Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Dimanakah Kalian Berada?


Ia pun mulai membuka mata sedikit demi sedikit, tak kala pendengarannya menangkap panggilan dari Alexa.


“Alex,” panggil Alexa. “Apa kamu bisa mendengarkan suaraku?” tanyanya dengan risau.


“Sudahlah Sa, kamu jangan terlalu berisik. Teriakanmu itu bisa mengganggu yang lain,” tegur Ara dingin. “Tak perlu risaukan kondisi Alex, sebentar lagi ia akan kembali,” sahut Ara acuh.


Tak lama kemudian sesuai tebakan Ara. Alex pun membuka mata setelah ia berhasil kembali dari jiwanya yang telah ia lepas guna masuk ke dalam dimensi milik arwah penasaran yang bernama Minerva.


“Bagaimana Alex apa kamu tahu alasan arwah itu mengikutinya?” tanya Albert yang saat itu tiba-tiba ikut menimbrung.


Alex pun hanya berdiam membisu saat di tanyai oleh Albert. Bukan karena tak ingin berbicara, hanya saja saat ini ia masih sedikit merasakan kesedihan yang di alami oleh arwah Minerva itu.


“Alex,” panggil Araxi datar. “Biar aku dengan Albert yang mengurusnya, sementara waktu pulihkan terlebih dahulu tenagamu. Karena energi di tubuhmu sekarang benar-benar terkuras habis, apa kamu tak keberatan?” tanya Araxi serius.


“Tapi ...” sebelum ia melanjutkan perkataan yang akan ia lontarkan itu di sela oleh Araxi sendiri.


“Sudahlah Alex menurut saja denganku,” gerutu Ara dingin. “Kalau kamu masih nekat ikut, jangan harap bisa bertemu denganku kembali.” Memberi perintah dengan sedikit ancaman yang di tuju untuk Alex. Agar adik kembar bungsunya itu bisa memulihkan sedikit kondisi energinya yang terkuras habis tersebut.


“Oh iya sebelumnya itu, dia hanya meminta untuk menguburkan tubuhnya yang menjadi patung manekin itu dengan layak bukan?” lanjut Ara dengan bertanya. “Dan juga arwah itu hanya ingin mendapatkan keadilan atas kematiannya itu aku benar tidak!”


“Kamu tanpa di beritahu pun sudah bisa menebak dengan sendiri bagaimana sih Ra,” jawab Alex acuh.


Tawa Ara sebagai sulung kembar itu pecah seketika tak kala mendengar nada bicara Alex acuh namun cemberut, dan sebagai yang tertua di antara mereka baik Ara maupun Alexa sama-sama bisa memahami dan saling melengkapi kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri tiga kembar indigo itu.


‘Tertawalah seperti itu Ra. Hilangkan semuanya yang selalu menjadi beban berat di pundakmu’ batin Albert sembari menatap dingin ke arah Ara yang tengah tertawa puas itu.


Sudut bibir Ara berkedut tak kala mendengar isi batin dari Albert.


Sebagai seseorang yang di anugerahi kelebihan dari mendiang sang mama, ia merasa sangat bahagia.


Karena ia dengan dua saudara kembarnya itu pun bisa mendengar orang berbatin itu dengan baik, bahkan saat akan berbuat buruk itu pun ia bisa mendengarkan itu semua.


“Ara, Alex!” panggil Alexa pada dua saudara kembarnya. “Lalu bagaimana dengan kelas pertama kita? Apakah kalian tak ingin kita di keluarkan gara-gara mencari masalah dengan pemilik sekolah ini?” tanya Alexa.


Nada khawatir di dalam Alexa membuat dua orang menatap acuh nan dingin itu pun hanya bisa menghela napas panjang menghadapi sikap polos, manja Alexa yang sering membuat dua orang itu mengumpati kelakuan yang sering di lakukan olehnya.


“Lebih baik kita membolos terlebih dahulu,” ajak Araxi pada dua saudara kembarnya.


“Membolos!” beo Alexa. Namun sedetik kemudian ia pun terkejut saat merangkai kata ajakkan dari saudari kembarnya itu. “Ra, Apa kamu sengaja mengajakku dengan Alex untuk membolos? Lalu bagaimana dengan pelajaran pertama kali kita?” sahut Alexa kaget seraya bertanya.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Alexa, justru Ara pun meminta permintaan untuk proses pemulihan energi dari Alex. “Aku minta padamu untuk memulihkan sedikit kondisi energi Alex yang terkuras habis itu dengan meminta bantuan Angel. Apa kamu mau Sa?” pinta Araxi to the point.


Menghela napas panjang Alexa pun menimbang kembali keputusan ajak Ara untuk membolos di hari pertamanya mereka bersekolah, bukan tak ingin menuruti permintaan saudari kembarnya itu.


Karena ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya, ia sendiri pun tak tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya.


Hal tersebut tak luput dari dua saudara kembarnya itu pun merasakan hal yang sama dengannya.


Namun tanpa banyak bicara Ara pun beranjak meninggalkan dua saudara kembarnya tersebut dengan ekspresi wajahnya yang maskulin dengan dingin nan datar itu, membuat dua kembar saudaranya tertinggal beberapa jarak darinya.


“Tunggu kamu mau ke mana Ra?” tanya Alexa sembari mencekal pergelangan tangan saudara kembarnya itu.


“Kenapa kau suka sekali menjahili dua saudara kembarmu itu Ra?” tanya Albert dingin.


Ara pun menghentikan langkahnya, sorotan mata datarnya nan dingin itu pun menatap Albert yang sedang berbicara dengannya.


Entah mengapa akhir-akhir ini Albert lebih banyak berbicara dengannya, di bandingkan dengan dua saudara kembarnya.


Justru Albert selalu lebih terbuka hanya dengan dirinya saja.


Seperti biasa tanpa menoleh ke arah Albert, dengan kepribadiannya yang dingin itu. Ara pun kembali melangkahkan jenjang kakinya dengan gaya ciri khasnya yang di juluki gadis tomboi berparas tampan itu.


‘Semakin kau mendingin, semakin itulah aku jatuh hati padamu Ra. Kau yang telah membuatku merasa menjadi bukan diriku yang sekarang, walaupun kau begitu dingin di luar. Akan tetapi aku sangat yakin bahwa hatimu begitu lembut, seperti mendiang mamamu Siska. Dapatkah aku mengungkapkan perasaan ini untukmu Ra?’ gumam Albert berbisik lirih.


Masih dengan raut wajah datar nan dingin milik Ara tengah berjalan menghampiri gerbang gedung sekolah yang di jaga ketat oleh dua orang penjaga gerbang tersebut.


“Ya ada apa?” tanya salah satu penjaga gerbang itu.


“Tolong bukakan gerbang ini,” jawab Ara datar dengan meminta.


“Loh kau ingin membolos ya?” ucap rekan penjaga lain. Yang tengah memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki.


Tanpa mendengar peringatan dari dua penjaga tersebut kembar tiga itu pun, akhirnya bisa lolos dari dua penjaga yang di tugaskan untuk menjaga pintu gerbang gedung sekolah.


Sementara itu di sebuah kantor perusahaan milik Raymond Wesley Wiratmaja kini ia menyerahkan jabatan yang dulu di duduki olehnya ke tangan putra sulungnya, yang mana sang putranya tercinta telah menjadi pribadi yang lebih dingin pada semua orang.


Akibat kecelakaan yang di alaminya dengan mendiang istrinya tercinta, karena sang putra sulungnya itu sangat tak menyukai istri ke dua yang tak lain orang yang berambisinya untuk mendapatkan apa yang ia mau.


Termasuk dirinya kala itu, yang kini harus menerima akibat dari kesalahannya, yang mana hingga sekarang ia merasa sangat bersalah dengan mendiang istrinya tercinta. Tak kala saat itu ia benar-benar tak bisa menyelamatkan istrinya tercinta.


“Leo,” memanggil sang putra tercinta untuk menemui dirinya di ruangan pribadi yang penuh dengan kenangan dari mendiang istrinya tercinta. “Gantikan papa di perusahaan milik Marco rekan papa ya Boy!”


“Kenapa tidak papa sendiri saja yang ke sana? Lagi pula aku ini sedang sibuk,” ucap Leonard acuh.


“Kamu ini yang sopan sedikit sama papamu,” gerutu Raymond. “Apa kamu sudah memantau kegiatan mereka?” tanya Raymond.


“Menurut laporan mata-mata yang aku kirimkan, Prisilia berulah kembali. Sepertinya dia tak tahu menahu aturan tata krama sopan santunnya tak ada sama sekali di dalam dirinya,” jawab Leonard dingin.


“Maksud kamu apa Boy?”


“Dia kan anak kamu Pa? Kenapa tidak Papa ajarkan cara bersikap yang benar!” sahut Leonard ketus.


Raymond pun mendengus, selalu seperti ini ketika mengobrol dengan putra sulungnya tercinta. “Enak saja kamu bilang, sampai kapan pun dia bukan darah dagingku. Kamu tahu bukan adik kamu itu kembar tiga, bukan anak itu seorang, bahkan Papamu ini tak pernah merasa mempunyai anak seperti dirinya.”


Ujar Raymond dengan menegaskan, bahwa selama ini ia sendiri begitu sangat yakin tiga kembar bayi yang dulu di lahirkan oleh mendiang istrinya tercinta masih hidup, dan hilang di telan bumi saat seseorang berhasil menculiknya.


Menghela napas panjang baik Leonard maupun sang papa tercinta, mereka pun begitu sangat yakin. Bahwa tiga kembar berlian milik mereka itu pastinya masih hidup, sejak di gagalnya pembunuhan yang di rencanakan oleh ibu tiri terhadap tiga kembar tersebut.


“Aku sudah berusaha mengerahkan semua orang-orangku, untuk mencari keberadaan mereka. Akan tetapi sepertinya ada yang melindunginya, saat aku mendapat laporan dari orang-orangku,” lapor Leonard pada sang papa tercinta.


Awan mendung itu pun menghiasi wajah tampan miliknya telah memasuki usia setengah abad hanya beberapa tahun kemudian, ia akan menginjak usia di atas 50 tahun.