
‘Hai kau, aku minta maaf telah membuatmu merasa tak nyaman. Karena aku hanya sedang berusaha melindungi diri dari kejahatan tangan mereka, marahlah pada mereka yang selalu meresahkan masyarakat.’ Batin Ara bertelepati pada makhluk tak kasat mata atau yang biasa di sebut makhluk astral tersebut.
Namun tanpa Ara duga ada suatu kejadian yang membuat para perampok tersebut berlari ketakutan saat mendengar suara tawa mengerikan yang berasal dari sesosok makhluk tak kasat mata atau biasa di sebut makhluk astral itu berlangsung lama.
Hingga kemudian Ara pun membuka obrolan dengan meminta maaf atas kejadian yang mengganggu sesosok tersebut.
“Baiklah aku minta maaf atas kejadian tadi, yang tengah mengganggumu.”
“Apa kau tidak takut denganku?” tanyanya pada Araxi yang akan beranjak dari posisinya berdiri.
“Tidak!” jawab Ara singkat padat.
“Kau itu dingin sekali.” Gumam makhluk astral itu, yang terdengar langsung oleh Araxi.
Tak lama kemudian Araxi pun beranjak dari tempat tersebut untuk segera pulang ke rumah yang tengah di tunggu oleh dua saudara kembarnya tengah mempersiapkan bahan omelan yang selalu saja kalah telak dengan dirinya.
Kembali lagi di sebuah kamar ruangan kantor milik Kevin itu, terdapat seorang gadis cantik yang tengah mengendap-endap guna bisa tidur di samping sang papa tercinta.
Seseorang yang sangat ia cintai dan sayangi sepenuh hati, meskipun ia kekurangan kasih sayang dari mamanya yang telah membuatnya terlahir ke dunia. Ia sama sekali tak menyesali atas takdir yang menimpa dirinya.
Hidupnya berwarna sejak sang papa mengenalkannya ketiga bayi kembar cantik, tampan lucu nan menggemaskan itu membuat dunianya ceria kembali.
Melihat papanya tertidur dengan pulas, ia pun menghampiri serta tak lupa melesak ke dalam dekapan, membaui aroma tubuh papanya yang membuatnya selalu merasa nyaman.
Seketika itu membuat tidur Kevin sedikit terusik dengan kehadiran dirinya yang begitu erat mendekap tubuh kekar miliknya di usianya yang memasuki setengah abad.
“Sayang ada apa?” tanya Kevin dengan suara serak khas bangun orang tidur.
“Jadi dari tadi Papa pura-pura tidur.” Dengan bibir mengerucut kesal itu membuat Kevin gemas dengan kelakuan putrinya tercinta.
“Astaga sayang siapa juga yang pura-pura tidur, papa tadi capek sayang. Ya sudah lebih baik tidur saja, toh pekerjaan Papamu ini sudah ada Ommu yang menanganinya,” ujar Kevin. “Jadi putriku sayang ini ada apa hem?”
“Kapan Papa mengajakku lagi untuk bertemu si kembar?” tanya Ivone. “Aku kangen sama Alexa, Pa.”
“Bagaimana kalau pas Papa libur kerja, di sana kamu bisa bermain dengan Alexa sepuasnya,” tawar Kevin. “Kenapa Alexa yang di kangeni? Kok bukan ketiganya semua kan sama saja.”
“Duh, Papa ini bagaimana sih. Aku lebih suka Alexa, karena dia lebih ceria dan suka bicara. Daripada dua orang es balok bernyawa itu.” Gerutu Ivone sambil menegaskan, bahwa dirinya lebih menyukai Alexa di bandingkan ke dua saudara kembarnya yang ia juluki es balok bernyawa itu.
“Oh iya Pa, apa aku boleh tanya suatu hal?” tanya Ivone dengan raut wajah yang terlihat serius.
“Mau tanya apa putri Papa yang cantik ini hm?” jawab Kevin sambil bertanya balik.
“Apa Papa pernah bertemu Mama kembali?” Sembari menahan tangis Ivone sendiri pun berusaha untuk tegar saat bertanya pada Papa tentang Mama yang tidak pernah menginginkan kehadirannya sejak ia bayi hingga sekarang.
Deg---
Seketika dunia Kevin runtuh. Setelah sekian lama akhirnya putrinya tercinta itu pun menanyakan kembali tentang kabar seorang wanita yang pernah mengisi hatinya itu, akan tetapi ia yang sekarang telah mati seperti hatinya yang terbawa mati. Saat wanita tersebut lebih mengejar-ngejar sesuatu yang seharusnya tidak boleh di lakukan, karena orang yang di kejar oleh wanita itu. Telah mempunyai seseorang yang sangat ia cintai tanpa syarat.
Bahkan kabar tidak terduga harus Kevin telan dengan rasa kecewa, marah, hancur. Saat wanita itu menikah seorang pria, yang sialnya pria tersebut pernah di buah celaka oleh wanita itu yang berambisi besar Marista Mayang.
Kembali pada Ivone yang tengah menunggu jawaban dari sang papa, merasa sedikit heran mengapa papanya itu tidak menjawab pertanyaan yang terlontar darinya.
“Pa,” suara cempreng nan manja itu pun membuyarkan lamunan Kevin. “Mengapa diam begini Pa? Ayo jawab pertanyaanku tadi? A—aku sangat merindukan Mama,” desak Ivone dengan mata yang berkaca-kaca.
Kevin pun di buat tercengang dengan perkataan yang terlontar dari putrinya tercinta, tanpa babibu ia menarik tubuh putrinya.
Mendekapnya dengan erat tanpa sadar air matanya mengalir dengan sendiri, sungguh takdir yang sangat kejam harus di alami oleh putrinya tersebut.
Mengingat sejak di lahirkan oleh wanita tersebut, Ivone tidak pernah sedikit pun mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu yang seharusnya mencintainya tanpa syarat.
“Sayang kalau boleh tahu jawab pertanyaan Papamu ini dengan jujur bisa?” tanya Kevin dengan berhati-hati. Agar ia tidak melukai hati putrinya itu, saat ia menanyakan tentang sesosok seorang yang selama ini di rindukan oleh Ivone. “Apa kamu benar-benar merindukan Mamamu? Bukankah selama ini kamu lebih terbiasa dengan Papa! Lalu apa yang membuatmu merindukannya?”
“Aku beberapa kali ini sering bertemu Mama, hanya saja sering kali aku melihatnya tidak sendirian. Ada seseorang yang selalu menemani Mama, ketika aku tidak sengaja bertemu dan melihat Mama dari kejauhan.” Kata Ivone dengan bercucuran air mata.
Karena sejatinya hingga sekarang ini, Ivone selalu bertanya-tanya mengapa sang mama tercinta. Tidak pernah sedikit pun mengunjungi, bahkan melihat keadaannya pun sepertinya enggan. Seakan-akan ia telah menemukan atas jawaban yang selama ini mengganggu di dalam benaknya.
Jangan di tanya kembali ekspresi Kevin setelah mendengar nada kerinduan yang tertuangkan dalam unek-unek putrinya itu, membuat dirinya semakin geram dengan kelakuan mantan istrinya.
‘Sialan kau wanita iblis, kau benar-benar tidak pantas mendapatkan julukan seorang ibu. Bahkan putrimu ini telah menyimpan luka hati yang kau torehkan, bisa-bisanya kau merasa bahagia atas penderitaannya.’ Gumam Kevin berbisik lirih sembari mendekap putrinya dengan erat, untuk memberinya kekuatan.
Agar putrinya selalu bisa menjalani takdir yang kejam terhadap dirinya itu.
Menghela napas berat dengan penuh kesabaran Kevin pun memberinya waktu.
Untuk bisa mencurahkan segala isi hati yang selama ini di pendam sendiri oleh Ivone. “Sayang, ceritakanlah semuanya pada Papa. Jangan selalu memendamnya sendiri, ada Papa yang selalu ada untukmu. Jadi keluarkan semua yang ada di hatimu.”