Karena tubuhnya dikunci oleh Araxi yang datang dengan tiba-tiba.


“Kau itu bagaimana sih Kek. Untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak dia akan membawa paksa mereka!” omel sang cucu sembari menggerutu.


“Padahal tadi terang-terangan menyombongkan diri dihadapan Kakekmu ini,” sahut leluhur dengan santai.


“Lalu apa kau nyaman Kek menempati tubuhnya?” tanyanya sambil melipat tangan di dada. “Jangan sampai iblis itu mengetahui keberadaanmu.”


“Kakek sudah nyaman berada di tubuh ini,” ucapnya sembari memberitahu. “Kau tahu bukan, semenjak mereka bertiga lahir ke dunia tujuh tahun lalu. Dia yang dulu itu terpaksa menggunakan kemampuannya untuk memanggil kita!”


Pembicaraan mereka berduapun secara tak sengaja di dengar oleh Alex, yang sedari tadi berdiam diri.


Tanpa sadar bahu Alex di tepuk oleh Albert, dengan terpaksa ia memperkenalkannya pada leluhurnya tersebut.


“Mereka bukan Araxi maupun Alexa,” ucap Albert. “Mereka yang berbicara itu leluhurmu, yang selama ini melindungimu dari kejaran ibu tirimu.”


“Lalu mengapa mereka berada didalam tubuh Araxi dan Alexa?” tanya Alex yang merasa bingung.


“Kau bisa tanya sendiri pada leluhurmu,” jawab Albert. “Hei kalian berdua sudah membiarkan penghuni hutan alam gaib itu menjadi batu?” tanya Albert pada sesosok yang mendiami tubuh Araxi.


Hal tersebut membuat kedua orang yang tengah berbicara itu, menoleh ke arah Albert yang berdiri di samping Alex dengan raut wajah yang sulit di artikan.


“Biar Kakek yang mengurusnya. Kau tunggulah jangan berdiam lagi di dalam tubuhnya,” peringatnya dengan sarat ancaman. “Hei kau aku tanya sekali, mau melepaskan sandera dan mengembalikan ke asalnya atau mau aku lenyapkan. Agar kau tak bisa kembali ke dunia ini!”


“Kau pikir bisa mengancamku? Hutan ini adalah milikku, aku selalu membawa tumbal karena mereka adalah manusia sampah!” Kata penghuni hutan alam gaib tersebut dengan santai. “Termasuk dua orang di dalam mobil tersebut menjadi target utamaku. Tak aku sangka ada tiga anak kembar yang mempunyai di luar nalar sebagai manusia.”


“Lalu mengapa kau begitu ngotot ingin sekali menjadikan mereka sebagai santapanmu begitu maksudmu?” tanya leluhur dari Alexa dengan geram.


“Selain aku memilih manusia sampah, aku juga memilih manusia yang hidupnya mendapat ketidakadilan. Untuk itulah aku bisa menarik mereka ke dalam wilayah yang aku huni.”


Mendengar jawaban dari penghuni hutan alam gaib tersebut, membuat kedua leluhur itu merasa heran.


Mengapa ia memilih manusia yang tidak mendapat keadilan menjadi tumbal.


Dengan menimbang keputusan yang di ambil oleh leluhur Alexa, akhirnya terpaksa leluhur dari ketiga kembar tersebut bernegoisasi untuk tetap mengeluarkan mereka dari wilayah penghuni hutan alam gaib itu.


“Jadi menurutmu kau masih tetap tak ingin mengeluarkan mereka dari wilayahmu ini?”


“Mereka lebih cocok menjadi santapanku, daripada hidup mereka mendapatkan ketidakadilan. Apa kau tahu mantan istrinya bahkan tak pernah memedulikan anak yang tak diinginkan itu.”


Tanpa mereka sadari di dalam jiwa Araxi itu sendiri tengah berdebat dengan sesosok yang begitu menyebalkan menurut dirinya.


“Hei kau jangan mengambil alih tubuhku dengan terus-terusan. Aku harus menyelamatkan mereka,” ucap Araxi dingin. “Mengapa kau tak membiarkanku keluar mengambil alih tubuhku, kau tahu bukan aku telah mendengar semua perkataannya!”


Sesosok yang mendiami tubuh Araxi pun terkejut, saat mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Araxi.


“Jadi kau bisa mendengarkan semua yang dikatakan penghuni hutan alam gaib itu?” tanyanya dengan heran.


Dengan malas menjawab pertanyaan yang di tujukan untuknya. Araxi pun hanya bisa memutar bola mata malasnya.


“Sudahlah lebih baik kau istirahat di sini, pulihkan tenagamu dan juga pulihkan energiku!” titah Araxi sembari menghilang untuk kembali ke dalam tubuhnya sendiri.


“Tak ada urusannya denganmu, dunia mereka sangat berbeda denganmu,” sahut Araxi dengan nada dingin. “Kau itu hanyalah makhluk rendahan yang selalu menginginkan manusia tak berdosa, untuk menjadi santapan lezatmu itu begitu.”


“Tak ada hubungannya denganmu!” hardiknya dengan kesal.


“Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan semaumu begitu?” ucap Araxi dingin seraya bertanya. “Meskipun daerah hutan ini wilayahmu, aku tak akan pernah merasa takut denganmu.”


“Kau tak akan pernah keluar, karena tubuhmu telah di ubah menjadi batu. Kau tinggal memilih masih mau menjadikan mereka santapanmu atau mau dilenyapkan oleh leluhurku ini?” dengan tegas Araxi pun memberinya dua pilihan yang mana membuat makhluk tersebut tak dapat berkata banyak.


“Sudah aku katakan bukan aku tak sedikitpun takut maupun tunduk pada kalian,” ucapnya dengan sinis.


“Baiklah kau yang memilih dengan sendiri. Maka aku pastikan kau akan menyesal!”


Lalu setelah itu Araxi pun berbicara pada leluhurnya, untuk memberi pelajaran pada makhluk penghuni hutan alam gaib tersebut, agar tak meremehkan kemampuannya.


“Dia bagainmu Kek. Silakan di eksekusi!”


Tanpa banyak kata, dengan kemampuannya leluhur ketiga kembar tersebut melakukan tugasnya.


Tentunya dengan senang hati, ia bisa melenyapkan makhluk rendahan yang sangat sombong dan tak berperilaku baik selama diberi kehidupan.


Selesai melenyapkan ketiganya pun telah kembali ke tempatnya berada, di mana tempat sebelum di tarik oleh makhluk tersebut.


“Karena tugasku sudah selesai. Maka aku akan beristirahat kembali, untukmu Araxi jangan sekali-kalipun kau meremehkan Alexa. Biarkan dia menghadapi dunia luarnya! Apa kau paham?” peringatnya dengan tegas.


“Untuk kalian berdua sebaiknya jangan pernah mencari kabar tentang Papa kalian terlebih dahulu, karena Kakek sedang memburu seseorang yang sedang Kakek dan cucu Kakek kejar. Hal itulah mengapa Kakek dan cucu Kakek bisa berada didalam jiwamu dan Alexa!”


“Lalu untuk dia apa Kek?” tanya Araxi dingin sembari menunjuk ke arah Alex dengan raut wajah yang sangat datar.


“Untuk dia ya! Kau akan tahu sendiri nanti,” jawab leluhurnya dengan senyum seringai misterius.


Karena tak mendapat jawaban memuaskan Araxi pun mendengus kesal. Entah mengapa leluhurnya dan cucunya itu, selalu membuat Araxi kesal dengan mereka.


“Sudah jangan merajuk seperti itu. Justru kau tak pantas dengan penampilan dinginmu ini, mengapa kau malah merajuk begini!” ucapnya sembari meledek Araxi, sehingga membuatnya semakin kesal.


.


.


.


.


.


Yuhu sudah aku up lagi ya


Jangan lupa dukungan like favorit


Kopi sama kembangnya minta boleh gak?


Biar aku makin semangat nulisnya loh


Biar makin bisa up


Terima kasih atas dukungan semua selama mengikuti alur yang membagongkan


Tetap tunggu alur selanjutnya ya


See you next time


Love you