
Alex merasa bingung dengan Araxi yang selalu peka terhadap hal buruk menimpa orang-orang terdekatnya.
Sampai-sampai lamunannya buyar saat Albert tak sengaja menanyakan kejadian yang menimpa mereka. “Bagaimana bisa terjadi pada kalian?”
Lalu kedua kembaran itu pun kompak menggeleng. Mereka sendiri juga tak mengetahui kejadian yang sedang menimpa pada diri masing-masing, dan juga menimpa Leonard serta sahabatnya Theo.
“Kita harus segera menemukan keberadaan Kakakmu, Lex.”
Tanpa membantah Alex berusaha membuka tiap pagar gaib yang terlapis di penginapan tersebut. Entah mengapa keberadaan sang Kakak tercinta begitu sulit di lacak oleh dirinya.
Sampai-sampai Alex frustrasi karena pagar gaib tersebut sangat sulit di tembus keberadaannya, hingga energi di dalam tubuhnya sedikit terkuras.
Si’alan pagar gaib ini sangat sulit untuk ku’ tembus. Energiku sudah terkuras habis untuk membukanya.
Teguran dari sesosok di dalam tubuhnya pun terbengang kaget setelah mendengar umpatannya.
“Pemilik penginapan tersebut sengaja memancingmu. Kau harus hati-hati membuka pagar gaib miliknya.”
“Lalu, aku harus bagaimana?” Alex bingung dengan rencana yang akan dilakukan olehnya dengan Alexa.
Sesosok yang berada di dalam tubuh Alex sedang berkonsentrasi untuk membantunya membuka lapisan pagar gaib yang menguras energi tersebut.
Perlahan-lahan lapisan pagar gaib itu pun menipis, dan Alex berhasil melihat gambaran dua orang yang sedang terikat.
Di tempat yang tak bisa di tembus dengan mudah. Namun, ia bisa menangkap Theo sedang seperti sedang memanggil dan meminta pertolongan.
“Dia, sedang memanggil dan meminta bantuan pada siapa?”
“Tentu saja dia memanggil sesosok yang selalu melindungi dan menjaganya. Bukan-kah dia punya pasukan yang tak biasa?”
“Aku hanya mengetahui beberapa saja. Selebihnya tak begitu paham pasukan darinya.”
Atas saran dari iblis demon yang bersembunyi di dalam raga Alex. Ia disuruh memanggil serta meminta bantuan untuk membuka lapisan pagar gaib yang begitu sulit untuk di tembus.
Mengembuskan napas dan membuka mata Alex pun seketika memanggil sesosok yang selalu menjaga Theo. Membutuhkan beberapa detik pasukan mendiang Kakek Theo itu pun datang dengan sendirinya.
“Kalian merasa dipanggil, kan?” Alex menanyai mereka di antara salah satunya.
Sepuluh sesosok yang di panggil Theo itu pun mengangguk kepala. Membuat salah satunya menjawab pertanyaan dari Alex. “Benar, kami bersepuluh dipanggil terus oleh ....”
“Maka dari itu dia sengaja memanggil kalian bersepuluh untuk menolongnya, dan saat ini aku membutuhkan bantuan untuk membuka lapisan pagar gaib untuk menemukan keberadaannya. Bisa?”
Sesuai janji mereka pada mendiang dukun yang dulu pernah menolongnya. Kini mereka pun benar-benar menjaga amanat yang di tinggalkan oleh Tuannya itu. Untuk menjaga dan melindungi sang Cucu tercinta dari sesosok hantu yang selalu mengganggunya.
Akhirnya berkat bantuan sesosok bersepuluh. Kini Alex telah menemukan titik keberadaan sang Kakak dan Theo di sekap oleh pemilik penginapan tersebut.
Alex mengangguk. Ia dengan Alexa bergerak ke tempat tersebut untuk membebaskan sang Kakak tercinta.
Di bantu oleh sesosok bersepuluh dari makhluk yang dulunya merupakan sesosok pesugihan. Namun, mereka adalah pilihan langsung dari mendiang Kakek Theo untuk mengubah jalan takdirnya.
Agar manusia-manusia serakah tak lagi memanfaatkan keberadaannya yang hanya di jadikan budak oleh manusia yang tamak duniawi. Untuk itu-lah di depan mayat Tuannya dulu ia dengan beberapa rekannya bersumpah akan terus mengabdi sampai waktu tiba.
.
.
.
.
.
.
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.