Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 173


Membuat tubuh disekujur anak lelaki itu pun mulai membiru, bahkan wajahnya mendadak menjadi pucat pasi sehingga perlakuan biadap pria yang menjadi ayah tiri dari anak lelaki tersebut membuat Araxi menjadi berang, ia sungguh tak menyangka bisa melihat penyiksaan secara sadis dalam kehidupannya.


Jika dapat dilihat dengan teliti, kelakuannya tak berbeda jauh dengan ibu tirinya, yang tak pernah merasa puas dengan apa yang ia dapatkan selama ini.


Dasar sialan jika aku sudah bertemu denganmu dari dalam dimensi ini. Akan aku pastikan meremukkan tulang gigimu menjadi tanggal.


Araxi pun bersumpah jika saja ia dapat bertemu dengan pria itu. Tak akan pernah ada ampun untuk pria yang telah membunuh anak kecil tersebut.


Berbagai penyiksaan sadis itu secara tak sengaja Araxi melihatnya, dengan tatapan yang sangat dingin itu, membuat Araxi tak berbuat banyak setelah melihat anak lelaki tersebut meregang nyawa di tempat dengan cara yang sungguh sangat menyeramkan bagaimana pria keji itu, membunuh seorang anak yang tak berdosa.


Mayatnya pun dibuang di suatu tempat, yang mana tak seorang pun dapat menemukannya sehingga ia bisa membuat alasan yang tak masuk akal, dan juga pria itu menghipnotis sang istri agar mau menuruti semua keinginan yang selama ini ia impikan.


Lalu tak lama kemudian Araxi pun menghampiri hantu anak lelaki yang ia ikuti, dan ia menanyakan sebuah permintaan yang diminta oleh anak tersebut.


“Jadi sekarang kau ingin aku melakukan apa untukmu?” tanya Araxi dingin. “Bahkan aku pun tahu siapa namamu?”


“Kakak, bisa memanggilku, Renzo.” untuk pertama kalinya hantu anak lelaki itu menjawab pertanyaan dari Araxi, yang menatapnya dengan tatapan yang begitu sangat dingin.


Tanpa diketahui oleh hantu anak kecil bernama asli dari Clarenzo, aura yang begitu sangat dingin itu berasal dari sesosok, yang tak dikenali olehnya sebagai hantu anak lelaki yang masih menyimpan dendam.


“Baiklah aku bisa membantumu tapi … Apa kau bersedia untuk sabar menunggu dua kembaranku kembali dari misi?” bertanya kembali sekaligus menawarkan diri pada hantu Renzo. “Sebab tubuhku masih belum bisa digunakan untuk beraktivitas.”


Hantu Clarenzo pun hanya bisa menganggukkan kepala sebab, pada seseorang yang sedang menatap dingin itulah yang bisa membantunya, untuk membalaskan sebuah dendam besar yang ia bawa sampai akhirnya menjadi hantu anak lelaki yang bergentayangan.


“Apa kau tak keberatan kita kembali, Ren?”


Tanpa banyak kata Araxi pun menggunakan kembali kemampuannya, untuk kembali dari dimensi waktu milik Clarenzo. Yang mana saat ia kembali itu pun, mendapat cecaran dari hantu tampan yang menurutnya sangat menyebalkan.


“Ra, apa kamu baik-baik saja? Tak ada yang terluka? Kamu selalu membuatku cemas saja!” tanya Albert dengan raut wajah yang begitu cemas.


“Kamu itu, Al seperti perempuan saja! Cerewetmu membuat kepalaku pusing mendengarnya.” Araxi pun menegaskan pada Albert, bahwa ia sedikit merasa tak nyaman dengan tingkah laku hantu tampan tersebut.


Mendapat gadisnya menjawab seperti itu, membuat Albert mengunci mulutnya rapat-rapat. Seseram inikah menurut Albert, jika saja ia tak mencemaskan gadisnya secara berlebihan, dirinya tak akan mendapat serangan langsung dari gadis tomboi dingin tersebut.