
“Ndra, aku sangat tak begitu yakin jika si kembar mau hidup bersama dengan keluarga kandungannya, mengingat mereka bertiga sudah biasa hidup sangat sederhana. Bahkan aku sangat yakin kalau mereka bertiga akan menolak untuk tinggal bersama keluarga kandungannya,” ucap Kevin dengan penuh keyakinan.
Seakan mengerti Andra pun tak perlu terlalu mencampuri urusan yang bukan menjadi urusannya, mengingat tugas Andra saat ini ialah meminta penjelasan dari putranya tersebut.
“Apa ada hal lagi yang ingin kau tanyakan Vin?”
“Tak ada, aku sudah tak membutuhkan apa-apa.” Sambungan telepon pun terputus dengan Kevin yang memutuskannya.
Tanpa sadar mobil yang di kendarai oleh Kevin sendiri telah tiba di tempat tujuannya. Ya tentu saja Kevin terpaksa membawa putrinya ke tempat yang tak ada orang lain pun yang mengetahuinya.
“Sayang, kamu mau kan menemani Papa makan di sini?” tanya Kevin dengan lembut. “Sebelum Papa menceritakan suatu sebuah rahasia, akan tetapi apa kamu bisa berjanji untuk tetap mendengar penjelasan semua yang akan Papa katakan?”
“Memangnya apa yang akan Papa ceritakan padaku mengenai rahasia itu?” tanya Ivone dengan bingung.
Dengan mengacak-ngacak pucuk kepala Ivone, Kevin pun justru tak menjawab pertanyaan dari putrinya sampai membuat putrinya merasa kesal dengan Papanya itu.
Setelah mereka menemukan tempat duduk yang pas, di sinilah Kevin pun dengan mantap akan menceritakan mengapa sejak lahir putrinya tersebut tak pernah di harapkan kehadirannya.
Sejujurnya Ivone tak begitu senang jika Papanya selalu membahas perihal Mamanya, akan tetapi ia sungguh tak tega melihat raut wajah kesedihan yang melanda Papanya tersebut.
“Papa dulu mulai menyukai Mamamu sejak pertama kali melihat wajahnya di pesta milik rekan Papa, dan kamu pasti bisa menebak siapa yang menjadi pengantin saat itu adalah orang tua dari Leonard sahabatmu sendiri!” ucap Kevin sembari menerawang ke arah masa lalunya yang sangat kelam. “Bahkan Papamu sangat tak mengetahui bahwa saat itu Papa terpikat pesona kecantikan dari Mamamu.”
Sembari melipat tangan di dada dengan raut wajah yang sangat datar itu, Ivone tetap memilih mendengarkan sebuah rahasia yang selama ini tak pernah ia ketahui.
“Lanjutkan aku akan mendengarkan semua yang Papa katakan padaku!”
“Lalu saat itu Papa mulai menaruh perasaan terhadap Mamamu, bahkan sahabat Papa sendiri yang saat itu selalu menjadi asisten pribadi berulang kali mengingatkan diri Papa untuk tak terlalu tertarik dengan Mamamu. Akan tetapi Papa tak mendengarkan semua peringatan darinya ...” ucap Kevin dengan sengaja menjeda obrolannya sebelum makanan yang di pesan olehnya datang. “Sayang, Papa boleh tidak mengisi perut terlebih dahulu? Habis Papa sangat lapar dan sangat butuh energi untuk bisa melanjutkan cerita tadi.”
Menghembuskan napas gusar Ivone pun mengizinkan Papanya untuk makan terlebih dahulu sebelum ia mendengarkan sebuah kepingin puzzle tentang seseorang yang tak menginginkan kehadirannya di dunia ini.
Seharusnya kau tak perlu menceritakan semua hal tentangnya Pa. Aku begitu sangat membencinya, dia tak lebih pantas di sebut sebagai ibu yang melahirkanku. Bahkan hatiku kini telah mati, namanya pelan-pelan terhapus dari lubuk hatiku setelah semua luka yang telah dia torehkan padaku dan juga padamu Pa. Jerit batin hati Ivone yang benar-benar kecewa dengan semua sikap yang di tuju oleh Mama kandungnya tersebut.
Bahkan hatinya kini pun mulai tumbuh kebenciannya yang mendalam, meskipun tak pernah ia tunjukkan pada Papanya tercinta, mengingat sejak kecil Papanya sendiri selalu belajar memaafkan meskipun baginya sulit.