
Saat berada di sekitar ruangan Raymond suaminya, ia pun di sambut oleh sekretaris suaminya yang lain saat akan masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Selamat pagi Nyonya,” sapa sekretaris Raymond pada dirinya.
“Apa suamiku sudah datang?” tanya Marista to the poin.
“Belum Nyonya. Bahkan saya ingin mengantarkan berkas yang perlu di tanda tangani beliau,” jawabnya dengan lembut tanpa merasa takut dengan istri bosnya tersebut.
Dengan kasar Marista Mayang merebut berkas yang di bawa oleh sekretaris tersebut, untuk melihat sejauh mana perusahaan milik Raymond berdiri, tetapi ia tak menemukan sedikit apapun di dalam berkas yang akan di tanda tangani oleh Raymond suaminya sendiri.
“Berkas ini biar aku yang bawa ke dalam ruangan suamiku, kau tak perlu masuk ke dalamnya, nanti jika sudah selesai suamiku pasti akan memanggilmu kembali!” kata Marista sambil melenggang masuk ke dalam ruangan Raymond dengan membawa berkas-berkas yang akan di tanda tangani olehnya.
Marista Mayang pun tak menyadari percakapannya dengan sekretaris Raymond, terdengar langsung oleh Sean yang tengah menyetir mobil sambil menggeram kesal dengan tingkah laku dari istri kedua sahabatnya tersebut.
Semoga saja wanita tak menyentuh barang milik Siska, kalau sampai itu terjadi tamatlah riwayatku. Mengapa suamimu ini bisa menjadi seperti ini Sis? Semenjak kau meninggalkannya dia telah banyak berubah, begitupun juga dengan putra sulungmu itu. Dan maaf aku tak bisa melindunginya dari kejaran obsesi di dalam diri wanita itu.
Kembali lagi pada Marista Mayang telah berhasil masuk ke dalam ruangan milik suaminya, seketika hatinya mencelos saat suaminya tersebut masih mengingat mendiang istri pertamanya, dengan menggeram kesal dan amarah, tanpa sengaja ia membanting sebuah figura yang berisi sebuah foto dengan mendiang Siska dan putranya tercinta menjadi pecah berantakan.
Bahkan tanpa sengaja ia menyentuh dan merobek serta tak sengaja ia merusak sebagian barang berharga milik mendiang istri pertama Raymond, sehingga ia tak menyadari di dalam perjalanan Raymond tengah menahan amarah yang memuncak.
“Jalankan mobilnya dengan cepat Se. Aku tak mau dia terlalu dalam merusak barang-barang milik istriku tercinta,” titah Raymond dingin nan tegas.
Seakan mengerti dengan permintaan dari Raymond, seketika itu mobil yang di kendarai oleh Sean melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa memedulikan keadaan sekitar.
Di dalam ruangan kantor milik Raymond, dengan Marista yang tengah membakar barang-barang tersebut sambil netra matanya berkeliling mencari sebuah kunci kamar yang ada di ruangan pribadi Raymond.
Karena sejak dulu ia selalu penasaran dengan isi dari kamar pribadi Raymond, tanpa pernah ia tahu bahwa kamar tersebut hanya bisa terbuka dengan menggunakan sidik jari yang ada di dalam diri Raymond sendiri.
Tak berhasil membuka kamar pribadi milik Raymond dengan kesal Marista hanya bisa mengumpat, sambil tangan mengepal ia terus menggila dengan melemparkan beberapa berkas ke arah sembarang arah, tanpa sadar ada sebagian yang masuk ke dalam tong sampah yang tanpa sengaja terbakar tersebut.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai oleh Sean telah tiba di pelataran lobi, dengan sigap ke dua satpam yang menjaga membuka pintu mobil, dan berusaha membantu Tuannya untuk duduk di atas kursi roda tersebut.
“Kau ke atas dulu Ray. Aku akan memarkir mobil terlebih dahulu,” ucap Sean yang tak diidahkan oleh Raymond sendiri.
Dengan di bantu oleh ke dua satpam yang bertugas, merekapun mengantarkan Tuannya ke arah lift, agar Tuan mereka sampai ke dalam lift tanpa ada bantahan dari perintah dari Sean sang sekretaris.