
Karena tak mendapat jawaban dari Tuannya, dengan terpaksa ia mengetik ulang kembali sekaligus langsung melaporkan pada Tuannya itu. [“Tuan saya tak bisa lama-lama di sini. Langsung saja pada intinya Tuan, Nyonya sedikit mulai curiga pada saya, di karenakan diri saya yang menyimpan banyak rahasia antara anda dan saya. Dan juga Nyonya mencurigai kalau ketiga bayi kembar itu bukanlah mati, melainkan hidup dan hanya anda sendiri yang mengetahuinya, bahkan saya tak bisa menjamin diri saya sendiri Tuan. Mengingat Nyonya akan kembali berulah, saya mohon pada anda Tuan ini permintaan saya terakhir pada anda sebagai penebus dosa tentang pengkhianatan yang saya lakukan pada anda. Saat ini Nyonya tengah melakukan rencana dengan menyuruh rekan saya yang lain untuk membakar sebuah tulang belulang milik ibu bayi kembar itu Tuan, dan juga saya ingin meminta pada anda untuk melindungi serta sampaikan permohonan maaf saya pada keluarga saya. Hanya ini yang bisa saya sampaikan pada anda Tuan.”] sambil menunggu tombol send terkirim, ia terus menggumamkan kata maaf pada keluarganya, bahwa selama ini ia telah melakukan banyak kesalahan.
Setelah berhasil terkirim dengan tanda bergaris centang dua, kemudian ia melepaskan kartu sim card rahasianya menghancurkan hingga berkeping-keping, dan membuangnya ke dalam kloset, agar jejak yang ia tinggalkan tak bisa dilacak oleh sang Nyonya tersebut.
Karena kartu tersebut merupakan kartu khusus yang telah di persiapkan oleh Tuannya, sehingga kini ia bisa menghilangkan semua barang bukti yang ada, tanpa pernah tahu ia sendiri pengkhianat itu.
Tak ingin berlama-lama di dalam kamar pribadinya, dengan tenang tanpa ada rasa takut iapun bergegas keluar ke dalam kamarnya, untuk melakukan dengan berpura-pura menyelidiki tentang kecelakaan tersebut, seperti rencana yang akan ia susun untuk menghadapi kemarahan dari seorang wanita berambisius seperti Marista Mayang.
Begitu ia keluar dari kamarnya, iapun dibuat terkejut dengan kehadiran rekannya yang bersiap hendak mengetuk daun pintu kamar miliknya. “Sedang apa kau di depan kamarku?” tanyanya dengan raut wajah berpura-pura bodoh.
“Bukankah kau dan aku mendapat tugas dari Nyonya!” jawabnya dengan ketus.
Rekannya pun mendengus saat mendengar perintah darinya, ia seperti ini untuk mengulur waktu, agar Tuannya yang berada di seberang sana bisa mengambil tindakan, sebelum semuanya terjadi begitu cepat.
Tak ingin mengambil tindakan dengan gegabah, iapun memutuskan untuk melakukan perintah dari Nyonyanya, sembari menggumamkan kata ribuan maaf untuk keluarganya, serta iapun selalu berharap Tuannya tersebut mengabulkan permintaannya untuk melindungi seluruh keluarga yang tersisa.
Sementara itu mobil kesayangan milik Kevin telah sampai di parkiran rumah sakit tempat Araxi di rawat, untuk memastikan keadaan Araxi yang masih belum pulih sepenuhnya.
Namun sebelum ia dan putrinya turun, dengan penasaran iapun mengecek sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya, saat ia membaca pesan yang tertera, seketika itu darahnya kembali mendidih saat ia tak sengaja membaca pesan laporan dari mata-mata yang selama ini mengawasi pergerakan dari mantan istrinya.
Iapun tak habis pikir, bagaimana bisa mantan istrinya ini melakukan sesuatu yang membuatnya mengcengkeram erat setir kemudi, sehingga menarik perhatian ...