
Sebelum Kevin melanjutkan ceritanya kita masuk ke masa lalu putrinya yang begitu sangat membenci Mamanya
Mengapa begitu?
Jawabannya ada di sini!
.
.
.
.
.
Namun sebelum Papanya melanjutkan cerita itu kembali, Ivone pun tengah melamunkan pertemuan pertama Mamanya dulu pada saat ia duduk di bangku SMA.
Flashback on
Ivone Morgan Adhitya POV
Pada suatu itu aku yang saat itu memakai seragam putih abu-abu tersebut, tengah menunggu kedatangan seseorang yang selama ini selalu membuatnya bertahan untuk menjalani suatu kehidupan yang penuh dengan cobaan.
Aku adalah Ivone Morgan Adhitya seorang putri tunggal dari pebisnis yang terkenal dingin Kevin Morgan Adhitya, di saat teman sebayanya selalu di antar jemput oleh kedua orang tuanya.
Hanya aku saja yang selalu di jemput oleh seorang yang berharga sepanjang napasku berdetak.
‘Papa ke mana sih? Kenapa tiap kali ke sini selalu saja telat.’ Omelku dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.
Karena sejak dari tadi aku sedang menunggu kedatangan sang Papa tercinta, akan tetapi Papaku sama sekali menampakkan diri di gerba sekolah tempat aku menimba ilmu.
Namun netra manik mataku menangkap ke arah sebuah mobil yang begitu saja melintasiku, sehingga secara tak sengaja aku terus memandang mobil tersebut.
Sampai akhirnya turunlah sepasang jenjang kaki putih yang mulus itu, akan tetapi saat aku menatap ke arah mobil itu sorot pandangan mataku mendadak menjadi sendu.
Tanpa sadar air mataku menetes dengan sendiri, begitu terluka hatiku saat ia mengetahui bahwa seseorang yang melahirkannya ke dunia ini, bukanlah mendatangiku akan tetapi datang untuk sebagai orang tua dari sahabatnya Leonard.
Karena di dorong rasa penasaran yang sangat tinggi, tanpa sengaja aku mengikuti secara diam-diam sampai saat di lorong tempat yang sepi, aku berlari kencang dan menubruknya dari belakang dan memeluknya tanpa pernah ingin melepaskan tanganku begitu saja.
“Lepaskan tanganmu itu,” sentak orang itu yang tak lain tak bukan Marista Mayang dengan nada tinggi.
“Mama,” panggilku dengan suara yang sangat serak.
Sementara itu seseorang yang di panggil Mama olehku itu menggeretakkan giginya dengan kesal, bahkan ia benar-benar sangat emosi dan marah saat aku memanggil dengan sebutan mama.
Dengan kasar ia yang aku sebut Mama menghempaskan tanganku, saat berbalik arah menatap diriku dengan amarahnya yang memuncak ia menampar pipiku dengan keras.
Plak ...
Tamparan yang aku terima itupun meninggalkan bekas luka di sudut bibirku sedikit mengeluarkan darah segar.
“Sudah aku katakan berkali-kali padamu, untuk tak menunjukkan barang hidungmu di depanku! Kenapa kau masih mengeyel juga dan juga aku bukanlah Mamamu,” hardik Marista dengan menggeretak gigi. “Bahkan aku tak sudi melahirkanmu ke dunia ini adalah kesalahan terbesarku, kau itu hanyalah anak pembawa sial. Aku pun sangat menyesal menikah dengannya, jadi jangan sekali-kali kau menampakkan diri di depanku. Karena aku sangat muak melihat wajahmu itu, cuih!”
Aku yang mendengar semua itupun terkejut bukan main dengan perkataan yang terlontar darinya, bahkan tanpa sengaja ia yang tak pantas di sebut seorang ibu meludah ke arah sepatuku, sehingga aku hanya bisa menahan luka hati yang begitu sangat dalam.
Sampai akhirnya ia secara tak sengaja mengambil sebuah pisau kecil yang entah ada di mana ia mendapatkannya.
“Hei kau anak pembawa sial dengarkan ini baik-baik dan camkan ini,” ungkap Marista sembari mengiris pelan jari telunjuknya, sehingga membuat darahnya menetes ke lantai. “Aku memutus darah ikatan denganmu, mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah kau memanggilku dengan sebutan Mama. Karena aku sekarang bukan Mamamu lagi, kau harus paham batasanmu ketika bertemu denganku seperti sekarang ini. Apa kau paham anak pembawa sial?”
Bagai petir di sambar siang bolong aku yang mendengar hal tersebut sangat terkejut bukan main, entah mengapa orang yang telah melahirkanku ke dunia ini benar-benar seorang yang tak pantas menyandang gelar sebagai seorang ibu.
Yang sangat tega memutuskan ikatan darah kental yang seharusnya tak bisa terpisahkan itu, akan tetapi aku hanya diam saja tanpa banyak kata aku berbalik arah meninggalkannya yang tengah mengelap darahnya yang tercecer tersebut.
Aku pun berlari sekencang-kencangnya untuk mencari tempat yang sangat sepi, agar aku bisa meluapkan dan melampiaskan rasa luka hati ini terlalu menyakitkan.
Ivone Morgan Adhitya end POV.