
Seketika mata dinginnya membulat, rahasia yang ia dengar tersebut seperti tentang cerita yang berasal dari arwah Sumarni yang masih mengikutinya.
“Lalu Pak mengapa jenazah yang terkubur ditembok itu tak dikubur secara layak, agar arwah hantu tersebut tak bergentayangan lagi Pak!” Araxi pun menyahut cerita yang tengah disampaikan itu.
“Maaf Nak, Bapak sendiri pun tak mengerti mengapa jenazah tersebut dibiarkan terkubur tembok dirumah itu. Bahkan saat aku datang membayar cicilan hutangku, saat bertandang ke rumah itu membuat bulu kudukku berdiri.” Bapak tersebut kembali menjelaskan cerita tentang tulang belulang milik arwah hantu Sumarni yang masih terdiam mendengarkan semua cerita itu.
“Jadi intinya sekarang ini yang Bapak katakan tadi itu apa? Mengapa desa ini terlihat menyeramkan menurut pendapat Bapak?” tanya Alex yang masih penasaran.
“Apa kalian akan percaya dengan cerita yang akan Bapak katakan?”
Ketiga kembar indigo itupun hanya bisa terdiam, saat akan mendengar sebuah cerita yang akan dikatakan oleh pak Sholeh, berbeda dengan Ivone hanya bisa menjadi pendengar karena ia tak begitu memahami tentang dunia alam lain selama ini.
Lalu kemudian mulailah pak Sholeh bercerita kembali, tentang kejadian yang mengganjal di desa tersebut.
Penyebabnya ialah arwah hantu Sumarni, ia semenjak kematian Sumarni.
Juragan Dendi suaminya itu tak menerima dan mengikhlaskan kematiannya, itulah sebabnya Juragan Dendi melakukan segala macam hal, sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya harus mengabdi pada makhluk yang ia temukan.
Sampai akhirnya tulang belulang yang masih terkubur ditembok tersebut menjadi saksi peristiwa yang merenggut kehidupan dari Sumarni.
“Lalu bagaimana dengan seseorang yang ada di gubuk runtuh itu Pak?”
“Menurut cerita orang-orang di desa, pada saat itu dua orang sepasang ibu anak tiba-tiba meregang nyawa meninggalkan luka bekas gigitan dan robekan yang dalam. Dan juga kemungkinan mereka kehabisan darah, sehingga nyawa mereka tak dapat tertolong.”
Keempatnya pun menjadi terdiam membisu, saat mendengar semua cerita rahasia yang diungkapkan oleh bapak tersebut.
Namun tanpa mereka sadari dari jarak beberapa meter, sebelum di bawa ke rumah oleh Pak Sholeh.
Terdapat sesosok makhluk kecil yang tengah mengendus-endus sebuah aroma darah yang berasal dari Araxi, tentunya darah Araxi sangat langka, sehingga mampu menarik perhatian dari makhluk tersebut.
Sebelum Tuannya memberi perintah, ia hanya bisa memantau dan mengamati dari jarak jauh.
Sementara Tuannya itu tengah mengumpat, karena ia tak bisa mendengarkan semua pembicaraan yang terjadi antara tetangganya dengan keempat anak pendatang baru tersebut.
“Bersabarlah sebentar lagi dan tunggu mereka keluar dari rumah itu. Kau jalankan rencanmu, apa kau telah memilih salah satu diantara mereka pasti telah menjadi targetmu.” Gumamnya dengan menyeringai licik.
Menunggu makhluk kecil ini menjalankan aksinya, tentunya seseorang diantara mereka telah mendapat tanda, pilihannya jatuh pada Araxi yang melihat aslinya akan sedikit kaget dengan jati dirinya.
Kembali lagi di rumah sederhana milik pak Sholeh, dengan Alex yang mendadak merasakan perasaan yang sangat tak karuan terhadap Araxi.
“Begitu ya Pak!” beo keempatnya dengan kompak.
“Maka dari itu Bapak mengingatkan kalian, untuk berhati-hati dan jangan menyapa penduduk di desa ini. Karena mereka sedikit tak menyukai keberadaan orang kota yang seenaknya masuk desa ini,” ucap pak Sholeh dengan sarat penuh peringatan.
“Baik pak terima kasih, kami berempat akan berusaha untuk berhati-hati dalam bertindak,” sahut Alexa yang langsung tanggap dengan peringatan itu.
“Karena Bapak tak bisa bertindak gegabah Nak. Jadi Bapak mohon sama kalian, untuk tetap selalu bersama. Jangan sampai kalian berempat berpisah, karena sebenarnya salah satu diantara kalian sudah ditandai oleh seseorang.” Pak Sholeh pun akhirnya menjelaskan semua tentang sesosok yang telah menandai salah diantara mereka.
Mengapa dirinya bisa mengerti tentang kedatangannya ke desa ini, tak lain tujuannya untuk menolong arwah Sumarni.
“Lalu bagaimana Pak Sholeh bisa memahami tujuan kami?” tanya Alex dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Tanpa diminta Pak Sholeh pun menjelaskan tentang mereka yang mempunyai kemampuan dapat melihat hantu, begitupun dirinya pun juga bisa melihat hantu.
Apalagi Pak Sholeh bisa melihat arwah Sumarni yang hanya terdiam, setelah mendengar semua rahasia yang tertutup itu.
“Tujuan kalian ingin menolong dia kan?” tanya balik pak Sholeh. “Kalian bertiga pasti ingin bertanya kan? Mengapa Bapak bisa melihat hantu, karena Bapak sama seperti kalian yang mempunyai kemampuan. Akan tetapi Bapak selalu menyimpan ini dari siapapun, bahkan ketika sesosok makhluk kecil itu ingin melenyapkan Bapak. Ia tak pernah bisa melakukan hal itu terhadap Bapak!”
“Jadi Pak Sholeh bisa melihat arwah yang mengikuti kami begitu?”
“Benar! Akan tetapi mengapa kalian ingin sekali menguburkan tulang belulangnya?” tanya pak Sholeh dengan raut wajah yang terlihat serius.
“Benar Pak, jika kami berhasil menemukan salah satu diantara keluarganya.” Jawab Alex dengan tegas.
“Sebaiknya urungkan niat kalian!” cegah pak Sholeh dengan raut wajah yang cemas.
Kening Araxi mengerut saat melihat wajah cemas yang ada didalam diri bapak tersebut.
Entah mengapa Araxi sedikit merasa tak tenang dengan keadaan desa ini, akan tetapi ia berusaha menepiskan kemungkinan hal terjadi entah dengannya ataupun kembarannya, Araxi berusaha terlihat tenang tanpa dengan wajah dingin yang menjadi ciri khasnya.
.
.
.
.
.
.
Udah up lagi ya
Jangan lupa siapin kopi sama kembang
Buat menantikan Part selanjutnya
See you next time
Love you for all sekebon rel sepur 😘😘😘