Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 182


Lalu kemudian setelah Leonard selesai menghubungi seseorang dia menatap pada dua adik kembarnya serta mengajak mereka menepi sambil menunggu makam mama dipindahkan.


“Sudah-sudah jangan berdebat kita menepi dulu sambil menunggu makam mama selesai dipindahkan sebaiknya kalian ikut aku untuk mengisi tenaga.”


Sekarang ini keempatnya berada di sebuah rumah makan yang tak jauh dari arah pemakaman untuk mengisi tenaga sebelum mereka kembali ke rumah sakit dan juga kepindahan makam dari mendiang Siska.


*****


Di tempat lain terdapat beberapa orang yang saat ini sedang menertawakan kebodohan dari seorang pengkhianat yang telah dibunuh atas permintaan sang nyonya Marista Mayang.


“Lihatlah Ben karena kebodohanmu sampai kami harus turun tangan untuk menyingkirkan kau. Menyusahkan saja.” Agus mengomel dengan kesal saat melihat sendiri bagaimana Beni lebih memilih mati daripada harus menjadi a'njing pesuruh.


“Sudah, tak perlu mengomeli pengkhianat itu.” Udin menenangkan perasaan rekannya yang begitu sangat emosi.


Agus memicing mata saat ia tak sengaja mendengar rekannya seperti membela pengkhianat yang sangat dibencinya itu.


“Apa kau ingin menemaninya di alam b'aka sana, hah!”


“Tidak. Bukan seperti itu, Gus. Kau tak perlu mengomeli mayat yang mati. Urusannya bisa panjang kalau kita semua tak segera mengurus pekerjaan ini.” Udin dengan cepat mengalihkan pikiran rekannya sambil mengajak agar Agus tak terlalu ambil pusing tentang pengkhianat tersebut.


Apakah Beni melakukan hal ini karena menjadi mata-mata untuk tuan Kevin? Akan tetapi untuk apa ia kembali pada beliau? Aku harus mencari tahu masalah ini. Bukankah bayi kembar itu sudah ada di tangannya saat kami bertiga gagal memenuhi permintaan nyonya.


Setelah ia dan semua rekannya selesai melakukan perintah dari nyonya. Udin akan menyelidiki tentang awal mula Beni menjadi mata-mata dari Kevin Morgan Adhitya.


“Ingat kita tak boleh gagal melakukan apa yang nyonya minta.” Agus menegaskan pada seluruh rekannya untuk memberi peringatan agar mereka tak boleh gagal melakukan dan kesalahan dalam perintah yang datang langsung dari Marista Mayang.


Sementara itu di sebuah rumah sakit dengan Araxi yang masih terbaring di atas brankar berdiam membisu. Ketika dia tak sengaja mendengar seseorang menguping obrolannya dengan Albert. Bukan karena tak bisa akrab dengan orang itu tentu saja Alexa yang lebih memahami tentang perasaannya.


Sebelum Ivone membuka pintu kamar inapnya. Ia terkejut saat mendapati sebuah gambaran tentang kejadian di puluhan ribuan tahun yang lalu.


Untuk memastikan apa yang telah dilihat olehnya. Di dalam pikiran ia mengobrol dengan sesosok yang merasuki tubuhnya.


“Jadi papaku adalah reinkarnasi dari salah satu orang yang disukai oleh wanita iblis itu?” tanya Araxi dingin.


“Oh, jadi kau sudah mulai mengerti mengapa papamu tak bisa lepas dari genggaman wanita iblis atau lebih tepatnya ibu tirimu!” ujar Darrel dengan membalik pertanyaan.


“Apa hubungan mereka ada?” Araxi enggan menjawab pertanyaan dari sesosok tersebut.


“Ada karena itulah mengapa aku dan kakek bisa sampai ke tempat ini.” Darrel pun menceritakan awal mula kedatangannya ke tempat dimana mereka sama sekali tak mengenalinya.


“Jadi begitu, ya!”


Darrel mengangguk kepala. Namun, ia jadi teringat masih ada seseorang yang singgah ke dalam tubuh menjadi tempat persembunyiannya. “Masih ada satu orang dan mungkin saat ini masih belum ingin menunjukkan wujud aslinya.”


“Siapa yang kau maksud.” Araxi bertanya sembari dengan mengernyit heran.


“Seberapa bahaya orang yang berasal dari bangsamu itu?”


“Maaf aku tak bisa menjelaskan lebih detil. Yang pasti antara papamu, wanita itu dan juga di antara kami masih ada yang harus di selesaikan.”


Rasa penasaran Araxi begitu tinggi. Pantaslah dia merasa sedikit ganjal. Mengapa wanita itu selalu memburu mendiang sang mama tercinta.


“Lalu mengenai mendiang mamaku. Bisa kau jelaskan sekarang. Mengapa sampai sekarang wanita iblis masih terus mengincarnya!” Araxi bertanya dengan nada yang begitu dingin.


“Mendiang mamamu adalah orang yang spesial sengaja di pilih untuk menjadi pendamping papamu. Terlebih lagi dengan kemampuannya yang dapat melihat makhluk tak kasat mata. Itulah mengapa bangsa kami memilihnya.” Darrel juga menjelaskan tentang Siska yang memang sengaja mereka pilih. Namun, tak disangka ia begitu terkejut setelah mendengar kematian yang merenggut nyawanya.


“Aku begitu sangat membenci saat mamaku sudah tiada tapi iblis itu tak hentinya mengejar dan selalu ingin menguasai papa sendiri.” Kilatan kemarahan di diri Araxi telah naik ke ubun-ubun. Saat dia benar-benar tak menerima perlakuan yang dilakukan oleh Marista Mayang.


Obrolan mereka akhirnya terhenti saat Araxi menjadi lebih dingin dan banyak berdiam diri. Namun, tak lama kemudian dia terbengang kaget saat mendapati Ivone memanggil dirinya.


“Sedang melamunkan apa?” Meskipun Ivone tak begitu akrab dia berusaha mendekatkan diri pada gadis dingin tersebut.


“Sejak kapan kau masuk ke dalam kamar ini?” Araxi enggan menjawab. Namun, justru bertanya balik pada seorang wanita di depannya.


Di tanya balik membuat Ivone mengerucut kesal. Entah sampai kapan gadis tomboi dingin ini bisa begitu akrab dengannya. Sama seperti saat bersama Alexa.


“Sejak kau melamun. Memangnya ada masalah dengan kedatanganku!”


“Tidak!”


Araxi pun terpaksa harus menanggapi celotehan dari Ivone. Karena dia bisa melihat kesedihan yang melanda di diri wanita tersebut.


“Lalu kalau kau ada di sini. Om Kevin ada di mana?” tanya Araxi seraya berusaha menghibur Ivone.


“Papa ada urusan sebentar makanya ku tinggal datang menjenguk di kamara ini. Biar di sini ada yang menemanimu. Kau tak keberatan?” Ivone mencecar Araxi dengan pernyataan yang dilontarkan barusan.


“Hm.” Araxi sendiri terlihat bingung gambaran tentang di sebuah kerajaan dari dua bangsa tersebut terus masuk ke dalam pikirannya.


Potongan puzzle sedikit demi sedikit mulai terurai dengan obrolan tadi membuatnya semakin mengerti. Mengapa wanita iblis itu begitu membenci seseorang yang tak berdosa karena ia terlahir bukan dari seorang darah yang seharusnya dulu menjadi miliknya.


Aku harus bagaimana mengatakannya kalau yang berada di dalam tubuh itu bukanlah tubuh asli melainkan raga yang sedang di pinjam. Pantas saja dari dulu ia begitu gencar mengincar papa sampai-sampai menikah dan lahirlah anak pertama hingga sampai kami bertiga karena papa dan wanita itu ada hubungan yang belum terselesaikan dengan jelas.


“Melamunkan apa sih?” Ivone mengulang pertanyaan yang sama.


“Jangan berisik!” Araxi tanpa sadar membentak Ivone.


“Kau ingin aku pergi dari kamarmu ini?”