Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Ambisi Marista Yang Ingin Membunuh Ketiga Kembar Indigo


Tanpa membantah perintah dari sang Nyonya, anak buahnya itupun melajukan mobil yang dikendarainya, untuk sampai ke tempat biasa ia dan rekannya menerima perintah dari Nyonyanya tersebut.


Beberapa jam kemudian tibalah mobil tersebut ke tempat tujuan Marista Mayang, tanpa banyak kata ia dengan tegas memberi perintah pada beberapa anak buahnya yang berada di markas tersebut.


“Baiklah apakah semuanya yang ada di sini sudah terkumpul?” tanya Marista dengan tatapan mata yang tajam. “Ingat ini dan camkan baik-baik ... Aku tak mau ada pengkhianat yang tengah memata-matai ... Jika itu terjadi maka aku tak akan segan untuk menghabisinya sendiri ... Kalian semua paham?”


Semua yang ada di markas pun kompak menjawab pertanyaan dari sang Nyonya tersebut, dengan menghela napas panjang Marista pun akhirnya menyampaikan tujuannya datang ke tempat tersebut.


“Aku ingin kalian yang ada di sini pergi ke makam untuk tiga hari ke depan, lalu ambil tulang belulang itu, dan bakarlah semua tulang hingga menjadi debu. Setelah itu buang abu itu ke dalam lautan,” titahnya dengan mata yang menyalang marah. “Jangan lupa setelah itu, kalian cari mayat yang baru meninggal untuk menggantikan tulang belulang yang aku maksud itu, jika nanti kalian mau melakukan tugas itu untukku.”


Setelah menjelaskan perihal tentang permintaannya, tanpa ragu Marista pun menunjuk beberapa orang untuk menjalani perintah dan permintaan darinya. “Kau, bawa beberapa rekanmu untuk menjalankan perintah dariku, dan juga kau harus ingat baik-baik. Lakukan perintah itu dengan baik, jangan sampai kau dan rekanmu gagal, jika itu terjadi nyawamu jadi taruhannya.”


“Baik Nyonya akan saya laksanakan perintah anda,” jawab anak buah yang ditunjuk Marista tersebut tanpa ragu.


“Lalu untukmu kau harus membantuku menyelidiki tentang kecelakaan ketiga kembar bayi sial itu.”


Seketika jantung salah satu anak buah Marista Mayang bergetar hebat, bagaimana jika sang Nyonya tersebut mengetahui bahwa tiga bayi kembar yang dulu ingin dibunuh itu ternyata masih hidup.


Apakah ia harus mengorbankan nyawanya demi sebuah janji pada Tuannya dulu? Saat ini pikirannya pun menjadi gusar, saat sang Nyonya memintanya untuk menyelidiki kecelakaan tersebut.


Tuan Kevin apa yang harus saya lakukan? Saya tak mungkin mengatakan hal kebenaran ini pada Nyonya. Maafkan kesalahan saya Tuan, semoga setelah pengorbanan saya terakhir kali demi kesetiaan ini demi anda, maka saya berharap anda mau melindungi keluarga saya. Batin anak buah tersebut dengan tekad, untuk tetap setia sampai akhir hayat pada Tuannya, yang pernah ia khianati itu.


“Bukankah anda sendiri pernah melihat mobil tersebut meledak bersama ketiga bayi kembar itu Nyonya?” tanyanya dengan raut wajah tenang, tanpa ada kegugupan yang melandanya.


Marista yang mendengarnya pun memicing mata ke arah anak buah satu-satunya, yang selama ini menemaninya terlihat sedang menyembunyikan rahasia tanpa ia tahu. Tapi sebisa mungkin ia harus bisa menahan diri, untuk tak mengintimidasi anak buahnya tersebut.


“Aku masih ragu kalau mereka semua mati terbakar bersama mobil yang dulu kau kendarai dengan rekanmu,” jawab Marista. “Untuk itulah ... Kau aku beri tugas membantuku menyelidiki tentang kecelakaan itu ... Karena aku sangat tak yakin jika mereka semua mati menyusul ibunya ... Dapatkan nyawa ketiga kembar itu kembali, baik hidup maupun mati aku tak peduli ... Karena tanganku sangat gatal ingin membunuh mereka secara langsung.”


Tak ada yang berani membantah perintah dan permintaan dari sang Nyonya, bahkan Nyonyanya tersebut tengah tertawa yang sangat menyeramkan, sehingga membuat bulu kuduk mereka menjadi merinding, dan tak berani menatap ke arah Marista Mayang.