Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Memasuki Dimensi Ruang Waktu


Namun berbeda dengan Alexa, saat ia sedang menepuk pelan pundak Alex. Ia merasa sedikit tak beres yang terjadi pada tubuh kembarannya.


‘Apa Alex sedang melepaskan jiwanya?’ batin Alexa bertanya.


Beberapa menit kemudian Albert dengan Angel pun datang menghampiri mereka, setelah Alexa berhasil memanggil nama ke dua arwah tersebut.


“Ada apa kau memanggil kami Alexa,” tanya Albert dan Angel dengan kompak.


“Itu Alex yang meminta bantuanku untuk memanggil kalian kemari,” jawab Alexa. “Ngomong-ngomong kalian habis dari mana tadi?”


Bukannya menjawab pertanyaan dari Alexa, baik Albert mau pun Angel menatap ke arah sekeliling gedung sekolah itu.


Karena mereka sebagai arwah penasaran juga, dapat terlihat dengan jelas. Bahwa di gedung sekolah itu terdapat sesosok seperti dirinya dengan Angel di setiap sudut ruangan gedung tersebut.


Namun ada satu hal yang berhasil menarik perhatian Albert, yang mana saat menatap ke arah sebuah pohon beringin itu. Seketika aura yang di pancarkan dari pohon itu sangatlah kuat, di tambah sebuah sesajen yang tertata rapi di sekitar pohon itu berada.


Kemudian Albert pun memperingati Alexa, untuk tak selalu berpikiran kosong. Karena menurut Albert di antara ketiga kembar tersebut. Alexalah yang sangat bisa di masuki oleh arwah-arwah penasaran.


“Alexa,” panggil Albert dengan serius.


Kening Alexa mengernyit tak kala mendengar nada serius dari Albert. “Ada apa memangnya?” tanya Alexa.


“Aku hanya ingin memberimu peringatan, untuk tak selalu mengosongkan pikiranmu,” jawab Albert dengan tegas. “Kau tahu bukan, di antara kalian bertiga. Hanya dirimu yang paling tak bisa mengimbangi kekuatan yang ada dalam tubuhmu.”


“Apa harus seperti itu!” beo Alexa.


“Bukan seperti itu juga, maksud dari perkataanku tadi itu kau masih bisa menggunakan kemampuan yang kau punya. Akan tetapi jangan dalam keadaan pikiran kosong, karena itu bisa mengundang mereka mempunyai aura yang tidak biasa,” ujar Albert. “Oh iya kau belum menjawab pertanyaanku dengan Angel. Apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kau memanggil kami! Apa ada sesuatu yang terlihat sangat darurat?” todong Albert dengan mencecarnya berbagai pertanyaan.


“Itu Alex yang menyuruhku memanggil kalian kemari, sepertinya dia sedang berada di suatu tempat,” jawab Alexa. “Alex sedang berada di dalam dimensi ruang waktu milik arwah penasaran yang mengikuti seorang murid di sekolah ini.”


Sambungnya kemudian, hal tersebut sedikit menarik perhatian Albert.


Karena merasa penasaran Albert pun bertanya tentang arwah mana yang sedang di datang oleh Alex pada Alexa.


“Lalu arwah mana yang membuat Alex mendatanginya,” tanya Albert.


Alexa pun menggelengkan kepala, bukan karena tak mau menjawab pertanyaan dari Albert. Akan tetapi ia tak perlu mengatakannya langsung pada Albert, sebab tanpa di beritahu olehnya itu sebenarnya Albert bisa langsung menyadari sesosok arwah yang sedang di datangi oleh saudara kembarnya itu.


Dan Albert sendiri merasa heran melihat Alexa terdiam membisu tanpa menjawab pertanyaan darinya. Namun sedetik kemudian ia memahami, bahwa Alex mendatangi sesosok arwah yang memiliki aura penuh dendam amarah.


Yang mana membuat arwah tersebut bergentayangan sambil menuntut balas atas kematian yang di alami oleh arwah tersebut.


Sementara itu Alex yang kini jiwanya tengah memasuki ruang dimensi waktu di mana sesosok arwah penasaran itu sebelum meninggal secara tak wajar, hingga membuatnya terus bergentayangan sebelum sesosok arwah tersebut membalaskan dendam amarah yang di bawa olehnya.


Tak lama kemudian Alex berada di sebuah mansion mewah tempat sesosok arwah penasaran tersebut sebelum meninggal di bunuh.


Jauh beberapa tahun sebelumnya di sebuah mansion mewah, terdapat seorang wanita muda yang tengah menunggu kedatangan sang suami tercinta.


Tengah malam hari ia merasa sedikit gelisah tak kala sang suaminya itu masih belum menampakkan hidungnya.


Hingga membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak saat ia dengan setia menunggu kedatangan sang suami tercinta.


Namun tanpa ia sadari bahwa suaminya tersebut tengah berada di sebuah hotel dengan seorang wanita cantik yang lebih muda dari usianya, yang mana wanita tersebut merupakan istri simpanan sang suami tanpa sepengetahuan dirinya.


Kembali lagi pada kehidupan arwah penasaran itu sebelum di bunuh, di mana sang suami dari wanita tersebut sedang berbagi peluh keringat dengan wanita cantik lain yang tak lain istri simpanannya.


Entah mengapa suami dari wanita tersebut tak bisa berbuat banyak ketika istri simpanannya selalu berhasil menjeratnya dengan pesona yang di punya oleh istri mudanya itu.


Padahal sejujurnya tak dapat ia menghindari, bahwa ia sendiri pun telah mengkhianati cinta dari istri. Tanpa sepengetahuan dari sang istri tentunya, ia menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang mengaku-ngaku hamil anak yang berada di dalam kandungannya.


Namun itu semua hanya tipu muslihat yang di punya oleh wanita cantik yang telah menjadi istri mudanya, semata-mata hanya untuk merongrong harta kekayaan yang ia bangun mulai dari bawah atas bantuan doa dari istri sahnya itu.


Kembali lagi pada dua insan berbagi ranjang yang sama dengan peluh keringat yang membasahi kedua insan tersebut sama-sama menikmati surga dunia milik berdua, tanpa di sadari ada sebuah hati yang tergores oleh luka.


Salah satu di antaranya terluka oleh dua insan tersebut.


Setelah bercinta dengan istri simpanannya itu, ia pun beranjak dari ranjang saksi dari percintaannya yang sangat menggairahkan.


Untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lengket akibat keganasan dari istri simpanannya yang tengah mengandung buah hatinya.


Tanpa ia sadari bahwa istri simpanannya tersebut merupakan wanita yang sangat licik.


“Mau ke mana? Apa kamu tak bisa lebih lama menemaniku!” ucapnya dengan merajuk.


“Sudah jangan merajuk begitu,” sahut pria yang sedang beranjak dari ranjang itu. “Aku harus segera pulang ke mansion. Kamu tahu bukan pernikahan ini, tanpa ada restu darinya. Jadi mau tak mau kamu harus menerimanya.” Tanpa menolehkan ke arah istri simpanannya merajuk itu pun, ia bergegas beranjak ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari peluh keringat bekas percintaannya.


Ia pun semakin merasa bersalah pada sang istri tercinta, bukan karena tak bisa setia. Akan tetapi saat ia berusaha untuk meluangkan waktunya bersama istri tercintanya. Namun selalu saja di gagalkan oleh istri simpanannya itu, seakan-akan ia telah menodai pernikahannya dengan Minerva sang istri yang selama ini menemaninya dari nol.


Setelah pulang dari hotel tersebut, ia akan meminta maaf pada sang istri karena terlambat pulang dan melewatkan makan malam dengannya.


Bisa saja ia beralasan dengan lembur, yang harus membuatnya menginap di kantor. Namun ia tak bisa terus berbohong pada sang istri tercinta.


Jika di dalam kamar mandi ia termenung memikirkan cara untuk membohongi sang istri, lain halnya dengan istri simpanannya tersebut merasa tak terima bila waktunya harus terbagi dengan wanita lain.


Karena niatnya memang ingin menghancurkan kebahagiaan dari Minerva dan Marco seseorang yang sangat ia benci seumur hidup, bahkan ia berniat menjadikan Minerva istri sah dari Marco itu menjadi manekin yang berasal dari tubuh manusia.


‘Sialan kau Minerva! Aku sudah membuat suamimu berpaling darimu, akan tetapi masih saja tak bisa membuatku bisa merangkak untuk bisa menyingkirkan posisimu. Lama-lama aku semakin tak tahan untuk menjadikanmu manekin dengan tubuh indahmu’ gumam Sherly dengan tersenyum misteri.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dengan selesainya Marco sang suami membersihkan tubuhnya sebelum meninggalkan hotel tersebut untuk kembali ke mansion.


“Sayang,” panggil Sherly dengan manja. “Apa kamu tega meninggalkanku sendiri di hotel ini?”


Menghela napas gusar mau tak mau, Marco pun selalu mengingatkan bahwa pernikahannya dengan Sherly itu masih sangat di rahasiakan dari siapa pun, termasuk seluruh keluarga dan sang istri tercinta Minerva.


“Sherly dengarkan ini sekali lagi dan juga aku tak ingin mendebatkan sesuatu yang tidak penting!” sahut Marco sembari berjalan menghampiri istri simpanannya itu. “Aku bukannya tak ingin bersama terus denganmu, akan tetapi ada istriku lain yang tengah menungguku di mansion. Bukankah kau yang selalu menghabiskan waktuku denganmu, lalu mengapa bagimu kau selalu merasa kurang ketika denganku?”


Todong Marco dengan mencecarnya berbagai macam perkataan yang ia lontarkan.


Sherly pun hanya bisa mendengus saat Marco mengatakan sesuatu yang membuat darahnya mendidih.


Entah iblis mana yang berhasil membisikkan kata-kata yang mampu membangkitkan sisi gelap yang di miliki oleh Sherly.


“Ya sudah pulanglah, jangan temui aku kembali sebelum kamu menemaniku di sini! Dan juga jangan menemuiku dengan alasan merindukan anakku,” usir Sherly tanpa menghiraukan kembali Marco sang suaminya itu.