Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Kecurigaan Theo Tentang Sesosok Gadis Tomboi Yang Secara Tak Sengaja Bertemu


“Lalu apa yang membuatnya lebih memilih menikahi Papaku?” beo Leonard merasa terheran-heran. “Bukankah kau tahu sendiri bukan The, bahwa Papaku ini tidak pernah merasa menikahi wanita itu.”


“Ini pasti ada yang mengganjal Le,” sahut Theo datar. Yang mana setelah membaca latar belakang perusahaan sekaligus pemiliknya itu kini mengganggu pikirannya.


“Oh ... Sialan ... Pasti ini ada hubungannya dengan kematian mendiang Mamaku The,” ucap Leonard sembari mengusap wajah tampannya.


“Kau cepatlah hubungi orang-orang suruhanmu. Katakan pada mereka, ada tugas yang harus mereka lakukan untukku.” Perintah Leonard dingin.


Tanpa membuang waktu banyak dengan gerakan cepat Theo pun merogoh saku celana yang di pakai oleh dirinya itu, untuk mengambil ponsel pintar. Sambil menekan sebuah nomor dari salah satu suruhannya itu.


Selang beberapa menit kemudian panggilan mereka terputus, dengan Theo memerintahkan suruhannya untuk melakukan tugas dari Leonard sahabatnya.


Guna menyelidiki lebih dalam tentang kejadian kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya, sehingga membuat sang Mama tercinta meregang nyawa di tempat pada waktu tujuh belas tahun yang lalu.


“Kau tenang saja. Mereka sudah aku tugaskan untuk menyelidiki tempat rumah sakit di mana Papamu dirawat. Apa kau tidak meminta bantuan pada asisten pribadi Papamu itu, siapa tahu beliau mengetahui sebuah rahasia yang berhubung dengan kasus tersebut.” Kata Theo sembari menawari Leonard untuk bertanya pada asisten dari Papa Leonard tersebut.


Tak ada jawaban dari Leonard. Dengan terpaksa Theo pun pamit undur diri, karena ia harus memastikan sesuatu yang kini tengah mengganjal di benaknya.


Sejak pertama kali bertemu dengan seorang gadis tomboi dengan sorotan mata mendingin itu, telah menarik perhatiannya. Kini pikirannya tertuju pada kedua orang tuanya, yang sepertinya mempunyai sebuah rahasia yang tidak Theo ketahui.


Dengan kecepatan sedang Theo pun mengendarai sebuah mobil milik Leonard yang memang sengaja ia bawa. Guna sewaktu-waktu sang sahabat membutuhkan dirinya, sehingga Leonard tidak perlu menyetir sendiri. Jika tidak dalam keadaan mendesak.


Menyetir sembari melamun membuat Theo tak menyadari ada pasukan dari sang kakek yang memperhatikan, serta menegur dirinya yang tengah menyetir tersebut.


“Tidak baik menyetir sambil melamun, kau bisa menjadi tidak fokus di jalanan yang kau lewati ini,” tegur salah satu makhluk hitam kesayangan mendiang dari dukun. Yang tidak lain kakek dari Theo.


Hal spontan membuat Theo mengerem mendadak, serta menolehkan ke arah sampingnya. Ia pun terkejut bukan main, dengan tiba-tiba Theo mendapat teguran dari salah pasukan mendiang kakeknya tercinta.


“Kau ini bisa tidak kalau mau menegur bilang dulu, jangan asal menegur,” sahut Theo dengan mendengus.


“Aku ini hanya menegurmu serta mengingatmu saja, kalau kau sedang menyetir sebisa mungkin jangan sambil melamun. Akan ada banyak dari sekian mereka, yang mengganggu penglihatan dan juga pendengaranmu.” Kata makhluk hitam itu dengan tegas. “Apa yang sedang kau lamunkan?”


“Tidak ada!”


“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Ingat fokuskan pikiranmu jangan buat mereka dapat melihatmu.” Peringatnya dengan sarat ancaman yang di tuju untuk Theo.


Tanpa banyak bicara makhluk hitam tersebut menghilang, meninggalkan Theo yang tengah memfokuskan dirinya di jalanan yang sedikit ramai.


Namun kejadian sebuah kejadian tak terduga, saat dalam perjalanan menuju arah rumahnya Theo pun mengalami kemacetan yang panjang.


Sehingga harus membuat dirinya memastikan penyebab kecelakaan tersebut dengan meninggalkan mobilnya yang tertutup di tengah jalan.


Tanpa Theo duga dari arah lain. Ia melihat sesuatu yang membuat dirinya sedikit mual, Yang sialnya hanya dirinya sendiri yang dapat melihat itu.


“Aduh, jangan-jangan hantu itu korban kecelakaan. Oh tidak, Ayah Ibu aku takut sekali.” Batin Theo menjerit sambil memanggil nama kedua orang tuanya.


Dengan melangkah mundur, untuk membalik kembali ke arah tempat mobilnya Theo tinggalkan. Namun sebuah suara dari hantu tersebut memanggil dirinya.


Deg–


Seketika itu pandangan netra mata Theo secara tidak sengaja menangkap sesosok arwah hantu korban kecelakaan itu sembari meminta pertolongan ke arah dirinya.


“Tolong saya,” pinta arwah hantu itu yang mengikuti langkah Theo.


Sedikit bergetar menutupi rasa traumanya dari kecil Theo pun berusaha berdamai dengan menerima sebuah kelebihan yang selama ini selalu mengganggu dirinya.


“Apa yang kau inginkan dariku,” sahut Theo datar sambil menolehkan ke kanan kiri. Untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya tengah mengobrol dengan arwah tersebut.


Karena Theo tidak ingin orang lain menganggap dirinya seperti orang gila.


“Di saku celana yang saya pakai ada sebuah surat untuk tunangan saya. Surat itu harus sampai ke tangan tunangan saya orang yang sangat saya cintai.” Kata hantu arwah tersebut sembari tersenyum.


Karena cahaya putih itu datang menyambut untuk memintanya kembali ke tempatnya berasal.


Setelah itu kemudian Theo pun melangkahkan kakinya kembali ke arah kerumunan orang-orang yang tengah menyaksikan tubuh korban kecelakaan itu di angkat ke dalam mobil ambulans yang sudah datang ke tempat kejadian perkara.


Tanpa berbasa-basi Theo pun mendekati seorang petugas yang tengah mengamankan jalannya evakuasi korban tersebut, sambil membisikkan sebuah pesan permintaan dari arwah hantu yang datang meminta pertolongan padanya.


“Hem, begitu ya. Baiklah terima kasih atas informasi Anda Tuan, nanti akan saya sampaikan ke keluarga korban serta tunangan dari korban tersebut,” ucap petugas itu sambil menjabat tangan Theo mengucapkan terima kasih atas informasi yang petugas itu dapatkan.


Selang beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Theo terbebas dari kemacetan yang panjang, ia pun merasa lega bisa terbebas dari arwah hantu tersebut.


Di dalam rumah sederhana tersebut, Theo pun mendapat sambutan dari sang ibu tercinta yang sedang membuat rajutan kaos kaki bayi.


“Sayang kenapa sudah pulang jam belum waktunya?” tanya Ella dengan lembut. “Apa ada masalah lagi?”


Bukannya menjawab pertanyaan dari ibunya tercinta, justru Theo menanyakan keberadaan ayahnya tercinta itu berada.


“Bu, Ayah di mana?” tanya balik Theo. “Apa Ayah sudah pulang dari kantor?”


“Tarik napas yang dalam lalu hembuskan, bila sedang bertanya sesuatu oke sayang.” Ella menegur Theo, karena putranya ini selalu membuka suara tanpa bernapas terkesan buru-buru.


“Ayolah Bu, aku ingin membicarakan hal penting dengan Ayah,” rengek Theo dengan cemberut.


“Anak Ibu sudah tua kok kelakuannya seperti TK,” ucap Ella dengan terkekeh lucu.


“Ibu!” panggilnya dengan merayu disertai rengeknya pada ibunya tercinta.


“Kenapa kamu tidak menghubungi ayahmu lewat ponselnya hem?” tanya Ella dengan gemas.


Terdengar helaan napas berat mau tidak mau Theo pun mengatakan hal serius pada ibunya tercinta.


“Bukannya aku tidak mau menghubungi Ayah Bu. Ada sesuatu hal penting yang benar-benar aku ingin tanyakan pada Ayah.” Jawab Theo tegas nan serius dengan sorot matanya yang datar.


“Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu tunggu Ayahmu pulang dari kantor. Kamu tentunya tidak lupa bukan, kalau di kantor pekerjaan Ayahmu menumpuk banyak. Jadi sebaiknya tunggulah Ayahmu pulang, nanti kamu bisa membicarakan ini dengan Ayahmu.” Ucap Ella lembut nan tegas di tiap nasehat yang di lontarkan oleh dirinya.


“Maaf!” Setelah mengatakan itu serta tidak lupa memberi kecupan lembut di kedua pipi ibunya tercinta, tidak lupa ia berlari terbirit-birit masuk ke dalam kamar pribadinya.


Setelah ia tidak sengaja mendengar nasehat dari ibunya tercinta.


*******


Sesosok makhluk tak kasat mata yang secara tidak sengaja bertemu dengan dirinya itu. Membuatnya memutuskan untuk membantu menuntaskan sesuatu yang tengah mengganjal di dalam ingatan dari hantu arwah Sumarni.


Ini pertama kalinya Ara memasuki dimensi ruang waktu milik seorang arwah penasaran yang masih belum mau kembali ke tempat asalnya. Karena biasanya selalu Alex yang melakukannya, namun kali ini mau tidak mau siap atau tidak dengan kemampuannya yang diwariskan oleh mendiang mamanya tersebut.


Tidak ingin Ara sia-siakan, karena setelah melihat potongan cuplikan kejadian pada waktu mendiang mamanya mengorbankan sisa hidupnya, guna membuat dirinya dengan kedua saudara kembarnya bisa bertahan hidup. Meskipun sang mama tercinta harus meregang nyawa.


Sebisa mungkin dengan ikhlas ia membantu para arwah yang mati penasaran itu, guna bisa kembali ke tempat asalnya bermula.


Seperti yang sekarang ini, ia tengah memasuki dimensi milik Sumarni yang masih membawa sesuatu hal yang belum tersampaikan sebelum arwah Sumarni kembali ke tempatnya.


Melangkahkan kakinya sesuai dengan arahan dari ingatan arwah tersebut. Sampailah kakinya berpijak di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari beberapa kayu. Yang mana kayu-kayu tersebut di makan oleh rayap.


Pandangan mata dingin Ara menatap ke arah seorang dua gadis cantik dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat kesakitan, akibat penyakit yang di derita oleh wanita paruh baya tersebut. Yang tidak lain ibu dari arwah Sumarni.


“Bu, bagaimana nanti dengan nasib kami berdua?” tanya salah satu orang tersebut. Yang ia duga adik dari Sumarni.


.


.


.


.


.


Izin slow update ya


karena aku lagi mempersiapkan naskah untuk karya baru


bab ini sudah panjang ya


jika ingin lebih berkenalan denganku silakan masuk ke dalam grub chat ku dan ketuk langsung pintunya karena grubnya aku buka kembali biar bisa masuk ke dalam & berkenalan denganku


thanks for you supportnya


untuk berkenalan follow Ig ku ya @Sii_mama_tomboy & FB Puput Purwanti


See you next time