Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 184


Ini bagaimana bisa terjadi seperti ini? Mengapa harus denganku? Biarpun aku belum menyukainya tapi kenapa harus aku?


Batin Araxi bertanya-tanya tentang dia dan Albert yang pernah saling mencintai.


“Semua itu bisa menjadi mungkin, Ra!” Darrel pun tak terlalu terkejut dengan apa yang ia ketahui.


“Kenapa harus aku? Kau tahu kan selama ini aku membenci kata cinta.” Araxi menegaskan bahwa sejujurnya dia benar-benar membenci apa itu cinta.


“Terserah, kau, bilang, Ra tapi yang jelas aku bisa melihatmu dengannya bersanding.” Darrel tersenyum simpul karena ia dapat melihat dengan jelas antara Araxi dan arwah hantu tersebut bisa menjadi satu.


“Itu tak mungkin!”


“Kau akan tahu sendiri nanti yang jelas aku peringatkan hal ini untukmu. Berhati-hatilah saat ingin memasuki dimensi ruang dari para arwah penasaran. Tahu mengapa kan?” Darrel menjeda perkataannya. Yang membuat Araxi menganggukkan kepala.


“Dia tak ingin energi tubuhmu terkuras habis. Itulah mengapa Albert begitu posesif menyangkut tentang semua hal pribadi tentangmu.”


Araxi yang mendengar perkataan Darrel menjadi dingin. Selemah itukah sampai-sampai Albert begitu posesif pada dirinya.


“Kau pikir aku selemah ini?” Araxi memprotes dan menyayangkan keposesifan di diri arwah hantu tersebut.


Entah mengapa Araxi mulai sedikit teringat dengan kenangan tentang kisah cinta mereka. Sampai pada akhirnya dia dan arwah hantu itu masih saling berhubungan.


“Mengapa kamu harus meninggalkanku dalam keadaan seperti ini!” Seorang pria meraung-raung sambil mendekap sebuah tubuh yang berlumuran darah dan pakaiannya terkoyak habis.


“Ku mohon bangunlah! Aku tak bisa hidup denganmu. Mengapa harus kamu yang mengalami seperti ini?”


Pria itu terus meracau tanpa memedulikan keadaan alam di sekitarnya telah menurunkan hujan dengan suara petir yang begitu menggelegar.


“Kak, sudah, ya, jangan bersedih aku sangat mengerti dan memahami kau begitu sangat mencintainya,” hibur seorang gadis cantik. Yang mana gadis tersebut merupakan adik tersayang dari pria yang masih dengan betah mendekap tubuh kaku yang telah mendingin.


“Siapa yang berbuat hal keji pada dia?” tanya Albert dingin.


Gadis cantik yang sedang bersamanya menggeleng. Sungguh dia sendiri tak menduga saat melihat calon kakak iparnya meninggal dengan cara meregang nyawa. Bahkan kebenciannya semakin menjadi saat manik matanya tak sengaja menatap ke arah beberapa tanda noda yang ada di beberapa bagian tubuh tersebut.


“Kak, jujur saja, aku tak begitu mengerti dengan keadaan kakak ipar tapi bisakah kau tak menangisinya?” Angel mencoba menyadarkan kakaknya tercinta dengan mengalihkan pikiran dan hatinya yang sedang terluka.


“Jangan mencoba mengalihkan pikiranku, Ngel!”


“Jangan menjadi bodoh begini, Kak,” omel Angel dengan raut wajah yang terlihat gemas. “Lebih baik kita harus segera memakamkan kakak ipar dengan layak. Baru setelah ini kau bisa mencari tahu kejadian yang menimpanya.”


Kilatan mata marah yang ada di diri Albert membuncah. Saat adiknya mengajak dia mencari tahu kebenaran yang telah terjadi pada kekasihnya tercinta.


“Jadi, kau, akan bilang kematiannya disengaja oleh seseorang yang tak begitu menyukai hubungan kami begitu, hm!” Albert bertanya dengan sorot mata yang begitu dingin.


“Aku merasa ganjal dengan kematiannya ....”