Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 177


Tak ingin sang kakak curiga pada dirinya. Alex pun dengan terpaksa berdehem sambil berpura-pura batuk, dan mengatakan langsung pada kakaknya ada sesuatu yang harus mereka lakukan.


“Kak,” panggil Alex dengan raut wajah yang terlihat serius. “Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padamu.”


“Apa yang ingin kamu katakan padaku? Kakak akan mendengarkan semuanya dengan jelas,” jawab Leonard.


“Ini mengenai mama kita, Kak.”


“Saat ini ada seseorang yang sedang melakukan rencana untuk mama, Kak.” Alex pun mulai mengatakan perihal rencana yang dilakukan oleh Marista Mayang pada kakaknya ini.


“Apa!” teriak Leonard yang merasa kaget setelah mendengar sebuah rencana yang akan dilakukan oleh Marista, ibu tirinya itu. “Dari mana kamu tahu hal ini sudah direncanakan sebelumnya?”


Mendengkus kesal Alex pun tak menyangka bahwa kakaknya ini sangat tak mengenali adik-adiknya sensiri. “Apa kakak lupa dengan kemampuanku, hah?”


“Maaf!” Sesal Leonard yang benar-benar tak mengerti dengan ketiga kembar adiknya ini. “Kita berempat baru saja bertemu. Lagipula aku tak terlalu mengenali tentang sifat dari kalian bertiga.”


Alexa yang mendengar obrolan mereka pun memarahi Alex, bukan karena membelanya hanya saja apa yang dikatakan oleh sang kakak itu memang ada benarnya.


“Lex, seharusnya kamu itu bisa mengerti dengan keadaan, Kakak. Bukankah aku, kamu, dan Araxi baru saja bertemu dengannya. Wajar bila Kak Leon belum terlalu mengenal dekat dengan kita,” sahut Alexa yang membuat Alex merasa tertampar dengan pernyataan dari kembarannya ini.


Rasa yang begitu teduh dan tenang saat Leonard mendengar nada lembut yang dilontarkan oleh Alexa, dirinya pun tak menyangka bisa mendengar nada itu kembali setelah sekian lama merindukan suara dari mendiang sang mama tercinta.


Bagaimana itulah yang dirasakan oleh Leonard, suara dari Alexa benar-benar membuat hatinya terobati.


Yang membuat Alex menghela napas gusar. “Kita sudah tak punya banyak waktu, Sa!”


“Aku tahu, Lex!” sahut Alexa dengan raut wajah yang terlihat serius. “Biar aku yang menjelaskannya kembali. Apa kamu tak keberatan, Lex?”


Mengangguk kepala Alex pun membiarkan Alexa yang mengambil alih dengan menjelaskan kembali perihal tentang mama mereka.


Sampai saat dirinya melihat dengan jelas, tangan kakaknya itu mengepal erat sambil menahan amarah yang menggebu-gebu.


Namun, sorot mata Alex menjadi dingin saat dirinya tak sengaja melihat sebuah bayangan yang tengah menimpa mata-mata dari om Kevin itu, seketika amarahnya meledak saat bayangan tersebut terlihat sangat jelas dipikirannya.


Apa-apain! Jadi… dia menggantikan mayat mata-mata om Kevin untuk di letakkan dimakam, mama … Sungguh benar-benar manusia biadab! Ini tak bisa dibiarkan begitu saja… Sekarang juga mama harus di pindahkan ke tempat yang baru agar tak bisa disentuh oleh mereka.


Lalu tak lama kemudian Alex pun mengatakan pada Alexa apa yang dirinya lihat itu harus segera dilakukan karena jika terlambat mereka akan benar-benar kehilangan sang mama tercinta.


“Sa, gawat!” panggil Alex melalui telepati masing-masing.


Alexa yang tengah menjelaskan perihal tentang sang mama tercinta pada kakaknya itu, terkejut saat mendapat panggilan telepati dari kembarnya. “Apanya yang gawat, Lex?” tanya Alexa sambil mengernyit bingung.


“Makam mama harus segera di pindah, Sa. Jika tidak mereka akan menggantikan orang lain untuk menempati makam, mama.” Alex pun menjelaskan semua tentang penglihatannya pada Alexa.