
Bisik Marista dengan seringai licik di wajahnya.
Dengan sorotan mata yang mendendam itu, sampailah ia di depan pintu rumah sederhana yang di huni oleh dukun tersebut.
Dengan santainya ia mendobrak pintu tersebut, tanpa ada rasa takut sedikit pun yang menghalangi jalannya.
Terbukalah pintu rumah dukun itu dengan keras, setelah ia membukanya dengan cara menendang daun pintu tanpa ampun.
Melenggang masuk ke dalam rumah tersebut, dengan di ikuti tiga orang anak buah yang mengikutinya dari belakang.
“Halo dukun tua, apa kau siap menyambut kematianmu,” sapa Marista Mayang dengan sinis. “Kau pasti tahu bukan aku datang kemari untuk apa?”
Bukannya menjawab dukun tersebut memancing amarah Marista Mayang dengan santai dan tenang, tanpa menghiraukan kematian yang sedang di hadapi dukun itu.
“Apa kau yakin setelah melenyapkanku, kau mampu merebut posisinya!” ejek sang dukun itu.
Seketika amarahnya memuncak dengan gigi gemeretak seraya mengepalkan tangannya, saat mendengar ejekan yang terlontar dari dukun itu.
“Sialan kau dukun tua,” umpat Marista. “Enyah kau dari sini,” sahutnya kemudian sembari mengacungkan pistol ke arah dukun itu.
Bersiap menarik pelatuk pistol tersebut, untuk melenyapkan dukun itu. “Tidak ada yang bisa aku lakukan, mau tak mau kau terlebih dahulu yang aku lenyapkan. Sebelum wanita sialan itu.”
Ucap Marista dengan nada yang meninggi.
“Kalaupun kau berhasil melenyapkan nyawaku, tetap saja kau tak akan pernah bisa merebut posisinya,” ucap dukun dengan senyum licik. “Karena hatimu telah tertutup, kau wanita yang tamak dan serakah. Tidak cukupkah kau membuat suamimu sendiri menjadi pria yang tak berdaya, berkat bantuan dariku. Lalu sekarang kau ingin merusak kebahagiaan orang lain, aku sangat yakin itu kau hanya terobsesi bukan mencintai sesuatu yang bukan milikmu.”
Tanpa merasa bersalah dan berdosa, seketika Marista itu pun menarik pelatuk yang di arahkan ke dukun itu dengan beringas. Hingga tepat sasaran jantung dukun tersebut tertembus sebuah peluru, yang ia lepaskan.
Dor ...
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Dengan sekuat sisa tenaga yang di milikinya, dukun tersebut melirik ke arah makhluk tak kasat mata yang menatapnya dengan sorotan yang menakutkan.
Seakan ia tahu waktunya mulai menipis, melalui pikirannya ia menyampaikan semua pesan permintaan pada makhluk tak kasat mata itu.
Untuk di sampaikan pada putranya, yang sialnya sang putra tengah berada dalam perjalanan menuju arah tempat terakhir ia singgah.
Kembali pada Marista yang tengah meniup ujung pistol, merasa puas setelah ia melepaskan sebuah peluru yang berhasil menembus jantung dukun itu.
“Bagaimana apa kau suka kejutan dariku dukun tua!” ejek Marista dengan sinis.
“Ka---u wanita yang berhati iblis,” ucap dukun itu dengan sisa tenaga yang di miliki olehnya. “Meskipun aku mati sekali pun, kau tak akan bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Sekali pun kau berhasil menggantikan posisinya, karena kau tak akan pernah tahu. Bahwa suatu saat ini nanti berhadapan langsung dengan garis keturunannya. Ingat dan camkan baik-baik, wahai wanita iblis meskipun kau berhasil menikah dengan orang yang kau kacaukan setelah kau berhasil melenyapkan nyawa istrinya. Sekalipun itu kau tak akan pernah bisa mendapatkan hatinya, meskipun raganya yang bersamamu.”
Jedar
Kilatan petir tiba-tiba menyambar, seolah-olah pertanda apa yang di katakan olehnya akan menjadi kenyataan. Beriringan dengan tumbangnya sang dukun tersebut. Ya dukun itu telah menutup mata serta kehidupannya dengan meninggalkan sejuta tanda tanya di benak makhluk tak kasat mata yang menatapnya dengan sorotan kesedihan yang mendalam.
Setelah puas menembak sang dukun tersebut dengan tenang Marista Mayang pun meninggalkan jasad tersebut tanpa ada belas rasa kasih sedikit pun di dalam dirinya.
“Cih ... Kau pikir siapa? Bisa berpikir kalau tak dapat mendapatkan aku mau ha? Akan aku pastikan Raymond yang jatuh ke dalam jerat pesonaku,” ungkap Marista dengan penuh percaya diri di depan jasad dukun tersebut.
“Nyonya bagaimana dengan jasad itu?”
“Tak usah kau urus,” sahut Marista. “Karena daerah ini tak ada penghuninya, biarkan saja jasad dia di makan binatang buas yang ada di sekitar rumah ini. Kita harus segera pergi dari sini.”
Ajaknya kemudian dengan hati yang puas, karena ia bisa melenyapkan dukun tersebut.
Tanpa merasa takut, bahwa apa yang di lontarkan oleh dukun itu menjadi kenyataan di kemudian hari.
Namun tanpa ia sadari, sebuah susuk pelet yang mengikat di wajahnya terangkat secara tiba-tiba, beserta semua yang ada dalam dirinya. Yang memang di ambil semua oleh dukun tersebut, sebelum ia di lenyapkan oleh dirinya sendiri.
Salah di antara mereka pun memberikan kutukan dan sumpah yang di tunjuk untuk Marista Mayang, seorang wanita yang berhati iblis.
“Keparat kau wanita iblis,” teriaknya dengan nada amarah. “Apa yang kau lakukan pada tuanku ini, kehidupanmu tak akan pernah tenang. Sebelum kau berhadapan langsung dengan garis keturunannya, karena merekalah yang akan mendatangimu suatu saat nanti. Dan juga meski pun kau berhasil melenyapkan dan mengganti posisinya, hatinya tak akan pernah bisa kau jerat seperti suamimu sendiri.”
Kilatan petir di sertai hujan menyambar seolah-olah pertanda bahwa apa yang di ucapkan oleh salah makhluk tak kasat mata itu menjadi kenyataan.
“Apa yang harus kita lakukan pada jasad mbah?” tanya temannya yang sedang menghampiri dirinya.
Yang mana beberapa detik ia mengucapkan hal tersebut dengan lantang.
“Jangan biarkan saja, tunggu beberapa menit lagi akan ada mobil yang datang kemari,” jawabnya dengan mata yang memerah. “Apa kalian semua tak mendengar apa yang di minta oleh mbah?”
“Maaf!”
Para pasukan dukun tersebut masih tak percaya, bahwa tuan mereka harus meregang nyawa di tangan seorang wanita yang berambisius itu.
“Aku tahu kalian merasa tak terima tuan kita di lenyapkan begitu saja, akan tetapi kalian kan bisa menyadari bahwa tuan kita sudah mempersiapkan ini sebelumnya,” ucapnya dengan sendu. “Lalu apa kalian sudah mengerti apa yang di minta oleh mbah? Sebelum ia meregang nyawa?”
“Semuanya masing-masing dari kita, pastinya sudah mendapat permintaan khusus dari mbah!”
“Baiklah kalau begitu, tinggal kita menunggu kedatangan seseorang. Untuk mengurus jasadnya.”
Setelah itu rumah dukun tersebut menjadi sunyi, hanya terdengar suara burung-burung gagak yang beterbangan di malam hari.
Sementara itu dalam perjalanan setelah menerima panggilan telepon dari anak buah yang menghubunginya, pikiran Andra mulai berkecamuk.
Perasaannya memikirkan tentang ayahnya tersebut, yang mana sebenarnya sang ayah telah meregang nyawa di tangan seorang wanita.
Yang sialnya ia merupakan istri dari Kevin Morgan Adhitya.
Memukuli setir mobil, hingga membuat darahnya mengalir. Tak kala ia terjebak di kemacetan lalu lintas menuju ke arah rumah sang ayah berada.
‘Sial ... Sial ... Kenapa mesti macet segala’ umpat Andra dengan berbisik sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangannya sambil ia tak terlalu memperhatikan darah yang mengalir di tangannya itu.
Setelah kemacetan lalu lintas terurai dengan kecepatan yang tinggi ia memacu mobil yang di kendarainya, untuk bisa sampai ke rumah ayahnya tersebut.
Tak membutuhkan waktu yang lama ia sampai di rumah ayah berada, namun pandangannya mendadak kosong saat mendapati rumah ayahnya dalam keadaan sunyi.
Semakin melangkah demi langkah, hingga membuat langkahnya terhenti.
Tak kala melihat seorang tergeletak dengan luka tembak yang menembus jantung.
Mendekati jasad tersebut, memanggil namanya. Ia tak menduga bahwa sang ayah telah pergi meninggalkan dirinya, sebelum ia sempat bersapa pada ayahnya tersebut.
Untuk memaafkan semua yang pernah di lakukan oleh ayahnya, namun ia tak menyangka bahwa sang ayah meregang nyawa dengan luka tembak yang menembus jantungnya.
“Ayah siapa yang melakukan ini padamu,” gumam Andra dengan berteriak kencang di hadapan jasad sang ayah tercinta.
Tak ada yang menduga bahwa apa yang terjadi pada dukun tersebut, menjadi kenyataan sesuai apa yang telah di gariskan untuk dukun tersebut.
Dengan berderai air mata, ia pun terus menangis di depan jasad sang ayah yang telah terbujur kaku. Yang hanya di temani oleh beberapa pasukan dari dukun tersebut.
“Jadi yang kau maksud tadi ini?” ucap makhluk tak kasat mata yang sedang putra mbah dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Benar!” sahut yang sembari menjawab pertanyaan dari rekan di sampingnya.
Semua pasukan dari dukun tersebut semakin tak percaya, bahwa tuan mereka harus meregang nyawa di hadapan mereka secara langsung.
Pasukan dukun tersebut harus segera menyampaikan permintaan dan pesan ....