
Seolah-olah mengerti dengan berat hati Leonard mengizinkan Kevin mengangkat panggilan tersebut.
Karena nada dering dari ponsel milik Kevin mengganggu pendengarannya. “Angkat saja Om siapa tahu itu penting,” sahut Leonard dengan sopan.
Meskipun kenyataannya ia sedikit kesal dengan nada dering dari ponsel milik Kevin.
Tanpa menolehkan ke arah Leonard, seketika Kevin di buat terkejut tak melihat nama yang tertera di ponsel, tanpa banyak kata Kevin mengangkat panggilan tersebut.
Yang mana ia dibuat kaget mendengar nada panik dari arah seberang yang berasal dari putrinya tercinta. “Papa ada di mana? Kenapa lama sekali,” ucap Ivone dari arah seberang dengan nada panik dan kesal.
“Maaf sayang Papa masih ada perlu dengan sahabatmu ini. Mengapa ada apa menghubungi Papa, apa terjadi sesuatu pada Araxi?” tanya Kevin sembari penasaran dengan nada panik dari putrinya itu.
“Kabar buruk Pa! Saat aku masuk ke kamar untuk melihat keadaan Araxi, tiba-tiba alat monitor yang menunjang jantungnya mendadak berganti garis lurus.” Ivone pun memberitahukan pada Papanya tentang kondisi Araxi yang semakin kritis.
Leonard yang tak sengaja mendengar obrolan antara dua orang ayah dan anak itu, seketika tubuh Leonard menegang dengan diiringi keluar keringat dingin yang mengalir di tubuhnya.
Entah mengapa perasaan hati dan pikiran menjadi tak karuan setelah mendengar arah obrolan dua orang tersebut, untuk memastikan sesuatu dari jawaban atas yang dikatakan oleh Papanya.
Dengan terpaksa Leonard mengikuti saran dari kemauan Papanya itu.
“Sayang apa kamu sudah memanggil dokter yang merawat Araxi?” tanya Kevin.
“Sebelum aku menghubungimu, dokter sudah aku panggil terlebih dahulu. Saat ini dokter dan beberapa perawat tengah menangani Araxi, sebaiknya Papa segera datang ke mari. Aku bahkan tak mempunyai nomor ponsel Alexa. Apa Papa punya?”
“Sayang, kamu tunggu di sana jangan ke mana-mana terlebih dahulu. Papa akan segera ke sana.” Tanpa menunggu jawaban Kevin dengan cepat mengakhiri panggilan tersebut.
Untuk membongkar rahasia yang ia sembunyikan, Kevin menundanya kembali saat ini putrinya tercinta membutuhkan kehadirannya.
“Apa yang telah terjadi Om?” tanya Leonard dengan pura-pura tak tahu. Padahal Leonard pun sedikit mendengar obrolan tersebut.
“Ayo kembali ke rumah sakit. Putriku sedang membutuhkan kehadiranku,” ajak Kevin sembari memanggil pelayan untuk membayar dua kopi yang di pesan olehnya. “Dan juga maaf aku tak melanjutkan obrolan kita tadi.
Dengan pasrah Leonard pun mengangguk, ia pun segera Merapikan jas yang sedang dipakainya. Serta tak lupa juga melihat sebuah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.
******
Seakan mengerti pak Sholeh pun mengambil alih untuk mengatakan pada ketiga orang yang tengah berusaha menutup luka sobek dengan darah yang terus mengalir. “Bapak antar kalian ke rumahnya biar luka sobek itu segera di tangani.”
Tak di sangka dalam perjalanan nyawanya pun tak tertolong, karena darah tersebut terus mengalir tanpa mau berhenti.
Sebelum meregang nyawa orang yang di sebut Juragan itu pun, meminta permintaan untuk mengubur sebuah tulang belulang.
Yang memang ia sengaja menyimpan tulang tersebut, mengingat rasa bersalahnya pada seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya.
Saat hampir sampai di rumah Juragan tersebut, beberapa warga desa menjadi gempar dengan kedatangan tiga orang yang tak begitu mereka kenal.
.
.
.
.
.
Suka ya di crazy up
Jangan lupa dukung terus ya
See you next time
Love you