Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Theo Yang Kecewa Dengan Andra Sang Ayah Tercinta


Kening Andra mengerut mendengar perkataan dari istrinya tercinta, yang mana hal tersebut membuat dirinya semakin penasaran.


“Lalu kalau dia ingin bicarakan hal penting denganku, ke mana dia sekarang?” ucap Andra sembari bertanya pada istrinya tercinta.


“Dia sedang ada di ruang kerja, kamu tidak membersihkan diri terlebih dahulu?”


Tanpa mengidahkan perkataan istrinya, Andra pun bergerak cepat menuju tempat ruang kerja milik Andra.


Begitu pintu terbuka, masuklah dirinya ke dalam ruangan tersebut dengan seorang putranya tercinta. Yang mana putranya tersebut tengah melakukan pemeriksaan terhadap berkas-berkas yang tugaskan oleh sahabatnya itu.


“Ada perlu apa dengan Ayahmu ini Yo? Apa yang ingin kamu bicarakan?,” tanya Andra to the poin.


Melihat kedatangan Ayahnya itu, membuat Theo mendengus kesal. Saat sang Ayah mempertanyakan maksud dari tujuannya itu.


“Aku ingin Ayah bicara dengan jawaban jujur darimu Ayah. Apa bisa?” Theo pun mengutarakan penasarannya, terhadap gadis tomboi tersebut sejak pertama kali melihatnya.


Kening Andra mengerut saat mendengar nada suara yang tak biasa dari putranya tersebut. “Katakan apa yang ingin kamu tanyakan pada Ayahmu ini Yo!”


“Apa yang telah Ayah sembunyikan dariku?” tanya Theo.


“Bicara yang jelas Yo. Ayah tak mengerti dengan arah pembicaraanmu itu,” jawab Andra yang memang tak mengerti dengan arah pembicaraan dari putranya itu.


Akan tetapi secara garis besar apa yang di katakan oleh putranya tersebut memanglah benar, kini Andra pun semakin gusar apakah dirinya harus mengatakan semua rahasia yang selama ini tertutup rapat.


Bahkan istrinya sendiri pun tak pernah menyinggung, tentang kejadian yang lalu.


Di mana dirinya dengan sang istrilah yang menolong sepasang suami istri, yang mengalami kecelakaan.


Hingga membuat salah satu dari orang tersebut meregang nyawa.


“Ayah pagi tadi saat aku dengan Leonard berada di kantor milik Tuan Marco. Di sana secara tak sengaja aku bertemu seorang gadis, tapi yang aku herankan. Mengapa penampilannya seperti seorang lelaki Ayah, apa ayah tahu tatapan mata gadis itu seperti tatapan dingin Leonard.”


Deg–


Seketika itu mendadak lidah Andra menjadi keluh, setelah mendengar semua perkataan yang di lontarkan oleh putranya tersebut.


Memanglah benar adanya, bahwa dirinya telah menyembunyikan sebuah rahasia yang selama ini tertutup secara rapi.


“Kamu Yo bagaimana bisa mengangsumikan, bahwa tatapan dingin gadis yang tak sengaja bertemu denganmu seperti tatapan sahabatmu itu,” sahut Andra berkilah.


Theo pun memicingkan matanya ke arah sang Ayah, yang tengah tetap tak mau membicarakan hal sesuatu yang sedang di sembunyikan olehnya itu.


‘Mengapa Ayah enggak mau jawab jujur dengan pertanyaan dariku?’ batin Theo bertanya.


Hingga kemudian dengan terpaksa Theo pun menatap sang ayah dengan sorot mata yang datar.


Dirinya sungguh tak menyangka ayahnya tersebut menyembunyikan suatu hal yang ia ketahui.


“Ayah,” panggil Theo dengan raut wajah datar. “Kalau Ayah tetap tak mau memberiku sebuah rahasia yang sedang Ayah sembunyikan. Maka jangan harap Ayah bisa melihatku kembali, karena hari ini aku sangat dibuat kecewa dengan dirimu Yah.”


*******


Kembali lagi ke arah Juragan Dendi yang saat ini tengah sedikit gelisah. Ya gelisah bagaimana pun caranya dirinya harus bisa meningkat Sumarni menjadi istri ketiganya.


“Arrgghh ... Sialan,” umpatnya lirih. “Bagaimana caranya aku menikahi gadis itu? Aku tidak yakin hidupnya akan merasa aman dari istri-istriku yang lain.”


Sembari mengacak-ngacak rambutnya dirinya sendiri itu pun di ambang bimbang. Mengingat sebagai seorang suami, ia tak pernah menuntut apa pun dari istri-istrinya yang lain.


Akan tetapi ada suatu hal yang membuat dirinya terjerat pesona dari gadis belia tersebut.


Gerak-geriknya itu pun tidak luput dari pengawasan sepasang mata yang tengah menyetir mobil tersebut.


Ya selama dalam perjalanan menuju ke arah rumahnya Juragan Dendi tidak henti-hentinya mengumpat kegagalannya mengikat gadis belia tersebut.


Hingga kemudian si botak tersebut melihat Tuannya tengah menghela napas berat, sembari memberinya perintah untuk mendatangi tempat tinggal gadis belia tersebut.


“Botak besok kau ikut aku ke rumah gadis itu.” Perintah Juragan Dendi tegas tanpa ada bantahan.


“Baik Tuan akan saya laksanakan.”


Lalu selang beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi Juragan tersebut tibalah dihalaman parkir, yang mana dari beberapa jarak terdapat dua orang wanita yang telah menunggu kepulangan dirinya.


Kembali lagi pada mereka yang tengah mengobrol itu mengulum senyum, saat keduanya secara tidak sengaja mendengar suara seru mobil yang memasuki halaman parkir mereka.


Dengan semangat yang membara istri muda Juragan tersebut mengajak istri tetua untuk menyambut kepulangan suami mereka.


“Kak, lihatlah suami kita datang. Ayo kita sambut kepulangannya,” ajak istri muda itu.


Sembari menarik lengan istri tetua dari Juragan Dendi itu, yang mana membuat istri tetua tersenyum tipis.


Saat melihat kelakuan dari istri muda suaminya tersebut, secara garis besar dirinya sendiri telah menerima istri muda yang di bawa oleh suaminya dulu.


Saat dirinya secara tidak sengaja melihat peringai asli dari istri muda suaminya tersebut, dan kini menjadikan mereka sebagai wanita yang di takuti oleh penduduk yang ada di desa tersebut.


“Kau itu sangat tidak sabaran sekali,” ejek istri tetua Juragan Dendi. “Dia tak akan ke mana-mana!”


Sembari mengerucut kesal, dengan setia tetap menarik lengan istri tetua Juragan Dendi. Untuk menyambut kepulangan suami mereka.


“Kak bisa tidak kau tidak terus menjahiliku,” gerutunya kesal.


Saat akan menjawab pertanyaan dari istri muda suaminya, yang biasa dirinya panggil adik itu.


Suara bariton nan berat milik suami mereka menegur ke arah mereka, yang tengah saling mengobrol tersebut.


“Kalian berdua sedang apa,” sapa suara bariton sembari berjalan menghampiri keduanya. “Kau juga sayang kenapa pakai merokok segala, bukankah aku sudah sering melarangmu untuk tidak merokok.” Tegur Juragan Dendi pada istri tetuanya.


Merasa sang kakak di pojokkan, membuat dirinya memasang badan untuk membela saat sang kakaknya di ceramahi oleh suami mereka tersebut.


“Sudahlah Mas, jangan terlalu sering memarahi Kakak,” lerai istri muda itu. “Lagi pula Kakak melakukan itu pasti ada alasannya.”


Mendapat pembelaan dari adik sekaligus madunya itu, membuat istri tetua Juragan Dendi pun tersenyum tipis.


Sangat tak menyangka adiknya itu benar-benar memahami, apa yang selalu ia inginkan.


Sedangkan jangan di tanya lagi ekspresi Juragan Dendi pun hanya bisa menghela napas gusar, istri duanya ini jika sedang bersatu.