Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Kematian & Dendam Arwah Sumarni


“Beri kakak waktu untuk memikirkan hal, kau itu terlalu gegabah sekali.”


Setelah mengatakan hal tersebut pada sang adik Sumarni pun meninggalkan adiknya untuk kembali ke rumah, agar sang ibu tercinta tak mencurigai arah pembicaraan mereka.


‘Aku sangat yakin Kak, kau tak akan bisa menolak kembali permintaanku ini. Cepat atau lambat, kau sudah tak ada lagi di rumah itu.’


Kemudian Jamilah pun menyusul sang Kakak yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah yang penuh kenangan bersama mendiang bapak mereka tercinta.


Sementara itu di tempat, terdapat dua orang wanita yang tengah membicarakan hal serius.


Seperti yang ia duga suaminya tersebut telah mempersiapkan diri, bahwa ia akan menikah kembali dengan seorang gadis belia yang menjadi incarannya.


Namun satu hal yang membuat salah satu wanita itu menerka, mengapa harus menikah lagi suaminya itu.


Apakah suaminya itu tak cukupkah dengan kesetiaan yang di lakukan oleh dua wanita tersebut.


“Mengapa kau bisa tahu, kalau suami kita sedang mengincar gadis belia itu?” tebak istri Juragan Dendi yang lebih tua seraya bertanya pada adiknya. “Dari mana kau bisa menerka-nerkanya?”


“Aku mempunyai mata-mata yang aku tugaskan untuk mengawasinya Kak,” jawabnya sembari menyeringai.


“Memangnya siapa yang kau suruh menjadi mata-mata kita?”


“Sabar Kak sebentar lagi mata-mata kita akan muncul, dan ia akan memberi kita laporan tentang kegiatan suami kita.”


Orang yang mereka bicarakan itu pun muncul, setelah rumah dalam keadaan sepi. Tentunya atas desakan dari istri muda Juragan Dendi, mau tak mau salah satu rekan botak tersebut harus mengkhianati Tuannya. Karena dirinya mendapat ancaman dari istri Tuannya itu.


“Nah itu dia orangnya Kak,” sahut istri muda seraya menyeringai. “Kita akan tahu setelah dia melaporkan temuannya pada kita.”


Istri tua dari Juragan Dendi pun bermanggut-manggut menanggapi perkataan dari adiknya tersebut.


“Katakan semua tentang laporanmu padaku!” Perintah tegas. “Kau tahu bukan, kalau aku dengan dia tak bisa di bantah.”


Dengan cepat ajudan suami mereka pun melaporkan kegiatan yang di lakukan oleh suami mereka.


“Tuan masih mengotot untuk menikah seorang gadis yang menjadi incarannnya Nyonya.” Lapornya pada dua wanita yang mengerikan.


“Lalu gadis mana yang sedang di incar oleh Tuanmu?”


“Tuan sedang mengincar seorang gadis yang merupakan pekerja di tempat milik anda Nyonya.”


“Siapa gadis itu?” membeo seraya memikirkan tentang seorang gadis yang di incar oleh suami mereka.


Tiba-tiba membuat keduanya memikirkan ke arah satu nama yang tengah di pikirkannya itu.


“Apa yang kau maksud pekerja itu yang menjadi incaran suami kita begitu maksudmu?” tanya istri muda pada ajudan suaminya.


“Benar Nyonya gadis itu yang sedang di incar oleh Tuan.”


“Baiklah mulai sekarang kau pantau terus kegiatannya, kalau pun ada sedikit yang mengganjal segera laporkan padaku.” Titahnya tanpa ada bantahan. “Kalau pun Tuannya masih tetap kukuh mengincar gadis itu biarkan saja, biarkan dia melakukan apa yang di suka dan tak di suka oleh Tuanmu itu.”


Tanpa menjawab pertanyaan dari Nyonya, ajudan itu pun beranjak dari tempatnya meninggalkan dua orang yang tengah terdiam membisu.


Kemudian mereka pun kembali merencanakan sesuatu yang sedang di pikirkan oleh istri muda Juragan Dendi.


“Apa yang harus kita lakukan Kak?” tanya istri muda cemas.


Setelah memberi peringatan dengan bergegas, istri tua Juragan Dendi itu pun beranjak meninggalkan adiknya yang tengah terdiam membisu.


Keesokan harinya masih di tempat rumah sederhana milik Sumarni, tengah menghela napas panjang.


Sejak semalam dirinya pun sama sekali tak tidur dengan nyenyak, karena terus memikirkan permintaan adiknya yang sangat tak masuk akal tersebut yang meminta dirinya menikah dengan Juragan Dendi.


Apalagi sang adiknya tak mengetahui, ada dua wanita yang selalu membayangi kehidupan Juragan tersebut, lalu bagaimana bisa ia harus menikah.


Jika berhadapan dengan istri dari Juragan itu saja membuatnya takut, mengapa sang adik tak pernah memahami perasaannya.


Dan pada akhirnya pernikahan tersebut terjadi begitu dengan cepat, hingga sampai terdengar di telinga dua istri Juragan tersebut, yang mana membuat dirinya mendapat siksaan tekanan batin dan fisik.


Akibat dua istri dari Juragan yang telah menjadi suaminya itu tak terima dengan pernikahan yang di lakukan oleh dirinya.


Hingga puncaknya terjadi begitu cepat saat Sumarni hamil anak dari suami sang Juragan tersebut, membuat kedua istri tertuanya murka.


Karena tak terima dengan kehamilan yang terjadi pada dirinya, hingga keduanya pun bertekad untuk melenyapkan bayinya beserta juga dengan melenyapkan dirinya.


Dengan mendatangi seorang dukun untuk melancarkan aksinya, melenyapkan istri muda suami mereka tersebut.


“Apa kau yakin Kak ini akan berhasil?” tanya sang adik.


“Lalu kau harus selalu melihat kemesraan mereka begitu?” jawabnya acuh seraya bertanya balik.


“Ya tidaklah, bahkan suami kita jarang memperhatikan kita berdua Kak,” Sahutnya sendu.


“Maka dari itu aku mengajakmu ke tempat itu, untuk melenyapkan dia.” Ujarnya sembari bertekad.


Untuk melenyapkan seseorang yang membuat suaminya berubah semenjak menikah dengan gadis yang dulu di incar oleh suaminya.


Saat mereka tiba di sebuah gubuk reyok yang penuh dengan aura yang sangat menyeramkan, seketika bulu kuduk salah satu dari istri Juragan Dendi berdiri karena merasa sedikit takut dengan keadaan sekitarnya.


“Kau kenapa?” tanya istri tua pada sang adik.


“Aku hanya takut Kak, terlihat sepi sekali saat harus masuk ke dalam gubuk itu,” jawabnya sembari mengadu.


“Kalau kau merasa takut, kenapa kau tak di rumah saja tadi. Aku pergi ke tempat itu, hanya untuk segera melenyapkan dia. Bisa tidak kau tak membuatku pusing.”


“Oke maaf!”


Setelah itu mereka pun meminta bantuan pada dukun tersebut, untuk melenyapkan Sumarni yang saat itu tengah hamil tua.


Karena di dalam pikiran dua istri tertua Juragan Dendi, mau tak mau harus bisa melenyapkannya.


Puncaknya ialah dua istrinya telah mengirimkan sebuah santet pada istri muda suami mereka, yang mana membuatnya meregang nyawa seketika di tangan seorang dukun yang di sewa dua orang tersebut.


Setelah memastikan Sumarni meregang nyawa, dengan meminta bantuan sang ajudan suaminya. Istri-istri Juragan tersebut mengubur mayat Sumarni di dalam sebuah gudang yang tak terpakai oleh mereka.


Yang sialnya tanpa mereka sadari, ada sesosok arwah dengan mata yang menyala-nyala menuntut balas dendam atas perbuatannya.


Hingga sang arwah Sumarni menjadi malas sekaligus kecewa, karena tak bisa membalas dendam atas kematian yang menimpa dirinya.