Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 178


“Apa kamu tak bercanda, Lex?” tanya Alexa yang begitu kaget setelah mengetahui sebuah rencana dari ibu tiri mereka.


Gelengan kepala dari Alex, menarik perhatian dua pria yang tengah mengawasi mereka.


“Apa yang sedang mereka bicarakan?” gumam Leonard lirih yang didengar langsung oleh Theo.


“Entahlah aku tak tahu. Kenapa tak kau tanyakan pada mereka.”


“Saat ini aku hanya ingin mengetahui bagaimana sifat masing-masing dari mereka bertiga. Kau tahu sendiri kan' selama ini mereka selalu ku' rindukan kehadirannya sejak dilahirkan oleh mendiang mama.” Leonard berkata demikian karena sejatinya ia hanya ingin mengenal lebih dekat dengan sifat dari masing-masing ketiga kembar adeknya ini.


“Ya sudah kalau begitu. Terserah kau saja.” Tanpa memedulikan Theo pun berjalan mendekat ke arah kedua kembar yang tengah membicarakan tentang rencana ibu tirinya.


“Kalian berdua sedang bahas apa?” tanya Theo tanpa merasa canggung.


Kedua kembaran yang tengah berbicara tersentak kaget. Saat mendapat pertanyaan dari pria yang mengikuti kakak kandungnya.


Merasa tak mendapat jawaban. Theo pun mengulang kembali pertanyaan. “Kalian ini sedang bahas apa?” Tak lupa ia menatap lekat manik mata ke arah Alexa salah satu dari adek kandung Leonard.


“Kita sedang membahas perihal sebuah ren–” Sebelum meneruskan ucapannya. Alex pun membekap mulut Alexa. Agar mereka tak terlalu memercayai perkataan dari pria tersebut.


“Kenapa membekap mulutku, Lex.” Alexa menggerutu sambil mengerucutkan bibir.


“Apa kamu tak sadar untuk membicarakan hal ini pada orang lain, hah!” bisik Alex dengan setengah membentak. “Kondisikan bibirmu ini, Sa. Tahu tidak ada seseorang yang menatapmu tanpa kedip.”


Tentunya Alex sangat mengetahui. Bahwa sedari tadi Theo memperhatikan dia dan Alexa. Bahkan ia merasa pria tersebut tengah terpesona pada kembarannya itu. Dengan terang menyindir tanpa ada beban di tiap perkataannya.


Tengkuk Theo pun mendadak menjadi merinding. Saat ia tak sengaja mendengar nada sindiran. Ditunjuk untuk dirinya.


“Sudah tak perlu dibahas lagi, Sa.” Alex menjawab dengan berkilah. Tentunya ia tak ingin Alexa mengetahui bahwa pria yang merupakan sahabat dari sang kakak kandung ini telah jatuh hati pada kembarannya.


Sebab, tanpa diberitahu pun yang ada Araxi terlebih dahulu mengetahui tentang Alexa


“Lex.” Nada suara lembut Alexa itu pun membuat Alex mengusap wajahnya dengan kasar.


“Apa kita harus membicarakan rencana ini pada mereka, Sa?” tanya Alex sambil menunjuk dua orang pria yang dimaksud oleh kembarannya.


Saat akan menolak permintaan Alexa. Seketika itu ia pun mendapat tatapan yang menajam. Mau tak mau dengan terpaksa Alex menurutinya.


Tanpa berbasa-basi Alex pun langsung mengatakan pada intinya. Tentang rencana ibu tiri mereka yang ingin membakar jenazah mendiang sang mama tercinta.


“Sebaiknya kita harus segera memindahkan makam mama.”


Leonard yang mendengarnya mengerut heran. Saat sang adek lelaki memintanya untuk memindahkan sebuah makam yang telah terkubur. “Mengapa harus di pindahkan? Apa yang sedang terjadi?”


“Maaf aku hanya bisa memberitahumu tentang rencananya yang akan membongkar, dan menculik jasad mama karena–”


“Jangan bilang kamu akan mengatakan pada Kakakmu ini tentang rencana darinya begitu, hm?” sela Leonard sambil bertanya.


Yang mendapat anggukan kepala kedua adiknya ini.


“Jadi, sebelumnya aku dan kedua kembaranku sama-sama mendapat suatu gambaran yang mengarah ke mama.” Alexa pun sedikit memberanikan diri tentang kemampuannya yang menurun dari mendiang mama tercinta.